Jatim Terkini

Dulu Dipenuhi Gabus dan Wader – Kini Ikan Kali Tebu Surabaya Terancam Mikroplastik

abus dan Wader, Kini Ikan Kali Tebu Surabaya Terancam Mikroplastik Dulu Dipenuhi Gabus dan Wader - Kali Tebu, salah satu sungai utama di Surabaya, kini

Desk Jatim Terkini
Published Juni 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Dulu Dipenuhi Gabus dan Wader, Kini Ikan Kali Tebu Surabaya Terancam Mikroplastik

Dulu Dipenuhi Gabus dan Wader – Kali Tebu, salah satu sungai utama di Surabaya, kini menjadi fokus perhatian para penggiat lingkungan. Meski dalam dua bulan terakhir berhasil membersihkan lebih dari 27 ton sampah, ancaman pencemaran mikroplastik masih mengintai kehidupan ikan-ikan yang hidup di perairan tersebut. Masalah ini mengemuka setelah sejumlah organisasi lingkungan menggelar aksi kampanye, Rabu (24/6), yang menyoroti dampak serius sampah plastik terhadap ekosistem sungai.

Aksi Kampanye yang Dilakukan

Para aktivis dari Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKASMSI), River Warriors, serta Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) turut serta mengingatkan bahwa permasalahan sampah plastik tidak berakhir ketika tumpukan sampah berhasil dibersihkan. Mereka menekankan bahwa plastik yang hancur menjadi partikel kecil—dikenal sebagai mikroplastik—justru berpotensi memasuki rantai makanan melalui tubuh ikan, mengganggu kesehatan ekosistem dan kualitas air.

Proses Pembersihan Sampah

Dalam periode Mei hingga Juni 2026, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 27 ton. Dari jumlah tersebut, 11,5 ton diambil oleh Tim MOZAIK yang dibentuk Ecoton, sementara 16 ton lainnya berasal dari operasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya dan petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran. Meski upaya pembersihan ini mengurangi volume sampah, para peneliti tetap mengingatkan bahwa penanganan mikroplastik perlu dilakukan secara lebih mendalam.

“Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan sedimen, tetapi juga masuk ke tubuh ikan melalui makanan yang mereka konsumsi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan organisme perairan dan menurunkan kualitas ekosistem sungai,” kata Alaika Rahmatullah, peneliti lingkungan dari Ecoton.

Ketergantungan pada Ekosistem Sungai

Kali Tebu dulu dikenal sebagai tempat tinggal berbagai jenis ikan lokal, termasuk gabus, wader, bader, keting, hingga belida Jawa. Namun, tekanan dari urbanisasi, limbah domestik, sedimentasi, dan sampah plastik telah mengubah habitat ini secara drastis. Menurut Alaika, mikroplastik menjadi ancaman serius bagi kehidupan biota air, karena partikel kecil tersebut sulit dihilangkan dan terus menumpuk di dasar sungai.

Kebiasaan masyarakat modern yang semakin mengandalkan produk plastik, baik dalam kebutuhan sehari-hari maupun pengemasan, memperparah masalah ini. Sampah plastik yang masuk ke sungai tidak hanya mengubur keindahan alam, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem. Selain itu, mikroplastik dapat diserap oleh ikan dan hewan air, kemudian menyebar ke hewan pemakan ikan, serta akhirnya berdampak pada manusia yang mengonsumsi ikan tersebut.

Suara Masyarakat dan Perubahan Iklim

Perubahan besar pada Kali Tebu juga terdengar dari penghuni bantaran sungai sejak era 1970-an. Cerita warga yang telah mengalami pergeseran kondisi alam perairan menggambarkan betapa parahnya dampak aktivitas manusia. Mereka menyebut bahwa sungai yang dulu jernih dan penuh kehidupan kini semakin berdebu, dengan plastik yang menempel di permukaan air dan bahkan mengendap di dasar sungai.

Menurut para aktivis, penyebab utama mikroplastik berasal dari limbah rumah tangga yang tidak terolah dengan baik. Produk seperti kantong plastik, gelas, dan kemasan makanan kerap memasuki saluran drainase, kemudian mengalir ke sungai. Banyak ikan kecil yang terjebak di sisa-sisa plastik, terutama saat air sungai tergenang atau aliranannya redup. Proses ini mengurangi keberagaman spesies dan menurunkan kualitas air secara signifikan.

Perspektif Masa Depan

Aksi kampanye Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu menjadi momentum untuk menegaskan urgensi pengelolaan sampah plastik. Para peserta aksi menyuarakan bahwa solusi jangka panjang memerlukan kebijakan yang mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak lingkungan. Dalam perjalanan waktu, Kali Tebu telah kehilangan banyak ciri khasnya, termasuk keberadaan ikan-ikan yang sebelumnya menjadi kehidupan utama di sepanjang tepi air.

Mikroplastik, yang sekarang menjadi penyumbang utama kualitas air buruk, terus menimbulkan risiko terhadap kehidupan perairan. Selain mengganggu ikan, partikel plastik kecil ini juga berpotensi menyebabkan keracunan pada hewan-hewan air lainnya, seperti kerang dan udang, yang menjadi sumber makanan bagi manusia. Pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi untuk memastikan sungai tidak hanya bersih secara visual, tetapi juga aman untuk ekosistem dan kebutuhan hidup warga sekitar.

Para pengamat lingkungan menilai bahwa perubahan Kali Tebu adalah cerminan dari kondisi sungai-sungai lain di kota besar Indonesia. Jika tidak segera diperbaiki, risiko pencemaran mikroplastik akan semakin tinggi, mengancam keberlanjutan sumber daya air dan kehidupan ikan yang kini semakin langka. Kali Tebu, yang dulu menjadi tempat ekosistem sehat, kini membutuhkan perhatian khusus agar tidak hilang sepenuhnya dari peta lingkungan Surabaya.

Sebagai langkah awal, aksi kampanye ini diharapkan mendorong perubahan pola pengelolaan sampah di daerah pesisir utara Surabaya. Dengan melibatkan komunitas lokal, pemerintah, dan organisasi lingkungan, upaya pengurangan plastik

Leave a Comment