Tiga kelompok jamaah yang rentan cuaca ekstrem saat ibadah haji

Tiga kelompok jamaah yang rentan cuaca ekstrem saat ibadah haji

Tiga kelompok jamaah yang rentan cuaca – Dari sisi kesehatan, dokter spesialis gizi klinik Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, mengungkapkan adanya tiga kelompok jamaah haji yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi cuaca yang ekstrem. Menurutnya, kelompok ini mencakup jamaah lansia, penderita penyakit metabolik, serta individu dengan riwayat gangguan saluran cerna. Informasi ini disampaikan saat ia dihubungi ANTARA, Senin, dalam rangka memperingatkan para jemaah sebelum memasuki rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

“Ada kelompok jemaah dengan riwayat penyakit metabolik, jemaah usia lansia, serta jemaah dengan riwayat gangguan saluran cerna,” kata Pande Putu.

Pande Putu menjelaskan, kelompok tersebut rentan mengalami dehidrasi karena tubuh mereka lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan kehilangan cairan. Faktor-faktor seperti usia lanjut, kondisi penyakit kronis, atau riwayat gangguan pencernaan memperkuat risiko ini. Ia menekankan bahwa dehidrasi tidak hanya menyebabkan kelelahan, tetapi juga memicu peningkatan beban kerja pada jantung serta memperparah fungsi ginjal, terutama bagi jamaah yang sebelumnya memiliki kondisi medis pendamping.

Dalam menghadapi suhu tinggi, kelompok rentan ini perlu lebih waspada. Gejala awal yang sering muncul mencakup tubuh terasa lemah, pusing, nyeri kepala, pandangan yang kabur, hingga mual. “Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda awal peringatan sebelum kondisi memburuk,” tambah Pande Putu. Ia mengimbau jamaah untuk tidak menunggu rasa haus sebagai tanda untuk minum, karena pada tahap dehidrasi kronis, indikator rasa lapar bisa berkurang.

“Usahakan untuk konsumsi cairan sedikit tapi bertahap,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Pande Putu menyarankan jamaah mengoptimalkan asupan cairan dengan cara rutin meminum air mineral, mengonsumsi buah-buahan yang memiliki kadar air tinggi, dan memakan makanan berkuah. “Konsumsi buah-buahan dengan kandungan air yang tinggi, serta asupan dengan kuah, sangat membantu menjaga hidrasi tubuh,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini bisa mencegah komplikasi serius akibat cuaca ekstrem.

READ  New Policy: Pameran seni ART with HEART wujud semangat inklusivitas kreativitas

Selain peringatan dari Pande Putu, Kementerian Haji dan Umrah RI juga aktif memberikan informasi terkait suhu panas yang terjadi di Tanah Suci. Melalui unggahan di media sosial, Kemenhaj meminta jamaah untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan sejak awal. Dalam postingan tersebut, mereka memperingatkan bahwa cuaca ekstrem bisa memperberat kondisi tubuh, terutama bagi jamaah yang masuk ke dalam kategori rentan.

Panduan dari Kemenhaj mencakup beberapa langkah penting. Pertama, jemaah diimbau untuk minum air secara rutin, tanpa menunggu gejala rasa haus. Kedua, penggunaan payung atau perlindungan berwarna terang dianjurkan untuk mengurangi paparan langsung terhadap panas matahari. Ketiga, istirahat berkala di tempat teduh diperlukan untuk mencegah kelelahan dan mencegah peningkatan suhu tubuh yang berlebihan. “Pengelolaan hidrasi dan istirahat menjadi kunci dalam menjaga kesehatan selama ibadah,” jelas Kemenhaj dalam unggahannya.

Dalam konteks ibadah haji, suhu tinggi bisa menjadi tantangan utama bagi kebugaran fisik dan mental jamaah. Aktivitas berat seperti berjalan kaki, berdiri di bawah terik matahari, dan berbagai rutinitas ibadah berpotensi mempercepat kehilangan cairan tubuh. Pande Putu menyoroti bahwa dehidrasi sering kali tidak terdeteksi sejak awal, sehingga perlu diatasi secara proaktif. “Kurangnya cairan bisa mengganggu proses metabolisme dan memicu komplikasi serius jika tidak diperhatikan,” tegasnya.

Kemenhaj juga memperhatikan pengaruh cuaca ekstrem terhadap kesehatan jamaah. Mereka menyarankan penggunaan pakaian berbahan ringan, serta pengaturan waktu beribadah agar tidak terlalu lama dalam kondisi panas. Selain itu, pihaknya mendorong kerja sama antara tim medis dan jemaah dalam memantau kondisi kesehatan secara berkala. “Pencegahan lebih efektif daripada penanganan setelah terjadi keadaan darurat,” lanjut Kemenhaj.

Menurut Pande Putu, kelompok rentan tersebut memerlukan perhatian ekstra selama acara ibadah haji. Ia menyarankan jamaah lansia untuk mengatur jadwal minum dan istirahat lebih ketat, sementara jamaah dengan riwayat penyakit metabolik harus memantau asupan gula dan lemak dalam makanan. Bagi yang memiliki masalah pencernaan, konsumsi makanan berkuah dan hindaran dari makanan yang terlalu pedas atau berlemak dianjurkan. “Asupan nutrisi yang seimbang juga penting untuk menunjang daya tahan tubuh,” katanya.

READ  Solving Problems: Dua karya Indonesia di Venice Biennale angkat tradisi Melayu

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Kemenhaj menyediakan layanan kesehatan darurat serta memastikan tersedia sumber daya air yang cukup di berbagai tempat ibadah. Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan badan kesehatan lokal untuk memantau kondisi cuaca secara real-time dan memberikan informasi terkini kepada jamaah. “Kemudahan akses ke air dan perlindungan dari panas akan meminimalkan risiko dehidrasi,” jelas Kemenhaj.

Dalam situasi suhu tinggi, tubuh manusia kehilangan cairan secara cepat melalui keringat dan pernapasan. Untuk menjaga keseimbangan cairan, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air, terutama sebelum dan setelah beraktifitas. Menurut Pande Putu, kebiasaan ini bisa mencegah komplikasi seperti kejang otot, pusing, dan bahkan gangguan pada fungsi hati. “Selain itu, makanan bergizi yang mudah dicerna juga berperan dalam memperkuat daya tahan tubuh,” tambahnya.

Pencegahan dehidrasi selama ibadah haji juga tergantung pada kesadaran jamaah. Pande Putu mengingatkan bahwa kelelahan, kepanasan, dan kondisi cuaca ekstrem bisa memperburuk gejala penyakit yang sudah ada. “Dengan menerapkan pola hidrasi yang baik, risiko gangguan kesehatan dapat dikurangi secara signifikan,” katanya. Ia menekankan pentingnya pendidikan kesehatan sebelum keberangkatan, agar para jamaah memahami cara menjaga kondisi tubuh mereka selama di Tanah Suci.