Jelang Muktamar, Forum Aktivis NU Jatim Bahas Kriteria Kepemimpinan PBNU
Meeting Results – SURABAYA – Seiring mendekatnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian tertuju pada persiapan kepemimpinan baru di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Forum Komunikasi Aktivis NU Jawa Timur mempercepat diskusi tentang kriteria pemimpin yang dianggap mampu memimpin organisasi keagamaan ini ke era baru. Pertemuan yang berlangsung Senin (15/6) menjadi ajang untuk menyusun visi ke depan, termasuk memastikan figur yang diusung memiliki kemampuan dan integritas sesuai dengan kebutuhan NU saat ini.
Partisipasi dari Berbagai Daerah
Kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemikir NU dari Jawa Timur, seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Jember, Probolinggo, Malang, Nganjuk, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya, menunjukkan partisipasi yang luas. Mereka datang dengan latar belakang beragam, mulai dari akademisi hingga pengasuh pesantren, untuk berdiskusi tentang persyaratan kepemimpinan yang relevan dalam konteks tantangan masa kini. Diskusi ini dirancang sebagai langkah awal menghadapi pemilihan ketua umum PBNU yang akan diadakan dalam Muktamar nanti.
Dalam suasana yang penuh antusiasme, para peserta berupaya menggali karakteristik pemimpin ideal. Mereka menekankan bahwa figur yang dipilih harus mampu menjaga keutuhan tradisi NU, sekaligus menghadapi tantangan seperti perubahan sosial dan teknologi. “Kita perlu pemimpin yang tidak hanya memahami nilai-nilai keagamaan, tetapi juga bisa menyelaraskan dengan dinamika zaman modern,” ujar salah satu peserta. Hal ini menunjukkan kesadaran bahwa kepemimpinan NU tidak bisa terlepas dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Karakteristik Pemimpin yang Dicari
Salah satu pemantau utama, Prof. DT KH Muhibbin Zuhri, menyoroti pentingnya tiga sifat utama dalam kepemimpinan NU. Ia mengungkapkan bahwa KH Ahmad Siddiq, tokoh NU legendaris, pernah menyampaikan visi ini pada Muktamar di Situbondo tahun 1984. “NU harus dipimpin oleh sosok yang alim, abid, dan arif,” tegas Muhibbin dalam diskusi tersebut. Pernyataan ini mengingatkan bahwa karakteristik tersebut tetap relevan, meski di tengah perubahan yang begitu cepat.
“Saya masih ingat, saat itu Kiai Ahmad Siddiq menyampaikan bahwa NU harus dipimpin oleh sosok yang alim, abid, dan arif,”
Menurut Muhibbin, alim merujuk pada kemampuan memahami ilmu pengetahuan dan keagamaan secara mendalam. “Ini sangat penting, terutama bagi posisi Rais Aam yang memiliki otoritas keagamaan tertinggi di lingkungan NU,” imbuhnya. Sementara abid berarti semangat beribadah kepada Tuhan, yang menunjukkan konsistensi spiritual dalam keputusan kepemimpinan. Arif, di sisi lain, menggambarkan kemampuan memahami situasi dan mencari solusi yang bijaksana.
Karakteristik ini tidak hanya menjadi pedoman, tetapi juga sumber motivasi bagi calon pemimpin. Muhibbin menekankan bahwa keberhasilan organisasi tergantung pada figur yang mampu menggabungkan pemahaman intelektual, kekuatan spiritual, serta kepekaan terhadap isu-isu kontemporer. “Pemimpin NU harus menjadi penjaga tradisi, sekaligus inovator yang mampu menjawab tuntutan masyarakat,” katanya.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Pertemuan ini juga menjadi ruang untuk menggali harapan dan kekhawatiran terhadap masa depan NU. Para peserta menyebutkan bahwa tantangan utama meliputi pergeseran nilai tradisional, kompetisi dari organisasi keagamaan lain, dan kebutuhan adaptasi terhadap globalisasi. “Kita harus memastikan pemimpin mampu menjaga kemandirian NU, tidak tergantung pada faktor luar,” kata salah satu peserta. Hal ini memperkuat kebutuhan untuk memilih sosok yang memiliki kompetensi teknis dan emosional.
Muhibbin menambahkan bahwa kepemimpinan NU juga harus mencerminkan keberagaman masyarakat. “Selain kriteria alim, abid, dan arif, figur pemimpin harus mampu mengakomodasi aspirasi dari berbagai latar belakang, baik dari pesantren, akademisi, maupun komunitas muda,” ujarnya. Ia menilai, keterbukaan dan kemampuan menginspirasi menjadi faktor kunci dalam membangun solidaritas internal NU.
Diskusi tersebut juga menyoroti peran pesantren dalam membentuk kepemimpinan. Banyak peserta menyebutkan bahwa pesantren merupakan pusat keilmuan dan ketaatan yang bisa menjadi sumber daya unggul. “Kita perlu memastikan pemimpin memiliki akar yang kuat di pesantren, karena itu adalah tempat di mana nilai-nilai NU dijaga secara utuh,” papar salah satu peserta. Selain itu, peran organisasi di tingkat daerah dianggap vital dalam menyukseskan program PBNU nasional.
Langkah Strategis untuk Kepemimpinan Baru
Para peserta sepakat bahwa keputusan kepemimpinan PBNU harus diambil secara transparan dan demokratis. Mereka menyarankan adanya mekanisme pengambilan suara yang melibatkan seluruh elemen NU, termasuk akar rumput di tingkat kecamatan dan desa. “Kepemimpinan yang representatif akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap NU,” jelas Muhibbin. Ia juga menekankan bahwa kriteria yang diusulkan tidak hanya menjadi panduan, tetapi juga standar yang bisa diukur.
Sejumlah pertanyaan muncul tentang bagaimana karakteristik alim, abid, dan arif dapat diimplementasikan dalam sistem modern. Misalnya, bagaimana mengukur kealiman seorang pemimpin dalam era digital, atau bagaimana menilai kearifan di tengah keberagaman suara. Diskusi ini menghasilkan beberapa ide, seperti adanya kriteria berbasis penilaian dari dua aspek: kemampuan akademis dan kinerja praktis. “Kriteria ini bisa menjadi alat untuk membandingkan calon-calon yang muncul,” ujarnya.
Para peserta juga menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif. Mereka menilai bahwa kepemimpinan NU harus mampu menyampaikan visi dengan jelas, termasuk menyesuaikan bahasa dan metode komunikasi untuk memperluas jangkauan pengaruh. “Selain tampilan yang menarik, visi harus memiliki dasar yang kuat, baik dari sisi spiritual maupun sosial,” katanya. Kebutuhan untuk menyesuaikan dengan dunia baru ini menjadi bagian dari diskusi yang intens.
Hasil pertemuan ini diharapkan menjadi kontribusi bagi Muktamar ke-35 NU. Meski belum ada keputusan final, kriteria yang ditetapkan dianggap sebagai dasar untuk menyeleksi calon ketua umum. “Ini adalah langkah awal, tetapi hasilnya akan menjadi referensi penting,” pungkas Muhibbin. Diskusi ini juga menegaskan bahwa kepemimpinan NU tidak hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab untuk mengarahkan organisasi ke arah yang lebih baik.
Langkah-langkah yang diambil oleh Forum Aktivis NU Jatim menunjukkan komitmen untuk memastikan pemilihan kepemimpinan yang cerdas. Mereka menilai bahwa pemimpin yang ideal tidak hanya mampu menjaga identitas NU, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, kepemimpinan baru diharapkan bisa memberikan pengaruh yang lebih luas di tingkat nasional dan internasional.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News
