New Policy: Entaskan kemiskinan, Baznas beri pelatihan spa syariah untuk mustahik
Program Pelatihan Spa Syariah Baznas untuk Perempuan Tangerang
New Policy – Di tengah upaya untuk menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mengadakan pelatihan keterampilan vokasi terapis spa dan pijat syariah bagi 40 peserta perempuan di Tangerang, Banten. Kegiatan ini bertujuan membuka peluang ekonomi bagi para mustahik, terutama wanita, yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber pendapatan. Pelatihan, yang diselenggarakan dalam bentuk program produktif, merupakan bagian dari penggunaan dana zakat untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar peserta mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh secara langsung dalam aktivitas usaha. “Kami bekerja sama dengan Latifa Spa Academy yang sudah berpengalaman di bidang terapi syariah. Dengan pelatihan ini, para peserta diharapkan bisa segera berkiprah di bidang layanan kecantikan dan kesehatan yang sesuai prinsip syariat Islam,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Pelatihan Berbasis Syariah dan Produktivitas
Menurut Idy, pelatihan ini tidak hanya menekankan pada aspek teknis, tetapi juga pada prinsip syariah sebagai dasar utama. “Kami ingin membangun ekosistem usaha yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga mengandalkan nilai-nilai keberkahan sesuai ajaran Islam,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah mendorong transformasi mustahik menjadi muzaki, yaitu pemberi zakat yang kemudian bisa memberikan kontribusi melalui zakat, infak, dan sedekah.
Idy menambahkan, penggunaan dana zakat dalam bentuk pelatihan ini merupakan bentuk respons Baznas terhadap kebutuhan masyarakat yang ingin berkiprah secara mandiri. “Dengan memiliki keterampilan terapis spa syariah, peserta bisa memperluas jaringan usaha dan membangun reputasi di tengah masyarakat,” ujarnya. Pelatihan ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan khusus perempuan, yang seringkali lebih rentan terhadap kesulitan ekonomi dibandingkan laki-laki.
Kisah Peserta: Rika Dewi Yanti
Salah satu peserta pelatihan, Rika Dewi Yanti (34), yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan Baznas. “Saya sangat senang karena program ini gratis dan difasilitasi oleh Baznas. Biasanya pelatihan semacam ini membutuhkan biaya besar, jadi ini sangat membantu bagi kami, terutama para ibu rumah tangga,” katanya.
“Saya berharap program serupa bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak perempuan. Terima kasih Baznas atas kepedulian yang luar biasa ini,” ujarnya.
Rika menjelaskan bahwa keahlian yang diperoleh melalui pelatihan akan membuka peluang untuk berdiri sendiri secara ekonomi. “Selama ini saya hanya mengandalkan penghasilan suami, tetapi kini saya bisa menjadi penghasil tambahan untuk keluarga. Ini sangat berarti bagi kami,” tambahnya.
Kegiatan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
Baznas menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya sekadar memberikan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kegiatan produktif dalam meningkatkan kesejahteraan. “Program ini memberikan wawasan tentang cara menjalankan usaha yang berorientasi pada nilai-nilai syariah, sehingga peserta bisa menjalani aktivitas bisnis dengan lebih bermakna dan terarah,” kata Idy.
Dalam pelatihan, para peserta diajarkan teknik terapis spa, bekam, dan pijat syariah, yang merupakan bagian dari layanan kesehatan dan kecantikan yang sesuai dengan aturan Islam. “Kami ingin memastikan bahwa setiap layanan yang diberikan tidak hanya menghasilkan manfaat material, tetapi juga spiritual dan sosial,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan visi Baznas untuk memperkuat peran zakat dalam pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup mustahik.
Perspektif Baznas: Pengelolaan Zakat yang Berkelanjutan
Menurut Idy, pengelolaan zakat yang baik memerlukan pendekatan holistik, bukan hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga menciptakan kemampuan masyarakat untuk mandiri. “Zakat bukan hanya sekadar bantuan sementara, tetapi menjadi alat transformasi jangka panjang. Dengan pelatihan ini, para mustahik bisa menjadi pengusaha yang mandiri, sehingga zakat menjadi penggerak utama pemberdayaan ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, program ini juga bertujuan memperkuat sistem ekonomi syariah, yang sejalan dengan konsep keberlanjutan dalam pengelolaan zakat. “Kami ingin menciptakan lingkungan usaha yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang membutuhkan,” ujarnya. Dengan melibatkan perempuan, Baznas berupaya mendorong partisipasi aktif mereka dalam perekonomian, yang sebelumnya seringkali dianggap sebagai penyokong penuh laki-laki.
Menurut Idy, pelatihan ini juga memperkaya pemahaman peserta tentang prinsip-prinsip syariah dalam bisnis. “Saya yakin, dengan memiliki pengetahuan tentang layanan syariah, peserta bisa menciptakan usaha yang bernilai tambah, baik secara ekonomi maupun sosial,” katanya. Ia berharap program serupa bisa berkelanjutan dan diadakan secara rutin, sehingga lebih banyak masyarakat yang dapat manfaatkan kesempatan ini.
Potensi Manfaat bagi Masyarakat
Kegiatan pelatihan ini diharapkan bisa menjadi model dalam pemberdayaan ekonomi melalui zakat. Dengan menggabungkan keterampilan vokasi dan prinsip syariah, Baznas ingin menciptakan usaha yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga memberikan manfaat keberkahan bagi konsumen dan peserta.
Idy menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal dalam membangun ekosistem usaha syariah yang lebih luas. “Kami berharap, setelah peserta terampil, mereka bisa menjadi pelaku utama dalam industri kecantikan dan kesehatan syariah, sehingga mampu menyerap tenaga kerja dan memperkuat perekonomian daerah,” katanya. Dengan demikian, Baznas berperan aktif dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat melalui pendekatan yang berbasis zakat.
Menurutnya, program ini juga menjadi contoh bagaimana zakat bisa diubah menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan diri. “Para mustahik tidak hanya mendapatkan pendapatan, tetapi juga meningkatkan kemampuan dan kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi,” ujarnya. Ia berharap, keberhasilan program ini bisa menjadi inspirasi bagi lembaga zakat lainnya dalam merancang kegiatan yang lebih produktif.
Idy menutup wawancara dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara Baznas dan lembaga pendidikan vokasi untuk memperkuat pemberdayaan. “Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dalam pelatihan dan pemanfaatan dana zakat. Ini adalah bentuk kepedulian Baznas terhadap kehidupan masyarakat dan peran zakat dalam pembangunan nasional,” katanya.
