What You Need to Know: Longsor merusak empat rumah di Pacitan
Longsor Merusak Empat Rumah di Pacitan
What You Need to Know – Pacitan, Jawa Timur (ANTARA) – Sebuah bencana alam berupa longsor menghancurkan empat unit rumah warga di Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Pacitan, Jawa Timur, pada malam hari Kamis (30/4). Kapolsek Bandar, Agus Budiono, menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi karena kondisi tanah yang curam, yang tidak mampu menahan air hujan yang mengalir secara berkelanjutan. Akibatnya, material tanah terlempar ke bagian dapur dan teras rumah-rumah yang berada di sekitarnya.
Kapolsek Bandar, Agus Budiono, di Pacitan, Jumat, mengungkapkan bahwa longsor terjadi setelah hujan deras melanda wilayah tersebut selama beberapa jam. “Tanah yang berada di daerah lereng curam tidak mampu menahan air yang tergenang, sehingga terjadi guguran material tanah yang menyerang sejumlah bangunan warga,” katanya. Menurutnya, akibat longsor, sebagian dinding rumah retak, dan ada yang bahkan hancur.
Kerusakan pada Rumah Warga
Di Dusun Krajan, dua rumah yang paling parah rusak adalah milik Katimin dan Mardi. Bagian dapur mereka mengalami kerusakan signifikan, dengan estimasi kerugian mencapai sekitar Rp5 juta per rumah. Sementara itu, di lokasi lain, rumah milik Turmudi juga terkena dampak, dengan bagian dapur belakang yang rusak. Kerugian pada rumah Turmudi diperkirakan mencapai Rp3 juta.
Di Dusun Pager Gunung, teras rumah milik Wagiono tertutup oleh material longsor. Kerusakan pada bagian tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian sekitar Rp3 juta. Selain itu, terdapat beberapa rumah lain yang mengalami kerusakan ringan, meski tidak mencapai tingkat kerusakan serius. “Kerusakan terparah berada di dua rumah di Dusun Krajan, sementara kerusakan di tempat lain lebih terbatas,” kata Budiono.
Kondisi Tempat Terdampak
Menurut informasi yang diperoleh, wilayah Desa Petungsinarang memiliki lereng yang curam, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya longsor. Kondisi ini diperparah oleh curah hujan yang tinggi, sehingga memicu penyerapan air yang berlebihan. “Tidak ada warga yang terluka, tetapi beberapa rumah mengalami kerusakan cukup parah,” tambah Budiono.
Petugas kepolisian segera melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak dan memulai proses pembersihan material longsor. Dukungan juga diberikan oleh pemerintah desa setempat, yang turut membantu membersihkan area yang rusak. “Tim dari kepolisian dan pihak desa terus bekerja untuk mempercepat pemulihan kondisi setelah bencana,” jelas Budiono.
Pengaruh Terhadap Masyarakat
Peristiwa longsor ini memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan warga sekitar. Beberapa keluarga terpaksa mengungsikan barang-barang mereka dari rumah yang rusak, sementara yang lain masih bersabar menunggu proses pemulihan. Budiono mengatakan bahwa pihak kepolisian terus memantau situasi dan memberikan peringatan kepada warga untuk tetap waspada.
“Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di area rawan longsor, seperti lereng tebing atau daerah dengan tanah yang mudah tergerus,” tambahnya. Petugas juga memberikan saran untuk memperkuat struktur bangunan di daerah rentan bencana alam. Budiono menegaskan bahwa upaya pembersihan dan evakuasi berlangsung lancar, meski masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan semua tahapan.
Estimasi Kerugian dan Peringatan
Dari laporan yang diterima, total kerugian akibat bencana longsor ini diperkirakan mencapai belasan juta rupiah. Angka tersebut mencakup kerusakan pada empat rumah dan kerugian materiil yang terjadi di sekitar lokasi. “Kerugian diperkirakan antara Rp10 hingga Rp15 juta, tergantung tingkat keparahan kerusakan di masing-masing rumah,” ujar Budiono.
Menurut data yang dihimpun, longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Pacitan selama lebih dari 24 jam. Kondisi ini membuat permukaan tanah menjadi basah dan lembek, sehingga mudah tergerus saat ada pergerakan tanah. “Kami sedang melakukan investigasi untuk memahami secara detail penyebab longsor, termasuk peran faktor-faktor lingkungan sekitar,” kata Budiono.
Upaya Pemulihan dan Penyelamatan
Setelah bencana terjadi, petugas kepolisian bersama warga setempat segera bergerak untuk membersihkan material longsor yang menumpuk di sekitar rumah-rumah. Proses ini dilakukan secara bertahap, dengan prioritas diberikan kepada rumah yang paling parah rusak. “Kami juga membantu warga mengangkat barang-barang yang terkena material longsor, agar bisa disimpan di tempat yang aman sementara,” tutur Budiono.
Budiono menambahkan bahwa selain pembersihan, pihak kepolisian juga memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. “Beberapa warga membutuhkan bantuan untuk memperbaiki atap dan dinding rumah yang rusak,” katanya. Pemerintah desa juga terlibat aktif dalam memberikan dukungan logistik, seperti makanan dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari, kepada warga yang terganggu akibat bencana.
Waspadai Wilayah Rentan Bencana
Menyusul peristiwa longsor ini, warga sekitar diingatkan untuk tetap memantau kondisi tanah dan lingkungan sekitar. “Kami menyarankan warga menghindari area yang berpotensi longsor, terutama saat hujan deras terjadi,” kata Budiono. Ia juga meminta warga memperhatikan tanda-tanda awal terjadinya longsor, seperti retakan di tanah atau gesekan yang terdengar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan sudah mulai melakukan pemantauan lebih intensif terhadap wilayah yang rawan. “BPBD akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan desa setempat untuk memastikan warga tetap aman dari ancaman bencana alam lainnya,” jelas Budiono. Selain itu, pihak desa juga meminta warga untuk melaporkan perubahan kondisi tanah ke pihak terkait, agar bisa segera diambil tindakan pencegahan.
Bencana tanah longsor ini menjadi peringatan bagi masyarakat Pacitan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi musim hujan. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, kerusakan pada bangunan warga tetap menjadi perhatian serius. Budiono berharap warga dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat infrastruktur rumah dan menjaga kebersihan lingkungan, agar mengurangi risiko terjadinya bencana serupa di masa depan.
