New Policy: Presiden Xi beri dukungan bagi PBB saat temui Direktur Jenderal UNESCO

Presiden Xi Beri Dukungan untuk PBB Saat Bertemu dengan Direktur Jenderal UNESCO

New Policy – Beijing, 31 Desember 2025 – Pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dengan Khaled El-Enany, Direktur Jenderal UNESCO, dilakukan di Balai Besar Rakyat China, Beijing. Dalam kesempatan tersebut, Xi menyatakan dukungan terhadap pendekatan multilateralisme serta peran organisasi internasional seperti PBB. Pernyataan tersebut ditujukan untuk menegaskan komitmen China dalam menjaga kewibawaan institusi global dan memperkuat kolaborasi dengan UNESCO.

Presiden Xi menyampaikan bahwa UNESCO telah berkontribusi signifikan dalam memperluas pemahaman antarbangsa, membangun kepercayaan, serta mendorong pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan. “Kerja sama UNESCO memainkan peran penting dalam membangun tata kelola dunia yang lebih harmonis,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa istri tercintanya, Peng Liyuan, merupakan utusan khusus UNESCO yang berperan dalam meningkatkan akses pendidikan bagi anak dan perempuan di berbagai negara.

“China selalu berkomitmen pada multilateralisme sejati, mendukung serta menjaga kredibilitas PBB, sekaligus memberikan dukungan untuk UNESCO dalam berkontribusi pada pengembangan global,” tambah Xi.

Dalam diskusi, Xi menyoroti bahwa UNESCO tetap menjadi mitra penting dalam memperkuat peran pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam menjaga perdamaian serta progres pembangunan di tingkat internasional. “Kita bersama dapat mendorong tata kelola dunia yang lebih adil dan inklusif,” jelasnya. Ia juga menyatakan keinginan untuk mengejar kerja sama strategis yang lebih dalam dalam bidang kecerdasan buatan, inisiatif penelitian terbuka, pendidikan digital, serta sektor lainnya.

Khaled El-Enany, yang baru dilantik sebagai Direktur Jenderal UNESCO pada November 2025, mengakui sambutan yang hangat dari pihak Tiongkok selama kunjungan pertamanya ke Beijing. “Sebagai perwakilan dari Afrika, Mesir, dan negara-negara Muslim, saya berharap UNESCO dapat mempersatukan anggota-anggotanya, memperkuat dialog, serta mendorong pembelajaran antarperadaban,” katanya. El-Enany juga menyampaikan apresiasi atas dukungan China yang terus dijaga terhadap UNESCO.

“UNESCO tetap mengingat pidato penting Presiden Xi Jinping pada 2014, ketika beliau berkunjung ke sini,” tambah El-Enany. “Kami berharap kerja sama dengan Tiongkok bisa terus diperkuat untuk meningkatkan standar pendidikan dan kebudayaan global, serta mendorong pertukaran teknologi dan ilmu pengetahuan yang lebih efektif.”

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di sisi Presiden Xi, sedangkan El-Enany didampingi oleh Shahbaz Khan, Direktur dan Perwakilan UNESCO untuk wilayah Asia Tenggara. Dalam sesi diskusi, keduanya menyoroti pentingnya kerja sama global untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan keadilan antarbangsa.

READ  Topics Covered: Takaichi dan Trump Bahas Xi serta Indo-Pasifik

China, sebagai anggota UNESCO yang aktif, memiliki peran strategis dalam mendukung peran organisasi tersebut. Hal ini terlebih setelah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk menarik diri dari UNESCO, mulai 31 Desember 2026. Keputusan AS tersebut dianggap sebagai respons terhadap pembangunan internasional UNESCO yang dinilai bertentangan dengan kebijakan “America First” serta karena pengakuan terhadap Palestina yang dianggap memperkuat retorika anti-Israel di dalam organisasi.

