New Policy: Jakbar gelar sunatan massal-operasi katarak gratis pada Juni-Agustus
Jakarta Barat Lakukan Bakti Sosial Sunatan Massal dan Operasi Katarak Gratis di Juni-Agustus
New Policy – Jakarta, 7 Mei – Kota Jakarta Barat berencana menggelar serangkaian kegiatan sosial berupa sunatan massal dan operasi katarak gratis sepanjang bulan Juni hingga Agustus nanti. Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan akses layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu, terutama dalam bidang kesehatan mata dan perawatan kecil. Sebagai pengelola program, Sekretaris Kota Jakarta Barat Firmanuddin Ibrahim menjelaskan bahwa kegiatan akan dilaksanakan di kantor wali kota, dengan persiapan dan koordinasi yang sudah berjalan beberapa waktu.
Penyelenggaraan Bersama Swasta
Firmanuddin menyatakan bahwa program ini akan didukung oleh lembaga swasta melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR). “Kita bekerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk menyediakan bantuan keuangan tambahan, sehingga anak-anak yang ikut bisa merasa lebih antusias,” tuturnya. Selain itu, pihaknya juga memperkirakan bahwa anggaran yang dihabiskan akan didistribusikan secara optimal untuk memastikan semua kebutuhan peserta terpenuhi.
“Rencananya nanti akan menggandeng pihak swasta melalui program CSR,” kata Firman di Jakarta, Kamis (7/5).
Program sunatan massal sendiri menargetkan sebanyak 500 anak dari keluarga miskin di wilayah Jakarta Barat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, terutama di daerah-daerah yang masih terlantar. Prioritas akan diberikan kepada anak yatim serta penghuni rusun Angke, Tambora, dan Rusim Pesakih, Cengkareng. “Setiap kelurahan mengirimkan delegasinya. Kita juga dorong keterlibatan CSR untuk memberikan uang saku tambahan bagi anak-anak agar mereka lebih bersemangat,” ujarnya.
Operasi Katarak untuk Usia 15-80 Tahun
Sementara itu, operasi katarak gratis akan dilakukan pada Agustus mendatang dengan jumlah peserta yang ditentukan sebanyak 250 orang. Kegiatan ini bertujuan untuk menyambut HUT Kemerdekaan Indonesia ke-78. “Program ini terbuka bagi warga usia 15 hingga 80 tahun. Untuk tempat sedang dikaji di beberapa RSUD wilayah Jakarta Barat,” tambah Firman.
Dalam pernyataannya, Firman menekankan bahwa kegiatan ini memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas masyarakat. “Calon pasien yang mengalami gangguan penglihatan sebelumnya kesulitan mengikuti ujian atau bekerja. Dengan adanya layanan ini, mereka bisa kembali aktif dan memperbaiki kualitas hidup,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa selain membantu kebutuhan fisik, program ini juga diharapkan bisa meningkatkan semangat sosial di kalangan warga yang terlantar.
“Kegiatan ini sangat krusial. Dari yang tadinya tidak melihat menjadi bisa melihat kembali, sehingga mereka bisa mengikuti ujian paket atau kembali bekerja,” tambahnya.
Untuk memastikan peserta yang terdaftar tidak batal mengikuti karena hambatan teknis, Firman meminta panitia menyediakan fasilitas transportasi gratis. “Kita ingin menghindari hal-hal yang bisa mengganggu kehadiran warga, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota,” imbuhnya. Selain itu, Pemkot Jakbar juga akan menurunkan kader PKK, Dasawisma, serta para pengurus RT/RW untuk melakukan skrining awal di lapangan.
Program ini diharapkan mampu mencapai 100% kuota dengan memastikan semua warga yang layak mendapatkan bantuan. “Kami akan menyisir seluruh wilayah Jakbar, agar tidak ada orang yang terlewatkan,” tegas Firman. Koordinasi dengan camat dan lurah juga menjadi bagian penting dalam menyasar keluarga yang benar-benar membutuhkan. “Kerja sama ini memastikan bahwa informasi kegiatan sampai ke masyarakat secara merata,” lanjutnya.
Kesiapan dan Panduan untuk Peserta
Menurut Firman, persiapan untuk kedua kegiatan sudah dilakukan secara terstruktur. “Masing-masing kelurahan sudah menyiapkan data peserta dan mengirimkan delegasi untuk memudahkan proses registrasi,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan lembaga swasta dalam menyediakan sumber daya yang memadai. “CSR menjadi bagian penting dalam memperkuat program bakti sosial ini,” jelasnya.
Dalam konteks kesehatan, operasi katarak gratis merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi beban biaya pengobatan bagi masyarakat. “Di beberapa daerah, biaya operasi katarak bisa mencapai jutaan rupiah. Dengan program ini, warga yang kurang mampu bisa menjalani prosedur tanpa perlu mengeluarkan uang secara penuh,” tuturnya. Selain itu, sunatan massal juga dianggap sebagai bentuk pengurangan biaya untuk warga yang membutuhkan.
“Periksa seluruh wilayah Jakbar, pastikan warga kurang mampu mendapatkan bantuan ini,” imbuhnya.
Firman juga memperkirakan bahwa kegiatan ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga. “Melalui sunatan massal, anak-anak bisa terbebas dari hambatan kesehatan, sehingga lebih fokus dalam belajar. Sementara operasi katarak akan memungkinkan warga dewasa kembali beraktifitas secara normal,” kata dia. Ia menegaskan bahwa ini adalah langkah nyata untuk mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan di Jakarta Barat.
Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan program ini berjalan lancar. “Dari pihak kelurahan hingga lembaga swasta, semua berperan aktif dalam menyisir kebutuhan warga. Kita ingin kegiatan ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi benar-benar memberi manfaat,” ujar Firman. Dia juga berharap kegiatan ini bisa menjadi model bagi daerah lain dalam menyelenggarakan bakti sosial serupa.
