Historic Moment: Media sebut 2 kapal perusak AS melintasi Hormuz, hindari serangan Iran
Media sebut 2 kapal perusak AS melintasi Hormuz, hindari serangan Iran
Historic Moment – Kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) USS Truxtun dan USS Mason berhasil melewati Selat Hormuz setelah menghindari ancaman dari Iran, seperti yang dilaporkan oleh CBS News pada Senin malam. Laporan tersebut merujuk pada pernyataan pejabat Pentagon yang menyatakan bahwa kedua kapal tersebut menghadapi serangan terkoordinasi, termasuk rudal, drone, serta perahu kecil yang dilemparkan ke arah mereka. Meski demikian, tidak ada satupun kapal AS yang terkena serangan, menurut informasi yang diterima dari sumber anonim.
Menurut laporan, Iran mengambil langkah serangan berkelanjutan untuk menghambat perjalanan kedua kapal perusak tersebut. Pejabat Pentagon menyebut bahwa upaya militer AS, yang didukung oleh helikopter Apache dan pesawat tempur, berhasil mencegah setiap ancaman yang datang. Dalam proses ini, pasukan AS menenggelamkan enam perahu kecil Iran yang menargetkan kapal-kapal sipil, serta mencegat sejumlah rudal dan drone milik Iran. Langkah ini dianggap sebagai bentuk pertahanan terhadap ancaman yang terus-menerus mengancam jalur vital tersebut.
Presiden Trump optimis Iran tidak mengancam keamanan Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan bahwa Iran “lebih lunak” dibandingkan sebelumnya. Ia menekankan bahwa negara itu sedang memulihkan kelancaran pelayaran komersial di Selat Hormuz, dengan rencana operasi yang bertujuan mengamankan jalur transportasi minyak. Trump menyatakan, “Jika Iran menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz, mereka akan dihancurkan hingga lenyap dari muka bumi.”
“Serangan itu bukan tembakan besar,” kata Trump dalam wawancara via telepon dengan ABC News, yang menunjukkan bahwa ia menganggap intensitas serangan Iran tidak terlalu mengkhawatirkan. Meski mengakui ancaman dari Iran, Trump meremehkan efeknya, menurut pernyataannya.
Di sisi lain, Brad Cooper, kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS, memberikan penjelasan lebih lanjut tentang situasi di Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan awak media, ia menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan “beberapa rudal jelajah, drone, dan perahu kecil” ke arah kapal-kapal yang dilindungi AS. Menurut Cooper, usaha pasukan AS dalam menangkal serangan tersebut memastikan bahwa kapal-kapal milik negara itu tetap aman dari serangan musuh.
Iran membantah klaim AS soal penyeberangan kapal komersial
Sementara itu, Iran menyangkal klaim AS bahwa kapal komersial atau tanker minyak telah melewati Selat Hormuz. Hal ini dilaporkan oleh kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, yang menegaskan bahwa tidak ada kapal sipil atau kendaraan bermotor yang melintas selama serangan tersebut. Meskipun AS menuding bahwa Iran melakukan perang gerilya terhadap kapal-kapal mereka, Iran mengklaim bahwa semua operasi terjadi dalam batas-batas gencatan senjata.
Gencatan senjata antara AS dan Iran mulai berlaku pada 8 April, setelah sikap diplomatik yang terbentuk di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Teheran serta kota-kota Iran lainnya. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, dan warga sipil. Dalam balasan, Iran memulai gelombang serangan rudal dan drone ke arah Israel dan target-target milik AS di Timur Tengah, sekaligus memutuskan untuk melarang kapal-kapal terkait AS dan Israel melewati Selat Hormuz.
Strategi militer AS dan respons Iran
Menurut sumber dalam Pentagon, kapal perusak AS tidak hanya menghadapi serangan dari Iran tetapi juga berada dalam situasi tekanan yang tinggi. Serangan tersebut dianggap sebagai upaya Iran untuk memperlihatkan kekuatannya di tengah gencatan senjata, sekaligus menghentikan operasi logistik AS yang kritis untuk kebutuhan energi global. Dengan menempuh Selat Hormuz secara aman, AS menunjukkan kemampuannya dalam melindungi perahu-perahu miliknya, meski terdapat ancaman dari Iran.
Iran, sebagai negara yang memiliki akses ke perairan strategis tersebut, terus mempertahankan serangan udara dan perahu kecil sebagai alat tekanan. Meski pernyataan mereka menyangkal keberadaan kapal komersial, sejumlah sumber menyebut bahwa negara itu sedang mencoba mengalihkan perhatian internasional dari aksi teroris yang terjadi di wilayah lain. Strategi ini dinilai sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat posisi politiknya dalam situasi konflik yang terus berlanjut.
Situasi geopolitik Selat Hormuz dan implikasi global
Selat Hormuz, sebagai jalur utama pengiriman minyak kecil, menjadi sasaran utama perang dagang dan konflik militer antara AS dan Iran. Pernyataan dari Pentagon dan Trump menunjukkan bahwa AS berupaya mempertahankan dominasi di wilayah tersebut, sementara Iran mencoba menegaskan keberadaannya melalui serangan kecil. Langkah ini memicu ketegangan di sepanjang garis depan, dengan risiko peningkatan konflik yang bisa mengganggu kestabilan pasar minyak dunia.
Dengan keberhasilan kapal perusak AS melewati Selat Hormuz, AS menegaskan kemampuan operasionalnya dalam menjaga keamanan lalu lintas laut. Namun, pernyataan Iran yang membantah keberadaan kapal komersial menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas gencatan senjata. Meskipun tidak ada kerusakan signifikan terjadi, skenario penembakan yang intensif tetap menjadi ancaman terhadap stabilitas geopolitik kawasan Timur Tengah.
Analisis dari berbagai lembaga intelijen menyatakan bahwa Iran berusaha memperoleh dukungan dari kawasan Timur Tengah dengan mengancam AS di Selat Hormuz. Hal ini terjadi di tengah kontestasi kekuasaan antara negara-negara besar di kawasan tersebut. Meskipun Trump mengatakan bahwa Iran “lebih lunak,” situasi ini tetap memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan perdamaian antara kedua pihak.
Di sisi lain, Iran berupaya menegaskan bahwa gencatan senjata tidak berarti kehilangan kemampuan untuk menyerang. Pernyataan dari Tasnim menunjukkan bahwa Iran masih aktif dalam mengawasi gerakan kapal AS dan menunggu respons yang tepat dari pihak lawan. Strategi ini dinilai sebagai bagian dari upaya Iran untuk mempertahankan kredibilitas militer mereka di tengah situasi yang dipenuhi tekanan internasional.
