Topics Covered: Indonesia–Brunei bahas pelatihan dan kejuaraan pencak silat
Indonesia–Brunei bahas pelatihan dan kejuaraan pencak silat
Topics Covered – Jakarta, Selasa – Pertemuan bilateral antara Indonesia dan Brunei Darussalam dalam rangkaian acara Southeast Asia Ministerial Meeting on Youth and Sports 2026 membahas kolaborasi dalam bidang pelatihan serta penyelenggaraan kejuaraan pencak silat. Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Erick Thohir, menjelaskan bahwa dialog ini memiliki makna strategis, mengingat Brunei menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengeksplorasi dan mendorong pertumbuhan cabang olahraga seni bela diri tersebut.
“Pertemuan bilateral dengan Brunei Darussalam sangat bermakna, karena mereka menunjukkan ketertarikan yang luar biasa dalam mempelajari, mengembangkan, bahkan menjadi tuan rumah untuk ajang pencak silat,” ujar Erick Thohir dalam keterangan resmi yang dibacakan di Jakarta, Selasa.
Menurut Erick, semangat Brunei dalam menjalin kerja sama dengan Indonesia merupakan langkah positif yang selaras dengan upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan popularitas dan keberadaan pencak silat secara internasional. Ia menyebutkan bahwa kepentingan negara lain untuk memperkenalkan olahraga ini ke berbagai penjuru dunia menjadi bukti bahwa pencak silat mulai dikenal luas dan diminati oleh masyarakat global.
Kebudayaan serta kepentingan bersama dalam pengembangan olahraga tradisional menjadi dasar utama dari pertemuan ini. Pencak silat, yang merupakan warisan budaya Indonesia, memiliki potensi besar untuk menjadi medium persahabatan dan penguatan hubungan bilateral. Dalam kesempatan tersebut, Brunei Darussalam menyatakan keinginan untuk mengadopsi metode pelatihan dari Indonesia dan mengintegrasikannya ke dalam program pendidikan mereka. Erick menyambut baik tawaran tersebut, karena dianggap bisa memperkuat citra pencak silat di dunia internasional.
“Kolaborasi ini akan memberikan dampak positif bagi pengembangan pencak silat di Brunei. Kami berharap dapat memanfaatkan tenaga pelatih berkualitas dari Indonesia untuk meningkatkan prestasi atlet kami,” tutur Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Brunei Darussalam, Dato Nazmi Mohamad.
Dato Nazmi juga menegaskan bahwa Brunei memiliki ambisi untuk menjadi penyelenggara kejuaraan pencak silat di tingkat regional maupun global. Ia berharap program ini dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara lebih luas dan menumbuhkan minat masyarakat Brunei terhadap olahraga seni bela diri tersebut. “Selain itu, Brunei juga tertarik bekerja sama dalam menggelar event secara bersama, terutama di daerah dengan kebudayaan yang memiliki kesamaan,” tambahnya.
Pertemuan ini tidak hanya membahas kerja sama pelatihan, tetapi juga membuka peluang untuk menyelenggarakan liga atau pertandingan pencak silat di Brunei. Erick Thohir menyoroti bahwa kejuaraan internasional yang digelar di negara-negara ASEAN bisa menjadi ajang pertukaran budaya dan penguatan kebersamaan. “Kami yakin bahwa kolaborasi ini akan menghasilkan manfaat yang saling menguntungkan, terutama dalam menciptakan sistem pelatihan yang lebih kompetitif,” ujarnya.
Brunei Darussalam juga menyinggung keunggulan geografis dan budaya Kalimantan sebagai lokasi potensial penyelenggaraan kejuaraan pencak silat. Dato Nazmi menjelaskan bahwa keberdekatan wilayah dan kecocokan budaya antara Brunei dengan Kalimantan memungkinkan pengembangan program yang lebih efektif. “Kami percaya bahwa daerah Kalimantan memiliki sumber daya manusia yang siap memberikan kontribusi signifikan,” katanya.
Kerja sama antara kedua negara diharapkan bisa menjadi contoh kemitraan yang baik dalam meningkatkan kualitas olahraga dan memperluas lingkup pengaruhnya. Erick Thohir menambahkan bahwa pencak silat bukan hanya sekadar pertandingan, melainkan alat untuk mempererat tali persaudaraan dan kepercayaan antarnegara. “Dengan berbagi pengalaman dan sumber daya, kami bisa menciptakan budaya olahraga yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai olahraga nasional, pencak silat memiliki peran penting dalam mewakili identitas Indonesia di tingkat internasional. Dato Nazmi menekankan bahwa Brunei sangat tertarik mengikuti perkembangan pencak silat di Indonesia, khususnya dalam hal teknik dan struktur pelatihan. “Kami berharap bisa merangkul pengalaman Indonesia sebagai acuan untuk memperbaiki metode pendidikan olahraga di Brunei,” katanya.
Dalam rangka mewujudkan tujuan ini, Erick Thohir menyatakan akan menindaklanjuti setiap langkah yang dibahas dalam pertemuan bilateral. “Ini bukan hanya tentang meningkatkan prestasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai tradisi dan keunggulan pencak silat,” ungkapnya. Pemerintah Indonesia juga berharap kerja sama ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Brunei, baik dalam bidang olahraga maupun kebudayaan.
Kolaborasi antara kedua negara bisa menjadi pemicu bagi pertumbuhan pencak silat di lebih dari satu wilayah. Selain meningkatkan kualitas atlet, keberhasilan dalam penyelenggaraan kejuaraan secara bersama juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki kontribusi besar dalam olahraga seni bela diri. “Kami yakin bahwa dengan kerja sama yang konsisten, pencak silat akan terus berkembang dan diakui secara global,” pungkas Erick Thohir.
Menyusul pertemuan ini, pihak Indonesia berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada Brunei dalam mencapai tujuan mereka. Ini mencerminkan upaya untuk menjadikan pencak silat sebagai alat komunikasi budaya yang efektif. Dato Nazmi juga menambahkan bahwa keberhasilan pertemuan ini bisa menjadi awal dari inisiatif-inisiatif lebih besar dalam bidang olahraga dan pendidikan kebugaran.
Dengan adanya pertemuan bilateral, keberagaman budaya dan olahraga dalam ASEAN diharapkan bisa ditingkatkan. Pencak silat, sebagai warisan budaya Indonesia, menjadi salah satu representasi kuat dari identitas keolahragaan negara-negara anggota ASEAN. Selain itu, keberhasilan kolaborasi ini juga bisa menjadi contoh untuk negara-negara lain di kawasan untuk menjalin hubungan yang lebih erat melalui olahraga.
