Main Agenda: Legislator dorong LKP berinovasi menggelar kegiatan sesuai kebutuhan
Legislator Dorong LKP Berinovasi Sesuai Kebutuhan Masyarakat
Main Agenda – Garut, Jawa Barat – Anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah, menekankan pentingnya Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) mengadaptasi program pelatihannya sesuai dengan kebutuhan darurat yang muncul di masyarakat. Menurutnya, inovasi dalam penyelenggaraan kegiatan kursus ini bisa membuka peluang ekonomi baru serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat. “LKP harus bergerak mengikuti kebutuhan yang saat ini dianggap mendesak,” ujarnya kepada wartawan di Kabupaten Garut, Senin.
Program Pelatihan yang Sesuai dengan Kondisi Lokal
Ferdiansyah menyoroti bahwa pemerintah pusat maupun daerah selama ini kerap mengadakan pelatihan dan kursus dengan berbagai bidang keahlian, seperti komputer dan bahasa Inggris. Meski kegiatan tersebut memiliki nilai penting, ia menegaskan bahwa perlu ada perubahan lebih dalam untuk menyesuaikan program dengan masalah yang sedang mengemuka di lapangan. “Kita perlu memikirkan bagaimana kegiatan ini bisa lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” tambahnya.
“Pemerintah daerah dan pusat terkadang masih menggelar pelatihan yang sudah rutin, tapi kurang merespons perubahan yang terjadi di sekitar kita,” katanya.
Ia memberi contoh bahwa persoalan sampah, yang kini dianggap sebagai darurat nasional, bisa menjadi fokus utama bagi LKP. Terutama dalam pengolahan sampah organik, misalnya, menjadi pupuk yang bermanfaat. “Jika sampah rumah tangga bisa diubah menjadi pupuk, maka ini adalah solusi yang relevan dan ekonomis,” jelas Ferdiansyah.
Inovasi dalam Pengelolaan Sampah
Ferdiansyah menekankan bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan secara kolaboratif. Misalnya, kerja sama antara LKP dengan petani, peternak, atau pengusaha yang menghasilkan sampah. “Dengan pendekatan kolaboratif, kita bisa memanfaatkan sumber daya yang ada dan mengubah limbah menjadi produk bernilai,” ujarnya.
“Kebutuhan saat ini yang dianggap darurat nasional, seperti masalah sampah, perlu didukung oleh LKP,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sampah sisa makanan bisa diolah menjadi pakan maggot atau bahan baku ikan. Sementara kertas koran atau bahan-bahan lainnya bisa digunakan kembali dalam bentuk produk yang bernilai ekonomi. “Selain itu, sampah juga bisa menjadi bahan baku industri, sehingga kegiatan LKP bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar,” tambahnya.
Pelatihan Sesuai Industri dan Tren Terkini
Ferdiansyah menambahkan bahwa LKP juga perlu menyusul perkembangan industri film dan konten digital. Misalnya, dengan menyediakan pelatihan bagi orang yang ingin menjadi pengisi suara dalam film animasi. “Kebutuhan seperti ini sangat relevan, terutama di daerah yang memiliki potensi dalam sektor kreatif,” ujarnya.
“Kebutuhan-kebutuhan seperti pelatihan pengisi suara atau bidang-bidang lain yang sedang tren, adalah bagian dari inovasi yang perlu diakui,” katanya.
Dalam konteks ini, ia menjelaskan bahwa daerah seperti Garut, yang merupakan penghasil teh dan tembakau, memiliki kebutuhan spesifik. Misalnya, pelatihan peracik teh atau proses pengolahan tembakau dari tahap menjemur hingga melinting. “Masyarakat di Garut membutuhkan pelatihan yang bisa menjawab tantangan dalam sektor pertanian dan perkebunan,” katanya.
Peran Pemerintah Daerah dalam Memfasilitasi LKP
Menurut Ferdiansyah, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan keberhasilan inovasi LKP. Ia menyarankan agar lembaga tersebut dapat dibantu dengan adanya koordinasi informasi dan monitoring terhadap kegiatan pelatihan. “Pemda perlu menjadi pihak yang aktif dalam menyebarluaskan program LKP ke masyarakat,” katanya.
“Kami juga mohon bantuan pemda, pemda ini paling tidak membantu informasi, monitoring terhadap perkembangan kursus-kursus ini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah yang lebih efektif bisa memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Selain itu, inovasi dalam pelatihan kreatif seperti pengisi suara dapat memicu pertumbuhan industri kreatif lokal. “LKP harus menjadi wadah yang bisa menyediakan solusi sesuai kebutuhan, baik itu dari segi ekonomi maupun sosial,” ujarnya.
Kebutuhan yang Berubah Menyesuaikan Kondisi Dunia
Ferdiansyah menyoroti bahwa kebutuhan masyarakat selalu berubah, terutama dalam konteks keterkaitan dengan isu global. Ia mencontohkan bahwa di Garut, ada kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan pengolahan bahan-bahan daerah, seperti teh dan tembakau, agar bisa memenuhi permintaan pasar yang lebih luas. “Dengan memperhatikan tren terkini, pelatihan LKP bisa menjadi pendorong pengembangan ekonomi daerah,” katanya.
“Kebutuhan-kebutuhan itu juga menjawab kreativitas inovasi untuk mengatasi tantangan,” katanya.
Menurut Ferdiansyah, LKP tidak hanya sebatas memberikan pelatihan teknis, tetapi juga harus mampu menjembatani antara kebutuhan masyarakat dan potensi yang ada di sekitarnya. “Dengan pendekatan yang lebih dinamis, kita bisa menghasilkan solusi yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, ia mengusulkan agar kegiatan pelatihan yang dilakukan LKP fokus pada hilirisasi sampah, agar bahan-bahan yang sebelumnya dianggap limbah bisa diubah menjadi produk bernilai. “Kebutuhan masyarakat saat ini tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang aksi nyata yang bisa memberikan manfaat langsung,” katanya.
Di samping itu, ia berharap pemerintah daerah dapat menjadi mitra yang aktif dalam memberikan dukungan teknis dan sumber daya bagi pelatihan-pelatihan yang relevan. “Dengan adanya keterlibatan pemda, pelatihan LKP bisa lebih efektif dan berkelanjutan,” tutupnya.
