Banjir Surabaya Masih Berlangsung, Pemkot Terus Berupaya Percepat Penanganan
Historic Moment – Surabaya, Jawa Timur – Setelah dua hari beruntun terjadi banjir di sejumlah wilayah kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya masih fokus pada upaya penanganan. Warga yang tinggal di kawasan terdampak mengalami gangguan aktivitas sehari-hari, baik dalam beraktivitas maupun mengakses fasilitas umum. Pemkot Surabaya memperkuat respons dengan mengoperasikan lebih dari 20 unit mobil pemadam kebakaran (PMK) serta menambah jumlah personel yang dikerahkan untuk mengatasi genangan air. Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari upaya mengembalikan kondisi kota ke normal.
Pemkot Surabaya Tindak Lanjuti Upaya Penanganan
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan, intensitas hujan yang melanda kota sejak dini hari lalu tidak sesuai dengan pola musim. Meskipun Surabaya biasanya memasuki musim kemarau, hujan deras justru tiba-tiba mengguyur hampir seluruh wilayah, menyebabkan genangan air yang mengancam kenyamanan masyarakat. “Pemkot telah mengerahkan 21 mobil PMK serta sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan perangkat daerah terkait guna mempercepat evakuasi dan penanganan,” ujar Eri dalam siaran pers Selasa (23/6).
“Hujan dengan intensitas tinggi datang di luar jadwal musim, sehingga memicu banjir yang lebih parah dari biasanya.”
Kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan pariwisata ini kini menghadapi tantangan khusus. Eri menjelaskan, selain hujan deras, faktor lain seperti pekerjaan infrastruktur drainase yang sedang berlangsung menjadi penyumbang utama genangan. Proses pengerukan saluran, pemasangan box culvert, serta perbaikan rumah pompa masih dilakukan di beberapa titik, terutama di Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol, dan Rungkut. Kondisi ini memengaruhi sistem aliran air, terutama di area yang terisolasi karena saluran sementara ditutup.
Faktor Penyebab Banjir yang Menghantui Kota Pariwisata
Menurut Eri, banjir tidak hanya terjadi karena hujan, tetapi juga akibat kesalahan pada sistem drainase. Sejumlah proyek perbaikan infrastruktur yang sedang berlangsung memperumit aliran air, terutama saat hujan tiba-tiba datang. “Proses pengerjaan ini menyebabkan beberapa saluran drainase terpaksa ditutup sementara, sehingga aliran air terhambat,” katanya. Hal ini berpotensi memperparah kondisi di kawasan yang biasanya kurang terlayani.
“Dengan pekerjaan infrastruktur yang sedang berjalan, kita harus ekstra hati-hati mengantisipasi kelebihan kapasitas saluran.”
Penanganan banjir juga terkendala oleh kondisi pasang air laut. Aliran sungai menuju laut terhambat, sehingga air yang telah dipompa keluar kembali mengalir ke daratan. Eri mengatakan situasi ini memerlukan koordinasi yang lebih intensif antarinstansi, terutama dalam mengoptimalkan penggunaan rumah pompa. “Kita harus memastikan setiap titik kritis memiliki kapasitas aliran maksimal,” tegasnya.
Kawasan Terdampak Banjir dan Upaya Normalisasi
Kawasan yang paling terkena banjir antara lain Pandugo, Penjaringan, Medayu, serta Rungkut. Wilayah-wilayah ini mengalami genangan hingga satu meter, menyebabkan aksesibilitas terganggu dan beberapa rumah warga terendam. Pemkot Surabaya berupaya mempercepat evakuasi melalui mobil PMK yang dilengkapi alat pengerukan dan pompa. Selain itu, personel yang dikerahkan juga terlibat dalam distribusi logistik ke daerah terdampak.
“Kita masih menghadapi tantangan di beberapa titik, tetapi upaya penanganan terus berjalan stabil.”
Kota yang berbatasan langsung dengan laut ini juga mengalami kontribusi dari sumber air permukaan. Pasang air laut yang terjadi di sepanjang garis pantai memperumit pergerakan air, sehingga banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan, tetapi juga oleh adanya aliran tambahan dari laut. Eri menekankan bahwa upaya normalisasi akan terus dilakukan hingga genangan benar-benar surut. “Kita sedang berupaya menormalisasi aliran air secepat mungkin agar masyarakat bisa kembali beraktivitas,” ujarnya.
Kesiapan Pemkot dan Perangkat Daerah
Pemkot Surabaya juga mengkoordinasikan seluruh perangkat daerah dalam upaya mengatasi banjir. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan alat berat dan sumber daya manusia. Selain itu, pihak terkait juga melakukan pemeriksaan terhadap bangunan dan infrastruktur di kawasan yang rawan banjir. “Kita perlu memastikan tidak hanya genangan surut, tetapi juga kesiapan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang,” tambah Eri.
“Dengan memperkuat koordinasi, kita bisa mengurangi risiko banjir yang terjadi secara tidak terduga.”
Menurut data dari Dinas PUPR, ada sejumlah titik kritis yang membutuhkan perbaikan lebih lanjut. Proses pengerukan saluran drainase masih berlangsung, dan beberapa jalan di kawasan terdampak ditutup sementara untuk memudahkan operasi pembersihan. Eri berharap upaya ini bisa membantu mengurangi dampak banjir dan mempercepat pemulihan kondisi kota. “Kita sedang fokus pada tiga hal utama: penanganan darurat, normalisasi aliran air, dan evaluasi sistem drainase,” katanya.
Respons Masyarakat dan Antisipasi untuk Masa Depan
Selama banjir berlangsung, warga Surabaya menunjukkan respons aktif. Beberapa mengunggah foto genangan di media sosial, sementara lainnya membantu pemerintah dalam evakuasi. Eri mengapresiasi partisipasi masyarakat, tetapi menegaskan bahwa tanggung jawab utama masih ada di pemerintah. “Kami berharap masyarakat tetap waspada dan tidak menunda aksi jika terjadi genangan di sekitar rumah,” ujarnya.
“Kerja sama antara pemerintah dan warga sangat penting untuk menghadapi tantangan seperti ini.”
Pemkot Surabaya juga berencana meningkatkan kesiapan darurat melalui pelatihan dan simulasi bencana. Selain itu, program pengelolaan air permukaan akan diperluas, terutama di kawasan yang rawan. Eri menegaskan bahwa tidak ada keputusan cepat yang bisa dilakukan tanpa evaluasi menyeluruh. “Kita perlu melihat akar masalah, bukan hanya gejala permukaan,” kata Eri. Upaya ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.
Dengan keberhasilan penanganan banjir yang berkelanjutan, Surabaya berharap bisa kembali stabil dan menghadapi musim kemarau dengan lebih baik. Pemkot terus memantau kondisi dan siap memberikan bantuan jika diperlukan. Meskipun situasi belum sepenuhnya normal, upaya yang dilakukan menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengatasi krisis ini dengan sebaik mungkin.
