New Policy: ANTAM catat laba bersih Rp3,66 triliun di kuartal I 2026

ANTAM Catat Laba Bersih Rp3,66 Triliun di Kuartal I 2026

New Policy – Jakarta – PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) terus menunjukkan kemajuan dalam kinerja keuangan selama tiga bulan pertama tahun 2026, dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,66 triliun. Pencapaian ini tercatat meski di tengah berbagai tantangan global, seperti perubahan harga komoditas, ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, dalam pernyataan di Jakarta, Rabu, mengungkapkan bahwa faktor-faktor operasional yang solid menjadi penopang utama dari hasil keuangan yang menguat.

Pertumbuhan Keuangan Didorong oleh Strategi Operasional

Dalam kuartal I 2026, ANTAM berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas sebesar 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp2,32 triliun. Peningkatan ini secara langsung terlihat dari kinerja EBITDA yang melonjak 55 persen menjadi Rp5,05 triliun, dibandingkan Rp3,26 triliun pada kuartal I 2025. Selain itu, laba kotor perusahaan mencapai Rp5,62 triliun, naik 54 persen dari Rp3,64 triliun di kuartal I 2025. Dengan demikian, laba usaha juga mengalami pertumbuhan signifikan, mencapai Rp4,50 triliun atau naik 67 persen dari Rp2,69 triliun pada periode sama tahun lalu.

Peningkatan keuangan ANTAM juga didukung oleh manajemen biaya yang cermat, serta implementasi strategi pemasaran yang selalu beradaptasi dengan dinamika pasar. Direktur Utama menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari pengendalian operasional yang disiplin di seluruh lini usaha. Perusahaan juga menyoroti peran konsistensi dalam penerapan strategi yang inovatif dan responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.

READ  Key Strategy: PLN dorong sinergi lintas sektor untuk perkuat ketahanan iklim

Kontribusi Segmen Utama

Segmentasi penjualan ANTAM di kuartal I 2026 menunjukkan distribusi yang beragam. Segmen emas menjadi kontributor utama, menyumbang 81 persen dari total pendapatan, yaitu Rp23,89 triliun atau meningkat 11 persen dibandingkan Rp21,61 triliun pada kuartal I 2025. Volume penjualan emas mencapai 8.464 kg, dengan seluruhnya dikirimkan ke pasar dalam negeri. Di sisi lain, segmen nikel menyumbang 15 persen dari total pendapatan, mencapai Rp4,47 triliun, naik 19 persen dari Rp3,77 triliun pada kuartal I 2025.

Untuk segmen bauksit dan alumina, kontribusinya tercatat sebesar 3 persen, dengan nilai penjualan Rp879,14 miliar atau tumbuh 24 persen dari Rp708,75 miliar di kuartal I 2025. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, sementara alumina sebanyak 49.566 ton. Meski demikian, volume penjualan bauksit dan alumina masing-masing hanya sekitar 593.476 wmt serta 49.072 ton, menunjukkan penyesuaian strategi untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Selain itu, ANTAM juga melanjutkan upaya memperkuat pasokan melalui kerja sama strategis dengan Merdeka Grup, dengan penandatanganan Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) pada 4 Maret 2026.

Perkembangan Indikator Keuangan

Di samping pertumbuhan laba bersih, ANTAM mencatatkan peningkatan signifikan dalam beberapa indikator keuangan. Total aset perusahaan mencapai Rp63,30 triliun, meningkat 31 persen dari Rp48,30 triliun pada kuartal I 2025. Nilai ekuitas juga naik 17 persen menjadi Rp40,41 triliun, sementara posisi kas dan setara kas mencapai Rp9,04 triliun, tumbuh 31 persen dari Rp6,90 triliun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan kesehatan finansial perusahaan yang terus membaik.

Penjualan bersih ANTAM pada kuartal I 2026 mencapai Rp29,32 triliun, naik 12 persen dari Rp26,15 triliun di kuartal I 2025. Kontribusi pendapatan dari pasar domestik tercatat sebesar 97 persen, menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada permintaan dalam negeri. Namun, perusahaan tetap memperkuat eksportasi melalui segmen feronikel, yang menghasilkan penjualan sebanyak 2.803 TNi meski produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wmt, seluruhnya diserap oleh pasar lokal.

READ  New Policy: Kementerian ESDM uji penggunaan bahan bakar B50 pada kereta api

Analisis Strategi dan Kinerja Operasional

Untung Budiharto menjelaskan bahwa kinerja yang positif di kuartal I 2026 berkat implementasi strategi operasional yang tangguh. “Penguatan kinerja berkelanjutan didorong oleh manajemen keuangan yang disiplin dan prudent, serta adaptasi terhadap tantangan eksternal,” ujarnya dalam pernyataan. Ia menyoroti keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan stabilitas operasional meski menghadapi tekanan harga global.

Pabrik smelter grade alumina (SGA) yang mulai beroperasi menjadi faktor penting dalam menggerakkan pertumbuhan segmen bauksit dan alumina. Selain itu, peningkatan sourcing emas secara aktif membantu menjaga kesinambungan pasokan, sehingga mendukung penjualan yang stabil. ANTAM juga melanjutkan peningkatan efisiensi produksi, terutama pada sektor nikel, dengan optimisasi pengelolaan sumber daya dan peningkatan produktivitas.

Pertumbuhan laba bersih per saham dasar mencapai Rp141,77, atau meningkat 60 persen dari Rp88,69 pada kuartal I 2025. Angka ini menggambarkan kenaikan nilai tambah bagi pemegang saham, yang diperkuat oleh keberhasilan operasional dan manajemen keuangan yang terstruktur. Direktur Utama menegaskan bahwa konsistensi dalam strategi jangka panjang menjadi kunci pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” kata Untung Budiharto.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ANTAM tetap mempertahankan keunggulan dalam sektor emas, sementara sektor nikel dan alumina juga menunjukkan kemajuan. Peningkatan volume produksi dan penjualan di berbagai segmen menunjukkan keberhasilan dalam mengoptimalkan kapasitas operasional. Dengan penyesuaian strategi dan penguatan fondasi bisnis, perusahaan siap menjaga momentum pertumbuhan di masa depan.

Pertumbuhan kinerja ANTAM di kuartal I 2026 tidak hanya mencerminkan stabilitas internal, tetapi juga responsibilitas terhadap perubahan ekst

READ  Menhut tegaskan inklusivitas dalam perdagangan karbon nasional