BPS: NTT alami inflasi 2,62 persen pada April 2026

BPS: NTT Alami Inflasi 2,62 Persen pada April 2026

BPS – Kupang, NTT (ANTARA) – Dalam laporan terbaru yang dirilis, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan April 2026 mencapai 2,62 persen. Angka ini tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 110,89. Inflasi tahunan ini menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya, Maret 2026, yang tercatat sebesar 2,40 persen.

Analisis Faktor Penyebab Inflasi

Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan bahwa inflasi April 2026 dipicu oleh kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran yang diukur. Kelompok pengeluaran dengan kontribusi tertinggi terhadap inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mengalami kenaikan sebesar 1,01 persen. Diikuti oleh kelompok makanan, minuman, serta tembakau dengan kontribusi 0,88 persen.

“Inflasi tahunan pada April 2026 mencapai 2,62 persen, naik dari 2,40 persen di bulan sebelumnya,” kata Matamira B. Kale, saat memberikan pernyataan di Kupang, Senin.

Matamira menambahkan, kelompok pendidikan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami deflasi. Tren ini berdampak negatif sebesar 2,6 persen, menunjukkan penurunan harga di bidang ini. Selain itu, beberapa komoditas tertentu berperan dalam memperlambat laju inflasi. Misalnya, ikan tembang menyumbang penurunan sebesar 0,14 persen, sementara biaya pendidikan sekolah menengah atas turun 0,01 persen. Bawang putih dan pisang masing-masing berkontribusi sebesar 0,05 persen dan 0,04 persen, serta sawi hijau juga menghambat inflasi sebesar 0,04 persen.

READ  Main Agenda: Purbaya sebut dana stabilisasi obligasi bisa libatkan SMV Kemenkeu

Komoditas Utama yang Memengaruhi Inflasi

Dalam menyebutkan faktor utama yang mendorong inflasi, Matamira menyatakan bahwa emas perhiasan menjadi komoditas paling berpengaruh, dengan kontribusi sebesar 0,87 persen. Diikuti oleh angkutan udara yang berkontribusi 0,35 persen. Selain itu, daging ayam ras, cabai rawit, dan bahan bakar rumah tangga juga turut berperan dalam meningkatkan inflasi.

Berdasarkan analisis BPS, beberapa komoditas seperti ikan tembang, biaya pendidikan sekolah menengah atas, bawang putih, pisang, dan sawi hijau menjadi penstabil inflasi. Kenaikan harga pada komoditas-komoditas tersebut berdampak negatif, sehingga mengurangi tekanan inflasi secara keseluruhan.

Fluktuasi Inflasi Bulanan dan Tahun Kalender

Dalam analisis bulanan (month-to-month), NTT mencatat inflasi sebesar 0,43 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga April 2026 mencapai 1,79 persen. Matamira menjelaskan bahwa dalam periode ini, harga bergerak naik di 9 dari 11 kelompok pengeluaran. “Komoditas utama yang mendorong inflasi bulanan antara lain cabai rawit, angkutan udara, tomat, bahan bakar rumah tangga, dan telepon seluler,” tambahnya.

Kenaikan harga pada komoditas-komoditas tersebut memberi tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama pada sektor konsumsi yang paling rentan terhadap fluktuasi harga. Namun, deflasi pada kelompok pendidikan menunjukkan adanya stabilisasi di sektor tertentu, meskipun tingkat inflasi secara keseluruhan masih berada di atas angka sebelumnya.

Perbandingan Inflasi di Wilayah NTT

Berdasarkan data regional, inflasi terbesar terjadi di Kota Waingapu dengan angka 3,49 persen, sedangkan Kota Ngada mencatatkan inflasi terendah dengan 2,03 persen. IHK di Waingapu mencapai 112,91, sementara di Ngada hanya 110,38. Perbedaan ini mencerminkan variasi kebutuhan dan kondisi ekonomi di berbagai daerah.

Matamira mengungkapkan bahwa tingkat inflasi yang berbeda di berbagai kabupaten/kota memperlihatkan dampak regional dari perubahan harga komoditas. Kota-kota yang mengalami inflasi tinggi seperti Waingapu mengalami tekanan lebih besar terhadap pengeluaran warganya, sementara wilayah dengan inflasi rendah memiliki stabilitas harga yang lebih baik.

READ  New Policy: BEI awasi Telkom terkait perkembangan investigasi regulator AS

Konteks dan Dampak Inflasi Tahunan

Fluktuasi inflasi di NTT pada April 2026 berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di sektor konsumsi. Kelompok pengeluaran seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencakup layanan kesehatan, kebutuhan pribadi, serta aktivitas rekreasi, menjadi area utama yang mengalami kenaikan harga. Hal ini mengindikasikan bahwa biaya layanan non-pangan semakin meningkat, yang berpotensi mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Di sisi lain, deflasi pada kelompok pendidikan menunjukkan bahwa biaya pendidikan di sejumlah daerah mengalami penurunan. Meski begitu, inflasi yang masih berada di kisaran 2,62 persen perlu dipantau lebih lanjut, terutama mengingat tingkat kenaikan harga pada beberapa komoditas inti seperti bahan bakar dan pangan.

Strategi Pemantauan dan Respon Ekonomi

Pemantauan inflasi oleh BPS menjadi penting untuk memberi gambaran akurat tentang dinamika ekonomi daerah. Angka inflasi yang diumumkan ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi, seperti subsidi atau regulasi harga untuk komoditas kritis. Matamira menekankan bahwa data IHK memberikan wawasan penting tentang pergerakan harga dalam masyarakat.

Dengan tingkat inflasi yang meningkat, pemerintah NTT perlu memperkuat upaya pengendalian inflasi, terutama di sektor yang paling rentan seperti bahan bakar dan pangan. Di samping itu, perlu ada kebijakan yang mendukung peningkatan daya beli masyarakat, terutama di daerah dengan tingkat inflasi lebih tinggi seperti Waingapu.

Inflasi di