Special Plan: Perusahaan China perdalam kerja sama ekosistem lintas perbatasan

Perusahaan China Perdalam Kerja Sama Ekosistem Lintas Perbatasan

Special Plan – Nanjing menjadi pusat perhatian saat sebuah peta dunia di kantor Kang Dingwu, manajer umum perusahaan teknologi di wilayah timur Tiongkok, ditampilkan dengan berbagai tanda penanda warna. Peta ini menggambarkan ekspansi global perusahaan yang semakin meluas, mencerminkan peningkatan aktivitas bisnis Tiongkok ke luar negeri. Dalam konteks ini, perusahaan manufaktur swasta di Jiangsu yang diketahui sebagai bagian dari ekosistem ini, mencatatkan nilai ekspor sebesar 556 juta yuan (1 yuan = Rp2.522) pada 2025, yang merupakan kenaikan signifikan sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekspor Tiongkok dan Pasar Asia Tenggara

Kang Dingwu menjelaskan bahwa momentum ekspor tersebut didorong oleh permintaan yang meningkat di seluruh Asia Tenggara. Banyak perusahaan Tiongkok yang terus menciptakan peluang pasar baru di wilayah tersebut. Contohnya, kendaraan listrik beroda empat perusahaan ini, yang dilengkapi kanopi untuk melindungi dari sinar matahari dan hujan, serta dua baris tempat duduk yang bisa berfungsi sebagai ruang kargo, menjadi produk yang diminati oleh konsumen di kawasan ASEAN.

“Kendaraan listrik beroda empat kami, yang dilengkapi kanopi untuk perlindungan dari sinar matahari dan hujan serta dua baris tempat duduk yang juga berfungsi sebagai ruang kargo, terbukti sangat populer di kalangan rumah tangga yang lebih besar di pasar ASEAN,” tambah Kang.

Ekspansi ini bukan hanya fenomena lokal, tetapi mencerminkan kekuatan mesin manufaktur Tiongkok yang semakin luas. Di Distrik Xishan, kota Wuxi, yang dianggap sebagai salah satu pusat produksi sepeda listrik utama, kendaraan meluncur dari jalur perakitan dengan kecepatan 2,4 unit per menit. Produk-produk ini dikirim ke berbagai negara di seluruh dunia, termasuk wilayah ASEAN yang menjadi fokus utama.

READ  Important Visit: Saddil Ramdani resmi kembali ke timnas Indonesia

Pertumbuhan Ekspor ke ASEAN

Data dari lembaga bea cukai menunjukkan bahwa pengiriman produk ke negara-negara ASEAN mengalami pertumbuhan stabil sepanjang tahun 2025. Angka ini menegaskan bahwa hubungan ekonomi antara Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara terus berkembang. Di tengah ketidakpastian global, perusahaan Tiongkok mempercepat strategi mereka untuk memperkuat keterlibatan dengan ASEAN, dengan tujuan menciptakan ekosistem perdagangan dan investasi yang lebih tangguh.

Kemitraan Strategis Komprehensif Tiongkok-ASEAN yang memasuki tahun kelima pada 2026, serta peringatan 50 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara, memberikan momentum positif bagi perusahaan-perusahaan yang berusaha merambah pasar baru. Penyesuaian ini terlihat di berbagai sektor, termasuk infrastruktur. Baru-baru ini, 785 unit peralatan teknik buatan Tiongkok dikirim dari Pelabuhan Jiangyin ke Indonesia, yang akan digunakan untuk mendukung pembangunan ibu kota baru negara tersebut, Nusantara.

Perusahaan Baru dan Peluang Ekspor

Di sisi lain, sejumlah perusahaan baru juga mulai menjajaki pasar ASEAN. Sebagai contoh, 4.565 kilogram roti beku yang diproduksi oleh perusahaan makanan berbasis di Jiangsu baru-baru ini tiba di Singapura, menandai ekspor pertama mereka ke kawasan tersebut. Chen Shuang, manajer impor-ekspor perusahaan ini, mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah mencari daerah dengan permintaan tinggi dan pola konsumsi yang mengalami perubahan, agar dapat memperluas ruang pertumbuhan bisnis.

“Kami menargetkan kawasan dengan permintaan yang kuat dan peningkatan pola konsumsi yang jelas, dengan harapan dapat membuka ruang pertumbuhan baru,” kata Chen Shuang.

Ekspor ke ASEAN juga menunjukkan tren yang konsisten. Berdasarkan data Bea Cukai Nanjing, total perdagangan luar negeri Jiangsu mencapai 1,59 triliun yuan (1 yuan = Rp2.552) pada kuartal pertama 2026, naik 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebanyak 289,99 miliar yuan di antaranya berasal dari perdagangan dengan ASEAN, yang meningkat 19,1 persen. Produk berteknologi tinggi semakin menjadi faktor utama pertumbuhan, karena perusahaan-perusahaan Tiongkok berusaha memperluas jangkauan ke pasar baru.

READ  Key Discussion: Persebaya raup tiga poin usai hajar Arema 4-0

Dukungan Kebijakan dan Pertumbuhan Industri

Manajer urusan bea cukai dari Jiangsu Dingsheng New Energy Materials Co., Ltd., sebuah perusahaan pengolahan aluminium berteknologi tinggi, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut telah memperluas ekspor produk foil aluminiumnya ke Indonesia, Thailand, dan negara-negara lain. Dalam dua bulan pertama 2026, perusahaan ini memperoleh sertifikat asal barang senilai 90 juta yuan, yang berhasil mengurangi beban tarif lebih dari 4 juta yuan.

Ekspansi ke pasar internasional ini diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang memberikan dukungan signifikan. Para perusahaan yang baru memasuki bidang ekspor mulai memanfaatkan peluang ini untuk menembus pasar yang lebih luas. Selain sektor transportasi dan makanan, industri material berteknologi tinggi juga turut berkontribusi pada pertumbuhan ekspor. Dengan adanya kerja sama yang lebih dalam, Tiongkok semakin mendekatkan diri ke ASEAN, menciptakan hubungan ekonomi yang lebih kuat.

Kontribusi Sektor Industri Terhadap Ekosistem Global

Perusahaan-perusahaan yang membangun hubungan ekosistem lintas perbatasan dengan ASEAN juga mendorong keberlanjutan rantai pasok. Diversifikasi produk, baik dalam bentuk kendaraan listrik, peralatan teknik, maupun makanan, menjadi strategi utama. Dengan demikian, ekspor Tiongkok tidak hanya mengandalkan volume besar, tetapi juga memperhatikan keberagaman jenis barang yang dikeluarkan ke pasar luar negeri.

Dari perspektif makro, pertumbuhan ekspor ke ASEAN menegaskan bahwa kawasan ini menjadi prioritas utama bagi perusahaan Tiongkok. Dengan adanya kerja sama yang semakin dalam, seperti penyelarasan standar, pengurangan birokrasi, dan peningkatan akses modal, ekosistem perdagangan antara kedua belah pihak menjadi lebih solid. Di tengah tantangan ekonomi global, ASEAN menjadi partner strategis yang mampu mengimbangi risiko dan memperkuat daya tahan ekonomi Tiongkok.