Latest Program: Tren “hidup seperti warga lokal” tingkatkan daya tarik wisata China

Tren “hidup seperti warga lokal” tingkatkan daya tarik wisata China

Latest Program – Dengan dimulainya liburan Hari Buruh, atau May Day, selama lima hari, minat wisatawan internasional terhadap destinasi China semakin berkembang. Tren ini tidak hanya mencakup kunjungan ke tempat-tempat ikonik seperti Tembok Besar atau berbelanja di pusat perbelanjaan modern, tetapi juga melibatkan pengalaman mendalam mengenai kehidupan sehari-hari penduduk lokal. Aktivitas seperti pemandian 24 jam, pengobatan tradisional Tiongkok (TCM), serta menikmati hotpot larut malam sambil mengenakan piyama di spa kota menjadi bagian dari daya tarik baru yang membangun minat wisatawan global.

Kebijakan fasilitasi yang diumumkan oleh pemerintah Tiongkok turut memperkuat tren ini. Negara-negara mitra dari Sabuk dan Jalur Sutra serta wilayah Global South kini lebih aktif mengunjungi Tiongkok, menurut pernyataan Dai Bin, presiden Akademi Pariwisata Tiongkok. “Kunjungan wisatawan tidak hanya terbatas pada objek wisata utama, tetapi mulai mencakup pengalaman kehidupan lokal yang lebih autentik,” jelas Dai. Ia menekankan bahwa pariwisata internasional semakin memprioritaskan interaksi langsung dengan budaya dan kebiasaan penduduk Tiongkok.

“Menjadi warga Tiongkok” telah menjadi istilah populer di media sosial internasional,” kata Dai dalam wawancara terbarunya dengan Xinhua. Ia menyoroti bahwa peningkatan jumlah pengunjung berkelanjutan menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara wisatawan memandang Tiongkok sebagai destinasi. Dengan kemudahan akses seperti visa bebas dan perjanjian transit bebas visa, wisatawan dari 55 negara kini bisa tinggal lebih lama dan menjelajah kota-kota yang tidak hanya metropolitan, tetapi juga memiliki ciri khas unik.

Statistik dari Administrasi Imigrasi Nasional Tiongkok menunjukkan bahwa jumlah pengunjung asing dan keberangkatan ke luar negeri meningkat secara signifikan selama liburan tersebut. Arus penumpang tercatat mencapai rata-rata 2,25 juta per hari, dengan puncaknya melebihi 2,4 juta dalam satu hari tertentu. Angka ini mencerminkan peningkatan yang stabil dalam pariwisata internasional, dengan keberhasilan mencapai 34 persen pertumbuhan tahunan (yoy) untuk jumlah kedatangan warga asing di Beijing sendiri.

READ  Meeting Results: IDAI ikuti proses hukum untuk sanksi daycare yang menelantarkan anak

Perkembangan ini juga didukung oleh kebijakan terkini pemerintah, seperti pengembangan skema bebas bea masuk dan pengembalian pajak, serta peningkatan kemudahan pembayaran digital di berbagai wilayah. “Pariwisata adalah tentang mengeksplorasi kehidupan indah di tempat yang jauh dari rumah, baik dinikmati oleh penduduk lokal maupun pengunjung,” tambah Dai. Ia berharap ke depan, lebih banyak wisatawan internasional bisa merasakan pesona budaya Tiongkok dan kehidupan sehari-harinya, bukan hanya keindahan alam seperti pegunungan dan sungai.

Selain itu, minat terhadap pengalaman lokal juga terlihat dari tren yang viral di platform seperti TikTok dan YouTube. Pemandian 24 jam Tiongkok, yang dikenal sebagai “spa ala Tiongkok,” menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan pengguna global. “Wisatawan mulai mencari sensasi yang lebih mendalam, bukan sekadar melihat atau membeli,” ujar Dai. Dengan kebijakan yang memudahkan pengunjung, Tiongkok kini menjadi tempat yang menawarkan pengalaman memori tak terlupakan.

Pengaruh Pariwisata Global

Dalam konteks internasional, Tiongkok semakin dikenal sebagai destinasi yang menarik untuk ekspansi budaya dan interaksi sosial. Contoh nyata terlihat dari Australia, yang menjadi salah satu pasar utama untuk pariwisata Tiongkok. Brisbane Times melaporkan bahwa jumlah wisatawan Australia yang mengunjungi Tiongkok meningkat sekitar 16 persen dalam 12 bulan terakhir, mencapai lebih dari 700.000 orang. Dalam sebuah wawancara, Simon Bell dari Wendy Wu Tours Australia mengatakan bahwa permintaan ke Tiongkok melonjak 90 persen (yoy), menunjukkan apresiasi yang tumbuh terhadap pengalaman wisata yang lebih bermakna.

“Warga Australia kini lebih ingin menjelajah secara mendalam, bukan hanya permukaan. Mereka mencari pengalaman yang menggabungkan budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari di Tiongkok,” ungkap Bell. Dengan peningkatan minat ini, Tiongkok menempati posisi kelima sebagai tujuan wisata terpopuler bagi turis Australia, memperkuat peran negara ini dalam perekonomian global.

Bloomberg mencatat bahwa pertumbuhan sektor pariwisata Tiongkok mencapai 9,9 persen tahun lalu, melebihi rata-rata pertumbuhan global yang tercatat. Kenaikan lebih dari 10 persen dalam pengeluaran wisatawan asing pada tahun 2025 turut menjadi pendorong utama. “Tiongkok bisa menjadi ekonomi pariwisata terbesar di dunia pada akhir dasawarsa ini,” prediksi Gloria Guevara, Presiden dan CEO World Travel & Tourism Council (WTTC), dalam laporan yang dikutip Bloomberg.

READ  Meeting Results: Pemerintah siapkan opsi dalam mengajukan seni ukir ke UNESCO

Dai Bin menyoroti bahwa keberhasilan tren ini tidak hanya terletak pada objek wisata, tetapi juga pada kegiatan sehari-hari yang disediakan bagi pengunjung. “Jika wisatawan bisa merasakan kehidupan lokal, mereka akan lebih tertarik untuk kembali dan mengeksplorasi hal-hal baru,” jelasnya. Kebijakan visa yang diperluas—termasuk akses bebas visa ke 50 negara dan perpanjangan perjanjian timbal balik ke 29 negara—juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan daya tarik Tiongkok.

Kebijakan transit bebas visa selama 240 jam bagi warga dari 55 negara memungkinkan pengunjung menjelajah lebih jauh, sementara layanan pembayaran yang lebih mudah dan pelayanan wisata yang terintegrasi memberikan kenyamanan tambahan. “Semua faktor ini membentuk ekosistem pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tegas Dai. Ia optimistis bahwa rencana penguatan sektor pariwisata untuk periode 2026–2030 akan mengakselerasi pertumbuhan ini.

Dengan tren “hidup seperti warga lokal” yang