Latest Program: Revitalisasi libatkan masyarakat percepat perubahan sekolah Gorontalo
Revitalisasi Libatkan Masyarakat Percepat Perubahan Sekolah Gorontalo
Latest Program – Dari Jakarta, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam revitalisasi satuan pendidikan berperan penting dalam mempercepat transformasi sistem pendidikan di Gorontalo. Program ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur sekolah, seperti bangunan yang lebih nyaman dan menarik, tetapi juga menciptakan kolaborasi antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitar. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam pernyataan tertulis Rabu lalu, meresmikan revitalisasi 30 satuan pendidikan yang mencakup berbagai jenjang, mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan mengatasi tantangan utama dalam dunia pendidikan, yakni kondisi sarana dan prasarana yang masih kurang memadai.
Atip menekankan bahwa selama ini banyak institusi pendidikan terlihat stagnan, dengan masalah seperti cat yang sudah memudar, atap yang bocor, toilet yang berbau, hingga ruang belajar yang tidak layak. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa revitalisasi dilakukan secara bertahap dan masif untuk mengubah kondisi tersebut. “Dengan pendekatan yang lebih dinamis, kami berupaya mewujudkan lingkungan belajar yang lebih baik,” ujarnya. Program ini juga diperkenalkan sebagai bagian dari prioritas nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam agenda pembangunan sumber daya manusia.
Partisipasi Masyarakat dan Pengelolaan Lokal
Menurut Atip, keberhasilan revitalisasi tidak hanya bergantung pada perbaikan fisik, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat dan ekonomi lokal. Dalam skema swakelola, sekolah diberikan peran langsung dalam mengelola proses perbaikan. Kepala sekolah menjadi pihak utama yang bertanggung jawab, sementara masyarakat sekitar terlibat dalam pengadaan material hingga pengerjaan fisik. Pendekatan ini, menurutnya, tidak hanya mempercepat progres, tetapi juga membangun rasa memiliki di kalangan warga sekitar.
“Ketika sekolah dan masyarakat bekerja sama, ada tanggung jawab bersama untuk menjaga hasilnya,” kata Atip. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini menghasilkan keterlibatan yang lebih intensif, sehingga mendorong keberlanjutan perubahan. Dengan melibatkan komunitas lokal, program revitalisasi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya ekonomi setempat, seperti tenaga kerja atau bahan baku yang dapat didapatkan dari sekitar.
Program revitalisasi sekolah di Gorontalo juga menyasar wilayah yang dianggap sebagai kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah yang membutuhkan perhatian khusus. Kebutuhan ini didorong oleh kondisi masyarakat yang masih terbatas akses dan fasilitas pendidikan. “Dengan fokus pada wilayah yang kurang mendapat perhatian, kita bisa memastikan peningkatan kualitas pendidikan secara merata,” ujarnya. Kemendikdasmen menargetkan ribuan satuan pendidikan akan diperbaiki hingga 2026, dengan dukungan tambahan yang terus dikembangkan.
Strategi Revitalisasi yang Berbeda
Atip menegaskan bahwa perbedaan utama antara program revitalisasi saat ini dengan sebelumnya terletak pada pendekatan pelaksanaannya. Selama ini, pembangunan pendidikan sering kali hanya dilakukan secara top-down, tetapi kali ini sekolah dianggap sebagai pusat pengambilan keputusan. Ia menjelaskan bahwa selain memperbaiki fasilitas, program ini juga meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan melalui partisipasi aktif masyarakat. “Ini bukan hanya perbaikan fisik, tetapi juga pengembangan kelembagaan yang lebih kuat,” tambahnya.
Dalam konteks ini, pemerintah memberikan kepercayaan kepada kepala sekolah dan masyarakat untuk menentukan kebutuhan dan prioritas perbaikan. Keterlibatan masyarakat sejak awal diharapkan bisa mempercepat proses, karena mereka lebih memahami kondisi setempat. Atip juga menyebutkan bahwa pendekatan ini berdampak positif pada kesadaran kolektif, sehingga masyarakat lebih antusias dalam mendukung perkembangan pendidikan. “Dengan melibatkan masyarakat, kita bisa menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan layak,” ujarnya.
Revitalisasi di Gorontalo tidak hanya terbatas pada perbaikan fisik. Selain itu, program ini juga memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat, menjadikannya sebagai mitra dalam pembangunan. Dalam beberapa kasus, masyarakat turut serta dalam memproduksi bahan baku, seperti batu bata atau kayu, yang mendukung perekonomian lokal. Keberhasilan program ini juga diukur dari peningkatan kualitas belajar, kepuasan siswa, dan keterlibatan orang tua.
Target dan Dukungan untuk Perubahan
Atip menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya memberikan dukungan tambahan, baik dalam bentuk dana maupun kebijakan, untuk memastikan target revitalisasi tercapai. Ia mengungkapkan bahwa melibatkan masyarakat bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pelaku utama. “Masyarakat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penerima manfaat,” jelasnya. Dengan model ini, diharapkan sekolah bisa menjadi pusat perubahan yang efektif.
Dalam wawancara, Atip menyebutkan bahwa pelibatan masyarakat juga membuka ruang bagi partisipasi publik. Orang awam dianjurkan untuk melaporkan kondisi sekolah yang rusak atau belum tersentuh program, serta berkontribusi dalam peningkatan fasilitas tambahan. “Keterlibatan masyarakat memberikan perspektif baru dalam memperbaiki sistem pendidikan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keterlibatan ini akan menciptakan keberlanjutan, karena masyarakat lebih berkomitmen untuk menjaga hasil revitalisasi.
Program revitalisasi sekolah di Gorontalo merupakan salah satu langkah konkret dalam mengatasi ketimpangan akses pendidikan. Dengan menggandeng masyarakat, pemerintah ingin menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, sekaligus membangun kepercayaan dan kemitraan. Atip berharap dengan pendekatan ini, sektor pendidikan dapat berkembang secara lebih cepat dan berkelanjutan. “Kita tidak hanya membangun bangunan, tetapi juga membangun masa depan generasi muda,” tutupnya.
