Meeting Results: BI NTT gandeng Dee Lestari kembangkan literasi daerah

BI NTT Bekerja Sama dengan Dee Lestari untuk Meningkatkan Literasi Daerah

Meeting Results – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadakan kerja sama dengan novelis Dewi Lestari, yang lebih dikenal sebagai Dee Lestari, dalam upaya mendorong literasi di wilayah lokal. Acara tersebut, yang berlangsung di Kota Kupang, menyajikan berbagai aktivitas seperti bedah buku dan bertujuan untuk memperingati Hari Buku Sedunia 2026. Rio Khasananda, Deputi Kepala Perwakilan BI NTT, menjelaskan bahwa tema acara “Connected by Literacy: Building Future-Ready Communities” menggambarkan literasi sebagai alat yang menghubungkan masyarakat dengan masa depan yang lebih efisien, adaptif, dan berdaya saing.

Upaya Membangun Budaya Literasi yang Berkelanjutan

Kegiatan ini disengaja sebagai kesempatan untuk memperkuat kebiasaan membaca dan membentuk lingkungan belajar yang lebih dinamis. “Kami percaya bahwa membangun generasi muda tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu adanya kolaborasi dari semua pihak, seperti pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, hingga anak muda, agar tercipta ekosistem literasi yang hidup, inklusif, dan terus berkembang,” ujar Rio. Menurutnya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung pertumbuhan intelektual serta sosial.

“Tema ini mengandung makna bahwa literasi adalah jembatan yang menghubungkan masyarakat menuju masa depan yang efisien, adaptif, dan berdaya saing.”

Pelaksanaan Kegiatan yang Edukatif dan Kreatif

Dalam rangka menciptakan pengalaman yang lebih menarik, acara ini dirancang dengan berbagai elemen yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif. Rio menyebutkan bahwa lomba-lomba seperti mewarnai, mendongeng, pidato, dan menulis menjadi sarana untuk membangun keberanian berekspresi serta merangsang rasa ingin tahu generasi muda. “Kami berharap melalui aktivitas ini, anak muda bisa mengembangkan kecintaan terhadap literasi sejak dini, sambil mengekspresikan ide dan kreativitas mereka,” tambahnya.

READ  Special Plan: ANTARA dan Diskominfosantik Sulteng diseminasikan program pemerintah

Komitmen BI dalam Membentuk Generasi yang Berkualitas

Selain kegiatan bedah buku, BI NTT juga menggelar program bantuan pendidikan yang memberikan dukungan kepada 270 mahasiswa di NTT. Rio menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung pertumbuhan intelektual dan keterampilan sosial. “Kami ingin memastikan bahwa generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tantangan dunia modern dan memiliki semangat untuk berkontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.

Donasi Buku dan LITERAMOVE sebagai Alat Pemecah Isolasi Literasi

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, acara juga melibatkan penyerahan 1.000 buku bacaan kepada Taman Baca dan Komunitas Buku NTT. Selain itu, program Mobil Literasi Keliling (LITERAMOVE) dilaunching sebagai inisiatif untuk mengaksesi daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh layanan pendidikan formal. “Mobil ini akan menjadi tempat berbagi pengetahuan dan kegiatan edukasi yang bisa diakses oleh masyarakat dari segala lapisan,” papar Rio.

Peran Dee Lestari dalam Memperkaya Literasi Lokal

Dee Lestari, yang terkenal dengan karya-karyanya yang menyentuh, terlibat aktif dalam sesi bedah buku. Penulis inspiratif ini diharapkan dapat membangun koneksi emosional antara generasi muda dengan literasi melalui kisah-kisah yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan eksplorasi identitas diri. “Kami percaya bahwa karya-karya Dee bisa menjadi pelengkap dalam menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

“Pada sesi bedah buku bersama Dee Lestari, penulis inspiratif Indonesia yang karya-karyanya banyak mengangkat nilai kemanusiaan dan pencarian jati diri, diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk semakin mencintai literasi serta berani mengekspresikan gagasan melalui tulisan maupun karya lainnya.”

Buku “Selaras” sebagai Simbol Keterhubungan Literasi

Dalam sesi tersebut, buku berjudul “Selaras” yang dikarang oleh kolaborasi Reza Gunawan dan Dee Lestari menjadi pusat pembahasan. Buku ini dianggap sebagai representasi bagaimana literasi bisa menyatukan berbagai latar belakang dan kebutuhan masyarakat. “Buku ini menyajikan narasi yang menggambarkan keterlibatan masyarakat dalam proses belajar dan mengajar, serta bagaimana literasi bisa menjadi alat untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis,” kata Rio.

READ  Latest Program: Revitalisasi libatkan masyarakat percepat perubahan sekolah Gorontalo

Langkah Strategis untuk Membangun Ekosistem Literasi

Rio menyebutkan bahwa kolaborasi antara BI NTT dan Dee Lestari merupakan langkah strategis dalam memastikan literasi daerah terus berkembang. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif dari berbagai pihak, baik pemerintah, sekolah, maupun komunitas. “Kami ingin menumbuhkan semangat belajar yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang publik dan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Kelancaran Kegiatan dalam Rangka Menghadapi Tantangan Global

Dalam konteks dunia yang semakin kompleks, literasi menjadi kunci untuk membuka wawasan dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan. “Dengan menanamkan nilai-nilai literasi sejak dini, anak muda bisa lebih siap dalam memahami isu-isu global dan menjawab tantangan masa depan,” ujar Rio. Ia juga menyoroti pentingnya literasi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi, teknologi, dan lingkungan.

Komitmen Terhadap Literasi di Tingkat Daerah

Kegiatan yang diadakan BI NTT menunjukkan bahwa literasi bukan hanya urusan nasional, tetapi juga penting di tingkat lokal. Dengan melibatkan tokoh-tokoh lokal seperti Dee Lestari, program ini diharapkan bisa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa literasi daerah perlu ditemani oleh pemikir dan seniman yang bisa menghubungkan antara karya dan kehidupan sehari-hari,” lanjut Rio.

Perkembangan Literasi dan Harapan untuk Masa Depan

Menghadapi tantangan