Solving Problems: Dua karya Indonesia di Venice Biennale angkat tradisi Melayu
Dua karya Indonesia di Venice Biennale angkat tradisi Melayu
Solving Problems – Venezia, Italia – Festival Teater Internasional La Biennale di Venezia 2026 menjadi panggung penting bagi dua karya pertunjukan dari Indonesia, yang berusaha menyampaikan nilai-nilai tradisi Melayu melalui bentuk seni teater yang kontemporer. Pendiri dan Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, mengatakan keikutsertaan karya-karya tersebut di 54th International Theatre Festival of La Biennale menunjukkan komitmen untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke panggung internasional.
Pemilihan Aktor dan Seniman Lokal untuk Kekayaan Budaya
Dalam jumpa pers “Dua Panggung Indonesia di Venice Biennale Teatro 2026” yang diadakan di Residence of the Ambassador of Italy, Jakarta Selatan, Kamis lalu, Restu menjelaskan bahwa keberhasilan dua karya ini tergantung pada penggabungan elemen lokal yang kuat. Ia menekankan bahwa pembuatan karya-karya ini sengaja melibatkan aktor dan seniman dari Aceh serta Sumatera Barat, sebagai upaya memperkaya cerita dengan nuansa tradisional Melayu.
“Kami ingin mengangkat kebudayaan tua dari Melayu sebagai akar budaya Indonesia,” ujarnya.
Menurut Restu, upaya ini menghadirkan dimensi baru dalam seni pertunjukan modern, dengan menggabungkan warisan lisan dan gerak tubuh yang masih hidup di tengah masyarakat. “Produksi ini memang tidak mudah karena kami sengaja membawa para aktor dari Sumatera Barat dan pemusik dari Aceh,” tambahnya, menyoroti kolaborasi regional yang dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
Unsur Seni Silat dan Tradisi dalam Karya Teater
Kedua karya tersebut, yaitu “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu/The Tale of Boat”, dirancang untuk menampilkan seni silat, tari, musik, dan teater sebagai wujud kebudayaan Melayu yang relevan di era modern. Restu menjelaskan bahwa pembuatan karya ini tidak hanya berfokus pada narasi, tetapi juga pada ekspresi fisik dan budaya yang khas, seperti gerakan tari tradisional atau alunan musik yang terinspirasi dari pertunjukan lokal.
“Indonesia mempunyai sesuatu yang berbeda dalam seni tari, musik, teater, dan bela diri silat,” kata Restu mengutip pandangan Direktur Festival Teater Internasional 2026, Willem Dafoe.
Willem Dafoe, yang menjadi direktur festival tersebut, menyatakan bahwa Indonesia memiliki kekuatan artistik yang unik, terutama dalam memadukan tradisi lama dengan inovasi modern. Hal ini membuat karya dari negara lain yang tampil di La Biennale terasa kurang menonjol dibandingkan karya-karya dari Indonesia.
Tema Festival: “Alter-Native” dan Makna Perubahan Budaya
Festival Teater Internasional La Biennale di Venezia 2026 mengusung tema “Alter-Native”, yang berfokus pada keseimbangan antara perubahan dan akar budaya. Konsep ini menjadi dasar untuk memilih karya-karya yang mengangkat keunikan Melayu, baik melalui narasi maupun teknik pertunjukan. Pemilihan tema ini mencerminkan peran La Biennale sebagai platform untuk memperkenalkan perbedaan budaya global, sekaligus menyoroti pentingnya tradisi dalam mendorong kreativitas baru.
Festival tersebut menampilkan sekitar 200 seniman dari berbagai belahan dunia, dengan agenda pertunjukan yang mencakup 55 acara. Dua karya dari Indonesia, yang dipilih untuk dihadirkan di Venesia, menjadi bagian dari perayaan ini sebagai contoh bagaimana kebudayaan Melayu dapat diterjemahkan ke dalam seni pertunjukan yang universal.
Detail Karya: “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu”
“Under the Volcano” disutradarai oleh Yusril Katil dan menceritakan kisah dari syair “Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Syair ini menggambarkan dampak letusan Gunung Krakatau pada 1883, sebuah peristiwa sejarah yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Indonesia. Yusril menyampaikan bahwa karya ini mencoba mengeksplorasi hubungan antara manusia dan alam, dengan memadukan gerakan tari dan teknik pertunjukan yang dinamis.
Sementara itu, “Hikayat Perahu/The Tale of Boat” disutradarai Sri Qadariatin, dengan cerita yang diambil dari syair “Perahu” karya penyair sufi Hamzah Fansuri. Syair ini memiliki latar belakang legenda yang mengisahkan perjalanan spiritual dan petualangan kehidupan. Sri Qadariatin mengatakan bahwa adaptasi ini menggambarkan bagaimana tradisi lama dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan kontemporer.
Kedua karya tersebut akan dipentaskan masing-masing dua kali selama festival berlangsung pada 7-21 Juni 2026 di Venesia. Restu berharap pertunjukan ini mampu menyampaikan pesan kebudayaan Melayu kepada penonton internasional, sekaligus menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menciptakan seni yang memiliki makna universal. “Kami yakin seni Melayu bisa menjadi bagian dari cerita global yang relevan,” katanya.
Peluncuran karya-karya ini juga menunjukkan upaya Indonesia untuk merajut hubungan budaya dengan negara lain. La Biennale, yang dianggap sebagai salah satu ajang pertunjukan terbesar di dunia, menjadi tempat di mana tradisi Melayu tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diadaptasi agar dapat diterima oleh audiens yang beragam. Restu menambahkan bahwa proyek ini adalah bentuk kontribusi Indonesia dalam memperkaya ekosistem seni global dengan elemen-elemen yang berakar pada warisan budaya lokal.
Dengan menampilkan karya-karya yang menggabungkan seni silat, tari, dan musik tradisional, dua teater Indonesia ini memperlihatkan bagaimana budaya Melayu bisa tetap relevan di tengah dinamika seni modern. Pemilihan aktor dan seniman dari Aceh serta Sumatera Barat menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terbatas pada satu daerah, tetapi juga terdapat di berbagai wilayah yang memiliki keunikan masing-masing.
Restu juga mengungkapkan bahwa proses kreatif ini melibatkan dialog antara seniman dan budaya. “Setiap gerakan tari atau nada musik di dalam karya ini adalah hasil dari interaksi langsung dengan tradisi Melayu,” katanya. Dengan demikian, pertunjukan ini tidak hanya sebagai bentuk ekspresi seni, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya yang tetap hidup dalam konteks kekinian.
Sebagai bagian dari La Biennale, keberadaan dua karya Indonesia ini memperkuat identitas budaya negara dalam ruang global. Restu berharap pertunjukan tersebut mampu menjadi katalis untuk lebih banyak kolaborasi antar budaya, terutama dalam seni pertunjukan. “Dengan menampilkan keunikan Melayu, kami ingin menunjukkan bahwa seni Indonesia bisa bersaing dan menarik perhatian di
