5 Daerah di Jateng Jadi Sarang Peredaran Narkoba – Semarang Urutan Pertama

1 bulan ago  ·  3 min read
By William Garcia - pesonatropis.com
4ddb7814-7736-4e37-9a3c-2b06d6bfdb64-0

5 Wilayah di Jawa Tengah Terungkap sebagai Pusat Peredaran Narkoba, Semarang Pemimpin

Pesonatropis.com – Sembilan belas bulan terakhir, kepolisian Jawa Tengah berhasil mengungkap berbagai kasus narkoba di lima wilayah strategis. Wilayah-wilayah tersebut mencakup Kota Semarang, Sukoharjo, Surakarta, Kebumen, dan Banyumas. Sebagai pusat utama peredaran narkotika, Semarang berada di posisi pertama dengan jumlah pengungkapan kasus yang paling signifikan.

Dalam periode tersebut, jajaran Polda Jateng menangani 1.201 kasus penyalahgunaan dan perdagangan narkotika. Dari total pelaku yang diamankan, sebanyak 1.485 orang berstatus tersangka. Barang bukti yang berhasil disita mencapai 215,81 kilogram, yang terdiri dari berbagai jenis narkoba. Angka ini mencerminkan intensitas kegiatan ilegal di daerah-daerah tersebut.

Kombes Yos Guntur, Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, menjelaskan bahwa pelaku kini lebih cermat dalam menghindari tindakan petugas. “Mereka mulai memanfaatkan teknologi untuk menyembunyikan aktivitasnya,” ujarnya dalam taklimat media di Mapolda Jateng. Menurut dia, ini menjadi tantangan baru bagi petugas dalam menegakkan hukum.

Kota Semarang, sebagai ibu kota provinsi, memang menjadi titik sentral peredaran narkoba. Selama enam bulan terakhir, beberapa penangkapan besar dilakukan, termasuk kasus sabu yang mencapai 2 kilogram pada 15 Februari 2026. Penangkapan ini menunjukkan keberhasilan petugas dalam mengungkap jaringan pengedar.

Menurut data yang dihimpun, barang bukti narkoba yang diamankan termasuk 24,41 kilogram sabu, 1,77 gram kokain, 2.014 butir ekstasi, atau setara 604,2 gram. Selain itu, 980,91 gram cairan sintetis, 11,18 kilogram ganja, 5,83 kilogram tembakau sintetis, dan 24.188 butir psikotropika. Total obat berbahaya yang disita mencapai 551.789 butir, dengan berat 165,53 kilogram.

Dalam operasi tersebut, polisi juga menyita sejumlah aset pelaku, seperti 28 sepeda motor, 6 kendaraan roda empat, dan uang tunai senilai Rp9,45 juta. Selain itu, ribuan botol minuman keras ilegal serta oplosan juga diamankan. Pemimpin operasi, Kombes Yos Guntur, menjelaskan bahwa penyitaan ini mencerminkan keberhasilan tim dalam menindak lanjuti laporan masyarakat.

Kebumen dan Banyumas, meski tidak seaktif Semarang, tetap menjadi daerah yang menjadi sasaran utama. Penangkapan di Kebumen, misalnya, mengungkap kegiatan produksi narkoba yang cukup intens. Di Banyumas, penyelidikan menemukan keterlibatan pelaku dalam distribusi sabu ke daerah lain.

Sukoharjo dan Surakarta juga menunjukkan peningkatan jumlah kasus. Dalam lima bulan terakhir, polisi menangani sebanyak 120 kasus di Sukoharjo dan 150 kasus di Surakarta. Kombes Yos Guntur menegaskan bahwa daerah-daerah ini menjadi pusat distribusi untuk wilayah sekitarnya, terutama di pedalaman Jawa Tengah.

Menurut laporan, sejumlah pelaku memanfaatkan jaringan transportasi laut untuk mengirimkan narkoba ke daerah terpencil. Hal ini memperlihatkan upaya mereka untuk menghindari pengawasan darat. Selain itu, penggunaan media sosial dan pesan teks menjadi alat utama untuk koordinasi antar pelaku.

Angka total barang bukti narkoba mencapai 215,81 kilogram, dengan rincian sabu menjadi jenis yang paling dominan. Dari keempat kasus sabu besar, tiga di antaranya terjadi di Semarang. Kombes Yos Guntur menyebutkan bahwa kota ini memiliki akses mudah ke pasar internasional, sehingga menjadi tempat transit bagi barang haram.

Terlepas dari volume barang bukti, angka 1.485 tersangka menunjukkan bahwa banyak pelaku yang beroperasi secara terorganisasi. Mereka sering menggunakan peran ganda, seperti mengaku sebagai pedagang biasa atau kurir, untuk mengelabui petugas.

Dalam beberapa bulan terakhir, operasi antinarkoba di Jateng menunjukkan peningkatan strategi petugas. Teknologi informasi digunakan untuk memantau kegiatan pelaku, sementara penyelidikan dilakukan secara terpadu antar polisi di berbagai kabupaten. Kombes Yos Guntur menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi kunci dalam memerangi narkoba.

Para pelaku juga menyesuaikan metode distribusi. Dengan mengandalkan sistem pengiriman yang tersembunyi, mereka mampu menghindari ransack oleh petugas. Misalnya, narkoba dibungkus dalam bahan makanan atau dikemas dalam bentuk minuman keras ilegal yang lebih mudah dijual ke masyarakat.

Menurut statistik terkini, penggunaan narkoba di Jateng meningkat seiring bertambahnya akses ke produk-produk ilegal. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan penindakan petugas tidak cukup hanya untuk mengungkap kasus, tetapi juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba.

Dengan adanya penangkapan besar di Semarang, Kebumen, Banyumas, Sukoharjo, dan Surakarta, kepolisian Jateng menggambarkan bahwa peredaran narkoba tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Daerah pedesaan juga menjadi sumber utama, terutama karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap dampak penggunaan narkoba.

JPNN.com Jateng melaporkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari peran masyarakat dalam memberikan informasi. Banyak kasus berhasil diungkap berkat laporan dari warga setempat. Kombes Yos Guntur menyebutkan bahwa kerja sama antara petugas dan masyarakat menjadi elemen penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba.

“Para pelaku kini makin memanfaatkan teknologi untuk menghindari penindakan petugas,” kata Kombes Yos Guntur. Hal ini membutuhkan adaptasi dari kepolisian dalam menggunakan alat-alat modern untuk menangkap pelaku yang semakin canggih dalam operasinya.

MORE FROM THIS CATEGORY