Xi menegaskan bahwa tata kelola global kini berada di titik kritis, dengan munculnya kembali pola pikir Perang Dingin, hegemonisme, dan unilateralisme. “Kita harus bersama menghadapi tantangan ini, memperkuat kerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua bangsa,” jelas Xi. Ia juga menyebut bahwa keberlanjutan perdamaian, pembangunan, dan kemitraan antarbangsa tidak berubah meski adanya tekanan politik global.

El-Enany menekankan bahwa UNESCO terus berupaya untuk menjaga keseimbangan dalam mencapai tujuan-tujuannya, termasuk membangun komunitas umat manusia yang saling menguntungkan. “Kami ingin mengembangkan empat inisiatif global yang akan menjadi fondasi bagi pembangunan bersama,” katanya. Inisiatif tersebut mencakup peningkatan akses pendidikan, pengembangan sains, peningkatan keberagaman budaya, serta perlindungan warisan global.

Dalam konteks saat ini, China menjadi pendorong utama untuk menjaga keberlangsungan UNESCO. Pihak Tiongkok memandang bahwa keberadaan organisasi tersebut sangat penting dalam mendorong keadilan internasional dan memperkuat peran pendidikan sebagai alat pembangunan. Xi juga menyatakan bahwa kerja sama dengan UNESCO akan berdampak besar pada upaya membangun peradaban yang saling menghormati dan hidup berdampingan harmonis.

Sejarah keanggotaan Tiongkok dalam UNESCO menunjukkan komitmen yang konsisten. Meski sebelumnya AS memutuskan menarik diri, China tetap berada di garis depan untuk mendukung peran UNESCO dalam memperkuat hubungan internasional dan memberikan manfaat global. “Dengan menggandeng UNESCO, kita bisa memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dunia,” tutur Xi. Pernyataan ini menegaskan bahwa Tiongkok tidak hanya aktif dalam mendukung organisasi tersebut, tetapi juga menjadi pengambil kebijakan yang bertanggung jawab.

READ  Kapal tanker Jepang berhasil lewati Hormuz tanpa biaya tol

Kehadiran El-Enany di Beijing menandai kunjungan ketiga ke Tiongkok sebagai Direktur Jenderal UNESCO. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara Tiongkok dan negara-negara lain, terutama di Asia Tenggara, untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. “Kami percaya bahwa UNESCO bisa menjadi tempat yang melayani seluruh umat manusia, bukan hanya sebagian kecil,” tegasnya. Pandangan ini sejalan dengan aspirasi Xi untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan.

Dengan latar belakang keputusan AS yang memutuskan hubungan dengan UNESCO, Tiongkok menunjukkan keberpihakannya pada keadilan internasional. Xi menegaskan bahwa inisiatif global seperti yang disebutkan akan menjadi pilar utama dalam menghadapi tantangan kekinian. “Kita harus terus berupaya untuk menjadikan UNESCO sebagai alat pemersatu, bukan penghalang,” pungkasnya. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam menguatkan hubungan bilateral serta membangun kerja sama yang lebih luas antarnegara.

Bagi UNESCO, kunjungan El-Enany ke Beijing menegaskan bahwa Tiongkok tetap menjadi mitra kunci. Pihak organisasi ini mengapresiasi kontribusi Tiongkok dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia, terutama melalui pengembangan pendidikan dan kebudayaan. “Kerja sama yang telah terjalin akan terus dijaga dan diperluas, demi keberlanjutan komunitas global,” tambah El-Enany. Dengan berbagai inisiatif yang diusung, kedua pihak menargetkan untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan berkelanjutan.

Kehadiran Xi Jinping dan El-Enany dalam pertemuan tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat kerangka kerja global. Meski situasi politik dunia terus berubah, mereka yakin bahwa kolaborasi antara Tiongkok dan UNESCO bisa menjadi pelopor dalam mendorong peradaban yang saling menghormati dan berbagi hasil pembangunan.