Special Plan: Wamenpar ajak ASITA perkuat pariwisata berkualitas dan berdaya saing
Wamenpar Ajak ASITA Perkuat Pariwisata Berkualitas dan Berdaya Saing
Special Plan – Jakarta – Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Pariwisata, menggalang dukungan seluruh anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) dalam meningkatkan kerja sama dengan pemerintah untuk mendorong sektor pariwisata nasional menjadi lebih berkualitas, kompetitif, serta berkelanjutan. Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui keterangan resmi, ia menekankan bahwa ASITA memiliki peran kunci dalam mendukung pemerintah dalam mencapai tujuan tersebut. “Kita harus bergerak bersama dengan ASITA. Karena organisasi ini adalah mitra strategis yang berperan penting dalam pembangunan pariwisata,” ujarnya di Jakarta, Jumat.
Strategi Pemerintah untuk Meningkatkan Daya Saing
Dalam membuka Rakernas II ASITA 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis (7/5), Ni Luh Puspa mengungkapkan berbagai upaya strategis pemerintah untuk menghadapi tantangan global yang memengaruhi sektor pariwisata. Salah satu isu utama yang dibahas adalah kenaikan harga tiket pesawat yang berdampak pada mobilitas wisatawan. Untuk mengatasi ini, pemerintah telah menerapkan beberapa stimulus, seperti penanggungan Pajak Penjualan barang dan jasa (PPN) oleh negara sebesar 100 persen, pengenaan surcharge sebesar 38 persen, serta pembebasan bea masuk onderdil pesawat hingga 0 persen. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menekan biaya penerbangan dan meningkatkan aksesibilitas destinasi wisata di Indonesia.
Pergeseran Strategi Pasar ke Kawasan Asia
Menurut Ni Luh Puspa, Kementerian Pariwisata juga melakukan penyesuaian strategi pemasaran dengan mengalihkan fokus promosi ke kawasan Asia dan Asia Pasifik. Pergeseran ini disesuaikan dengan tren global, di mana wisatawan semakin memilih tujuan yang dekat, efisien dalam biaya, dan membutuhkan waktu tempuh yang lebih singkat. “Dengan menargetkan pasar Asia, kita bisa memanfaatkan potensi keberagaman destinasi serta keunggulan lokasi geografis Indonesia sebagai pusat hubungan internasional,” jelasnya. Selain itu, pemerintah berupaya memperkuat pasar medium haul dan short haul, yang mencakup rute pendek maupun menengah. Strategi ini diharapkan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dengan lebih efektif.
Kebijakan untuk Menjaga Kualitas Layanan Wisata
Ni Luh Puspa juga mengingatkan para pelaku usaha pariwisata, terutama biro perjalanan wisata, untuk memastikan produk yang mereka tawarkan berasal dari perusahaan yang memiliki izin resmi. Hal ini bertujuan menjaga kualitas layanan, melindungi konsumen, serta memperkuat citra industri pariwisata Indonesia di mata dunia. “Pengawasan yang ketat dan standarisasi kegiatan usaha adalah kunci untuk membangun kepercayaan wisatawan,” tegasnya. Pada tahun 2025, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 yang mengatur standar operasional usaha, prosedur pengawasan, serta sanksi administratif. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga kredibilitas industri dan menjamin kepuasan pengunjung.
“Dan untuk itu, pada 2025 sudah diterbitkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 yang mengatur terkait dengan standar kegiatan usaha, tata cara pengawasan dan juga sanksi administratif. Kebijakan ini bertugas untuk tentu saja adalah melindungi wisatawan sekaligus juga menjaga dari kredibilitas industri pariwisata Indonesia,” kata Ni Luh Puspa.
Ekosistem Pariwisata yang Terpadu
Wamenpar menambahkan bahwa Kementerian Pariwisata terus mendorong pembentukan ekosistem yang saling terhubung antara industri acara, pariwisata, serta perhotelan. “Kerja sama yang erat antara sektor-sektor ini akan mendorong pertumbuhan industri secara bersamaan dan saling memperkuat,” imbuhnya. Ekosistem yang terpadu dianggap sebagai fondasi penting untuk meningkatkan daya saing serta keberlanjutan pariwisata nasional. Dengan sinergi yang baik, pihaknya yakin bahwa Indonesia mampu menjadi destinasi utama di Asia Tenggara.
Rencana ASITA untuk Menarik Wisatawan Mancanegara
Ketua Umum DPP ASITA, Rusmiati, berharap bahwa ide-ide yang dihasilkan dalam Rakernas II 2026 mampu menjadi bahan acuan untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. “Kita perlu menjaga komunikasi yang baik dengan pemerintah agar seluruh anggota ASITA bisa saling dukung dalam mencapai tujuan bersama,” ujarnya. Rusmiati menekankan bahwa sinergi antara ASITA dan pemerintah adalah kunci untuk mengembangkan sektor pariwisata secara holistik, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial.
“Harapan kami komunikasi yang baik dengan pemerintah dapat terus terjalin untuk mencapai cita-cita bersama dalam memajukan pariwisata Indonesia,” tambah Rusmiati.
Kebutuhan Kolaborasi dalam Masa Pandemi
Dalam konteks pandemi yang masih memengaruhi sektor pariwisata, Ni Luh Puspa menyoroti pentingnya kerja sama antara ASITA dan pemerintah untuk memperkuat kebijakan-kebijakan yang mendorong pemulihan industri. “Kita perlu memastikan bahwa semua upaya pemerintah bisa diimplementasikan secara maksimal oleh ASITA, karena organisasi ini adalah penggerak utama dalam menyebarkan paket wisata yang menarik dan kompetitif,” kata Ni Luh. Selain itu, ia menekankan bahwa ASITA harus menjadi mitra yang aktif dalam memberikan masukan serta kritik konstruktif terhadap kebijakan nasional. “Kepemimpinan ASITA dalam proses ini akan memastikan bahwa kebijakan pemerintah selaras dengan kebutuhan industri dan wisatawan,” tambahnya.
Peran ASITA dalam Membentuk Pasar Wisata
Sebagai asosiasi biro perjalanan wisata tertua di Indonesia, ASITA memiliki posisi strategis dalam mengemas paket wisata yang menarik bagi konsumen lokal maupun internasional. Ni Luh Puspa menyoroti bahwa ASITA tidak hanya menjadi penggerak pemasaran, tetapi juga sebagai pemegang peran dalam memastikan kualitas dan standar layanan wisata. “Kita harus saling memperkuat, karena ASITA bisa menjadi penghubung antara pemerintah dan pelaku usaha yang memastikan inisiatif pemerintah bisa diadaptasi dengan kebutuhan pasar,” katanya. Di samping itu, ia menekankan bahwa ASITA perlu terus berinovasi dalam menawarkan produk wisata yang beragam, menarik, dan sesuai dengan preferensi wisatawan saat ini.
Indonesia sebagai Destinasi yang Berpotensi
Menurut Ni Luh Puspa, Indonesia memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata global karena kekayaan sumber daya alam, budaya, serta keunggulan infrastruktur yang terus berkembang. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya mendukung pertumbuhan sektor, tetapi juga mendorong kualitas pelayanan yang konsisten,” ujarnya. Dalam upaya ini, ASITA diharapkan bisa menjadi pilar yang kuat dalam mengembangkan pariwisata Indonesia menjadi lebih bersaing. Selain itu, ia menyoroti pent
