BPS catat ekspor di Papua masih bertumpu pada komoditas kayu

BPS: Ekspor Papua Masih Berfokus pada Komoditas Kayu

BPS catat ekspor di Papua masih – Jayapura, 1 Mei 2026 – Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua menunjukkan bahwa struktur ekspor wilayah tersebut pada Maret 2026 masih dominan didominasi oleh komoditas nonminyak bumi, terutama barang dari sektor kayu dan produk kayu (HS44). Angka tersebut mencatat nilai ekspor sebesar 3.151,11 ribu dolar AS, yang setara dengan Rp54,84 juta. Emi Puspitarini, Kepala Bagian Umum BPS Papua, mengungkapkan dalam wawancara di Jayapura, Senin, bahwa komoditas kayu tetap menjadi penentu utama dalam performa ekspor Papua. Hal ini menegaskan bahwa sektor kehutanan masih memiliki daya saing signifikan di pasar global.

Kontribusi Ekspor Nonmigas Dominan

Dalam pernyataannya, Emi menjelaskan bahwa kontribusi ekspor nonminyak bumi terhadap total ekspor Papua mencapai 99,98 persen. Sebaliknya, sektor migas hanya menyumbang 0,55 ribu dolar AS, yang menunjukkan peran sektor ini masih jauh lebih kecil dibandingkan komoditas lain. “Kemajuan ekspor nonmigas membuktikan bahwa produk kayu dan olahannya masih menjadi pilar utama dalam perdagangan luar negeri Papua,” tuturnya. Angka ini juga memperlihatkan bahwa ekspor migas belum bisa menjadi bagian penting dari perekonomian daerah tersebut.

“Kemudian pasar utama ekspor ada juga dikirim ke Selandia Baru sebesar 444,71 ribu dolar AS dan Papua Nugini sebesar 387,01 ribu dolar AS,” katanya.

Penurunan Ekspor Bulan ke Bulan

Dalam laporan bulanan, total nilai ekspor Papua pada Maret 2026 mencatatkan angka sebesar 3.550,09 ribu dolar AS. Namun, nilai ini mengalami penurunan signifikan, yaitu 47,38 persen dibandingkan bulan Februari 2026 yang mencapai 6.747,27 ribu dolar AS. “Penurunan tersebut mencerminkan fluktuasi pasar global yang memengaruhi permintaan terhadap barang ekspor Papua,” ujarnya. Meski demikian, sektor kayu tetap menjadi penggerak utama, dengan nilai ekspor hampir mencapai 3.151,11 ribu dolar AS.

READ  New Policy: Ekonom: Kebijakan bunga KUR perlu pertimbangkan ketepatan sasaran

Pelabuhan Jayapura vs. Pelabuhan Luar Daerah

Emi menyoroti bahwa dari sisi tujuan, tiga negara utama menerima ekspor Papua, yaitu Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini. Nilai ekspor ke Australia tercatat mencapai 2.457,90 ribu dolar AS, atau sekitar 69,23 persen dari total ekspor. “Sementara itu, ekspor ke Selandia Baru dan Papua Nugini masing-masing mencapai 444,71 ribu dolar AS dan 387,01 ribu dolar AS,” tambahnya. Dari segi pelabuhan, Jayapura tetap menjadi titik utama pemuatan barang ekspor, terutama untuk pengiriman ke negara-negara tetangga. Namun, sebagian besar komoditas ekspor Papua justru dimuat melalui pelabuhan luar provinsi, seperti Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, yang mencatatkan nilai pemuatan sebesar 3.162,18 ribu dolar AS.

“Hal ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan pada infrastruktur logistik di luar Papua,” ujarnya.

Perkembangan Ekspor Tahunan

Secara kumulatif, total ekspor Papua dari Januari hingga Maret 2026 mencapai 14.629,63 ribu dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7,78 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu Januari-Maret 2025. “Meski ada penurunan, ekspor Papua tetap menjadi sumber pendapatan utama daerah,” kata Emi. Penurunan jumlah tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perubahan permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, atau dinamika harga internasional.

Pola Ekspor dan Potensi Pengembangan

Pola ekspor Papua pada Maret 2026 menunjukkan dominasi komoditas kayu dan produk kayu dalam volume yang signifikan. Meski sektor migas memiliki kontribusi kecil, potensi pengembangannya masih terbuka. “Saya berharap ada diversifikasi ekspor yang lebih luas, sehingga Papua tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas,” kata Emi. Selain itu, dia menekankan pentingnya penguatan infrastruktur logistik lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pelabuhan di luar provinsi.

READ  Key Strategy: Menkeu Purbaya andalkan kas dan SAL untuk stabilkan pasar obligasi

Kontribusi ekspor nonmigas yang besar menegaskan bahwa Papua memiliki keunggulan kompetitif dalam sektor kehutanan. Namun, ada tantangan yang perlu diperhatikan, seperti keterbatasan akses ke pasar internasional dan efisiensi distribusi barang. “Kami sedang melakukan evaluasi terhadap pola distribusi dan strategi pemasaran ekspor,” tambahnya. Hasil evaluasi ini diharapkan bisa memberikan arah untuk peningkatan kinerja sektor ekspor secara lebih seimbang.

Ketergantungan pada Infrastruktur Logistik

Emi menyoroti bahwa keberhasilan ekspor Papua sangat tergantung pada infrastruktur logistik yang ada di luar wilayah. Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, misalnya, menjadi jalur utama untuk ekspor komoditas yang nilainya lebih besar. “Jumlah pemuatan melalui pelabuhan luar daerah mencapai 3.162,18 ribu dolar AS, sedangkan Jayapura hanya mengambil bagian sekitar 387,01 ribu dolar AS,” katanya. Hal ini mengindikasikan bahwa pelabuhan-pelabuhan di luar Papua memiliki kapasitas yang lebih besar dan efisiensi operasional yang lebih tinggi.

Meski ada peningkatan volume ekspor di bulan Maret, penurunan dari Februari menunjukkan ketidakstabilan produksi. “Kami sedang menganalisis penyebab penurunan tersebut, apakah karena faktor musiman, perubahan permintaan, atau keterlambatan pengiriman,” ujarnya. Selain itu, keterg