Pemkot Yogyakarta Berencana Mengoperasikan Perahu Tempel 7 PK untuk Memantau Kebersihan Kali Code
Special Plan – Yogyakarta, JPNN.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sedang berupaya memperketat pengawasan terhadap kualitas lingkungan sungai, khususnya di Kali Code. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memperbaiki kondisi aliran air yang selama ini menjadi sumber masalah karena tumpukan sampah di sepanjang tepinya. Wakil Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengungkapkan rencana pembelian perahu bermotor dengan mesin tempel 7 PK yang akan digunakan untuk patroli rutin. “Kami akan membeli perahu berdaya 7 PK untuk berpatroli di Kali Code. Tujuannya adalah mengontrol titik-titik sampah yang masih terjadi di daerah tersebut,” jelas Hasto dalam wawancara di Kota Yogyakarta, Minggu (7/6/2026).
Kali Code, yang berada di wilayah strategis kota, menjadi fokus utama karena fungsi ekosistemnya yang vital. Selain itu, aliran sungai ini juga sering menjadi tempat berkumpul warga sehari-hari. Dengan adanya perahu tempel, Pemkot Yogyakarta berharap bisa memberikan pengawasan lebih intensif terhadap aktivitas masyarakat di sekitar sungai. Perahu ini akan bergerak dari hulu hingga hilir untuk memastikan sampah tidak lagi menumpuk dan mengganggu kebersihan lingkungan. “Patroli ini tidak hanya untuk menindak, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat agar lebih sadar akan dampak sampah terhadap ekosistem air,” tambah Hasto.
“Saya ingin masyarakat menganggap membuang sampah ke sungai sebagai hal yang tabu. Ini adalah bagian dari upaya kami merekonstruksi perilaku masyarakat agar lebih peduli lingkungan,” tegas Hasto.
Rekonstruksi perilaku masyarakat menjadi prioritas utama dalam program ini. Hasto menyebut, selama ini warga masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan akhir. Dengan patroli menggunakan perahu tempel, pihaknya berharap bisa mengajak masyarakat untuk merubah kebiasaan tersebut. “Kami ingin mengubah paradigma warga agar sungai tidak lagi dianggap sebagai tempat buang sampah sembarangan,” tambahnya.
Upaya memperbaiki kualitas air Kali Code juga melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti kelurahan, organisasi masyarakat, dan lembaga swadaya. Hasto menjelaskan, aliran sungai yang cukup deras menjadi tantangan dalam pembersihan. Namun, perahu tempel 7 PK diharapkan bisa menjangkau area yang sulit diakses oleh alat lain. “Perahu ini dirancang untuk beroperasi efektif di berbagai kondisi air, termasuk saat arus deras,” kata Hasto. Dengan berpatroli secara berkala, Pemkot Yogyakarta berupaya memastikan sampah tidak lagi menumpuk dan mengganggu kebersihan aliran sungai.
Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi alasan pilihan Kali Code sebagai target utama. Wilayah ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi, sehingga kebersihan sungai menjadi bagian dari tampilan kota. “Kali Code berada di tengah-tengah kawasan yang sangat bersejarah dan berbudaya. Jika sungai ini tidak bersih, akan berdampak besar pada citra Yogyakarta,” ujar Hasto. Selain itu, aliran sungai ini juga sering digunakan oleh warga sehari-hari, baik untuk berperahu maupun aktivitas ibadah.
“Kami ingin masyarakat menganggap bahwa membuang sampah ke sungai adalah hal yang tabu. Ini adalah bagian dari upaya kami merekonstruksi perilaku masyarakat agar lebih peduli lingkungan,” tegas Hasto.
Pemkot Yogyakarta menyadari bahwa kebersihan Kali Code bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah sosial. Hasto menyebut, pengawasan yang ketat perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan lingkungan sungai. “Ini adalah bagian dari langkah strategis untuk merekonstruksi kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan alam,” tambahnya. Dengan adanya perahu tempel, harapannya adalah masyarakat akan lebih terlibat dalam menjaga kebersihan sungai, baik melalui partisipasi langsung maupun dukungan dari luar.
Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kualitas air Kali Code, yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Hasto menyebut, kawasan wisata harus memiliki lingkungan yang bersih dan sehat. “Kali Code nantinya akan menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang khas. Kami ingin sampah tidak lagi menjadi hambatan,” tutur Hasto. Pemkot Yogyakarta bersikeras mengubah paradigma masyarakat agar sungai bukan lagi menjadi tempat buang sampah, tetapi lebih dihargai sebagai sumber kehidupan.
Beberapa langkah pendukung telah dipersiapkan untuk memastikan suksesnya program ini. Di antaranya, Pemkot Yogyakarta akan memberikan pelatihan kepada petugas patroli tentang cara memilah sampah dan memastikan penanganan yang tepat. Selain itu, pihaknya juga berencana menjalin kerja sama dengan organisasi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak sampah terhadap lingkungan. “Kami ingin masyarakat merasa bahwa pengawasan ini bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari diri mereka sendiri,” ujar Hasto.
Patroli menggunakan perahu tempel 7 PK juga akan menjadi bahan evaluasi dalam menilai efektivitas program. Hasto menyebut, keberhasilan pengawasan kebersihan sungai akan diukur dari penurunan volume sampah dan meningkatnya keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan. “Kami ingin menciptakan kebiasaan baru masyarakat, yaitu sampah yang dibawa pulang, bukan dibuang ke sungai,” jelasnya. Dengan adanya perahu tempel, Pemkot Yogyakarta berharap bisa mempercepat proses pemulihan kondisi Kali Code.
Keberadaan Kali Code sebagai bagian dari sistem air kota juga menjadi pertimbangan dalam rencana pengadaan perahu tempel. Aliran sungai ini berperan dalam mengalirkan air ke daerah lain, sehingga kebersihannya memengaruhi seluruh kota. “Jika Kali Code tidak bersih, itu akan memengaruhi aliran air ke daerah lain dan merusak ekosistem secara keseluruhan,” tambah Hasto. Selain itu, sungai ini juga berpotensi menjadi jalur wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun internasional.
Kebijakan ini merupakan salah satu dari beberapa upaya Pemkot Yogyakarta dalam meraih lingkungan yang lebih hijau. Hasto menyebut, selain pengawasan kebersihan, pemerintah juga sedang mengevaluasi sistem pembuangan sampah di sekitar sungai. “Kami sedang menyusun sk
