Politik

Latest Program: Kapolri Ingin Jadi Aktivis setelah Pensiun, Pengin Demonstrasi

Kapolri Berharap Jadi Aktivis Setelah Pensiun, Ingin Terlibat dalam Demonstrasi Latest Program - Di tengah berbagai aktivitas politik dan sosial di Jakarta

Desk Politik
Published Juni 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Kapolri Berharap Jadi Aktivis Setelah Pensiun, Ingin Terlibat dalam Demonstrasi

Latest Program – Di tengah berbagai aktivitas politik dan sosial di Jakarta, mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan niatnya untuk terlibat dalam dunia aktivis setelah pensiun dari jabatannya sebagai kepala kepolisian. Pernyataan ini diungkapkan dalam sambutan yang diberikan pada Kongres III Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) yang berlangsung di Jakarta, Minggu (7/6). Dalam pidatonya, Sigit menyebutkan bahwa ia ingin menggantikan posisi para aktivis yang kini terlibat dalam pemerintahan, khususnya dalam upaya menggalang perubahan sosial melalui aksi demonstrasi.

Kongres KPBI Jadi Platform untuk Wujudkan Impian Sigit

Kongres KPBI, yang menjadi ajang penting dalam memperkuat peran buruh dalam isu-isu kebijakan nasional, menjadi kesempatan bagi Sigit untuk menyampaikan keinginannya. Ia menyoroti bahwa banyak dari para aktivis yang sebelumnya bergerak di masyarakat kini duduk di posisi strategis di pemerintahan. Hal ini menimbulkan diskusi tentang pergeseran peran dari aktivis ke pejabat, yang menurut Sigit berdampak pada keberadaan mereka sebagai penggerak perubahan.

“Jadi, karena aktivis-aktivis akhirnya kosong, ya, saya mohon izin kepada teman-teman selesai jadi Kapolri, saya gantian jadi aktivis. Boleh enggak?”

Menurut Sigit, sejumlah aktivis yang sebelumnya aktif di luar pemerintahan kini menjadi bagian dari sistem pemerintahan, seperti Jumhur Hidayat dan Said Iqbal yang rencananya diangkat sebagai Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan. “Tadi sudah banyak yang disampaikan oleh beliau-beliau. Memang terjadi perubahan dari aktivis-aktivis saat ini rata-rata kemudian menjadi pimpinan-pimpinan di kabinet,” imbuhnya.

Dalam suasana santai, Sigit menambahkan keterangan lucu bahwa selama lima tahun menjabat sebagai Kapolri, ia sering menjadi target aksi massa. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman tersebut, ia ingin menggantikan posisi mereka sebagai bagian dari kegiatan demonstrasi. “Dengan nada bercanda, Listyo Sigit Prabowo ingin gantian demo setelah jadi aktivis,” ujarnya dengan senyum.

Transisi Aktivis ke Jabatan Pemerintahan

Dalam suasana kongres yang penuh antusiasme, Sigit menyoroti dinamika transisi aktivis menjadi anggota kabinet. Ia mengatakan bahwa perubahan ini bukan hanya fenomena biasa, tetapi juga menunjukkan adaptasi para penggerak sosial dalam menghadapi tantangan politik. “Aktivis-aktivis yang sebelumnya memimpin aksi di jalanan kini muncul sebagai bagian dari struktur pemerintahan,” papar Sigit.

Keberadaan mereka di kabinet, menurut Sigit, bisa menjadi keuntungan untuk memperkuat komunikasi antara pihak kepolisian dan masyarakat. “Dengan menjadi bagian dari pemerintahan, mereka bisa memberikan perspektif yang lebih luas dalam mengambil keputusan terkait isu sosial,” jelasnya. Ia menambahkan, hal ini juga mencerminkan komitmen para aktivis untuk tetap berpartisipasi dalam proses kebijakan nasional.

“Memang terjadi perubahan dari aktivis-aktivis saat ini rata-rata kemudian menjadi pimpinan-pimpinan di kabinet,”

Lebih lanjut, Sigit menjelaskan bahwa seiring waktu, para aktivis sering kali memperoleh pengalaman dan wawasan yang mendorong mereka untuk berkiprah di bidang lebih luas. Ia mengatakan bahwa kehadiran mereka di pemerintahan bisa membantu menyelaraskan kepentingan masyarakat dengan kebijakan pemerintah. “Dari pengalaman menjadi Kapolri, saya melihat bagaimana peran aktivis bisa menjadi daya penggerak yang signifikan,” kata Sigit.

Harapan untuk Keterlibatan Lebih dalam Aksi Sosial

Sigit juga menyampaikan harapan bahwa setelah pensiun, ia bisa mengambil peran sebagai anggota aktif dalam berbagai organisasi sosial. Ia mengatakan, hal ini bisa menjadi jembatan antara kepolisian dan masyarakat. “Dengan menjadi aktivis, saya bisa lebih dekat dengan rakyat dan ikut serta dalam perubahan yang diinginkan,” ujarnya.

Pernyataan Sigit ini menarik perhatian peserta kongres serta pengamat politik. Beberapa menganggap keinginannya sebagai tanda perubahan paradigma dari kepolisian yang sebelumnya cenderung bersifat penguasaan, ke arah yang lebih proaktif dalam menyuarakan kepentingan rakyat. Namun, ada juga yang mempertanyakan apakah keberadaan mantan Kapolri sebagai aktivis bisa memberikan dampak yang nyata, terutama dalam menggerakkan aksi-aksi demonstrasi yang sering kali dianggap sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah.

“Dengan nada bercanda, Listyo Sigit Prabowo ingin gantian demo setelah jadi aktivis,”

Dalam konteks ini, Sigit mengakui bahwa jabatan sebagai Kapolri memang sering kali terlibat langsung dalam kegiatan demonstrasi. “Selama lima tahun menjabat, saya sering menjadi target dari para pengunjuk rasa,” katanya. Namun, ia berharap setelah pensiun, ia bisa menjadi bagian dari kegiatan yang lebih aktif di luar sistem pemerintahan.

Dari sisi pemerintah, kehadiran aktivis di kabinet bisa menjadi bagian dari upaya membangun konsensus antara pihak kepolisian dan masyarakat. Namun, tantangan muncul ketika posisi aktivis di pemerintahan dianggap sebagai akomodasi kekuasaan, bukan sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam pergerakan sosial. Sigit, dengan harapan menjadi aktivis, menginginkan pembagian peran yang lebih seimbang antara otoritas pemerintah dan masyarakat.

Untuk menambah keragaman, Sigit menyarankan bahwa para aktivis diharapkan tetap menjaga kompetensi mereka dalam memimpin perubahan. “Kami perlu memastikan bahwa setiap aktivis bisa menjadi pengambil kebijakan yang efektif,” tuturnya. Hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pembentukan kebijakan sosial di Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jakarta di Google News.

Leave a Comment