Facing Challenges: Jumariah, dari sepetak sawah di Maros jadi ikon haji

Jumariah, dari Sebuah Persawahan di Maros Menjadi Simbol Perjalanan Haji

Facing Challenges – Di tengah keheningan dan kehangatan pagi di Makkah, ribuan jemaah berpakaian ihram bergerak seperti ombak yang tak pernah berhenti. Antara kerumunan umat beragama dari berbagai belahan dunia, terselip senyuman tulus di wajah nenek tua yang dihiasi kerutan waktu. Ia adalah Jumariah, seorang buruh tani berusia 70 tahun yang berasal dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kisahnya kini menjadi perbincangan global setelah muncul di berbagai platform media sebagai simbol kekuatan spiritual dalam perjalanan haji 2026.

Jumariah memulai hari dengan tatanan hidup sederhana yang telah menjadi rutinitas selama puluhan tahun. Sebelum fajar benar-benar menyingsing, ia bangkit dari tempat tidur di rumah kecil yang dikelilingi sawah. Tidak ada bantuan dari anak-anaknya, yang masing-masing berada di jalur masing-masing. Ia merasa ditinggalkan oleh kehidupan yang mengalir cepat, tetapi ia menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Setiap pagi, langkahnya menuju kebun yang dikelilingi oleh persawahan, di mana ia memulai aktivitas sehari-hari.

Sebelum menjadi ikon haji, Jumariah adalah sosok yang tidak pernah menyombongkan kemewahan. Hasil panen yang ia kumpulkan tidak selalu menjamin kestabilan ekonomi. Ia menghabiskan hari-harinya dengan tugas yang melelahkan—membersihkan rumput liar dan mengurus tanaman hingga matahari terbenam. Tangannya yang kusam menjadi saksi bisu dari perjuangan hidup yang berlangsung sejak ia memasuki usia senja.

Menjelang hari besar haji, Jumariah memutuskan untuk menempuh perjalanan ke Tanah Suci. Ini bukanlah rencana yang mewah, tetapi pengorbanan yang diukir dari ketekunan. Ia menghabiskan hari-harinya mempersiapkan diri, dengan keterbatasan alat yang dimiliki. Tidak ada mobil mewah atau bantuan yang memudahkan perjalanan, hanya ember plastik yang ditempatkan di sudut rumah sebagai pengingat akan semangatnya.

READ  PPIH Embarkasi Makassar terbangkan JCH asal Sultra ke Makkah

Di Makkah, setiap langkah Jumariah menjadi bukti ketangguhan. Ia tidak hanya berjalan menuju Masjidil Haram, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keikhlasan. Untuk banyak orang, haji adalah peluang untuk menunggu hadiah finansial atau menjual aset berharga. Namun, bagi Jumariah, Baitullah adalah jawaban atas panggilan batin yang ia penuhi dengan keringat dan kesabaran. Ia menempuh perjalanan ini dengan perasaan penuh harapan, karena percaya bahwa kehadiran di Tanah Suci akan menghadirkan makna yang lebih dalam.

Kisah yang Tersembunyi di Balik Kesendirian

Maros, sebuah daerah yang terletak di provinsi Sulawesi Selatan, menjadi tempat lahirnya Jumariah. Selama lebih dari dua dekade, ia tinggal sendirian di tengah persawahan. Anak-anaknya mungkin masih ada, tetapi kehidupan telah menjauhkan mereka dari rumah. Ia menghadapi kesendirian dengan tawakal, menganggap itu sebagai bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Setiap pagi, ia memulai hari dengan merawat ayam-ayam peliharaannya, menyapu pekarangan, dan menyiapkan air untuk mencuci pakaian.

Dari masa kecil hingga usia senja, Jumariah hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak pernah mengeluhkan kesulitan, tetapi menikmati kehidupan yang sebagian besar berada di antara tanaman dan sawah. Di sana, ia belajar tentang kepatuhan dan kerja keras. Dengan jasanya yang tak pernah berhenti, ia menyumbang kecil untuk kemakmuran desa. Namun, ia merasa bahwa kehadiran di Makkah adalah tugas besar yang tak bisa dihindari.

Perjalanan haji bukanlah keputusan spontan, tetapi hasil dari doa-doa yang ia ucapkan setiap hari. Dengan usia yang sudah cukup tua, ia berharap bisa menjalani ritual spiritual ini sebelum ajal menghampiri. Meski tidak memiliki tabungan yang besar, Jumariah percaya bahwa perjalanan tersebut adalah bentuk pengabdian yang sempurna. Ia mempersiapkan diri dengan pengorbanan yang penuh makna, karena percaya bahwa kehadiran di Baitullah akan mengubah hidupnya secara mendalam.

READ  439 calon haji asal Ciamis gelombang pertama diberangkatkan

Dalam kehidupannya, Jumariah membuktikan bahwa kesendirian tidak selalu menjadi kelemahan. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai sarana untuk meniti kehidupan yang lebih bermakna. Setiap kali ia mencuci pakaian, ia mengingat akan keberkahan yang diperoleh dari usaha kerasnya. Tidak ada yang berlebihan dalam langkahnya, tapi setiap gerakan diatur dengan ketelitian. Ia menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga dengan cepat, karena waktu menjadi barang langka.

Kisah Jumariah tidak hanya menjadi inspirasi bagi banyak orang, tetapi juga menggambarkan semangat keikhlasan yang mungkin terlewat dalam masyarakat modern. Ia membuktikan bahwa keberhasilan dalam perjalanan haji bukanlah soal kekayaan, tetapi ketulusan hati. Saat berada di Makkah, setiap langkahnya mengingatkan para jemaah bahwa jalan menuju Tuhan bisa dilalui dengan keringat dan tekad. Dengan usia yang sudah sangat tua, Jumariah menjadi contoh nyata bagaimana kehidupan yang sederhana bisa menghasilkan pengaruh yang besar di dunia internasional.

Jumariah meniti jalannya ke Masjidil Haram dengan hati yang penuh kegembiraan. Baginya, perjalanan ini adalah akhir dari usaha yang telah ia lakukan selama puluhan tahun. Dengan ember plastik yang selalu dibawanya, ia menyatakan bahwa pengorbanan kecil bisa membangkitkan kekuatan luar biasa. Sejarah kehidupannya tidak dikenal oleh banyak orang, tapi kini ia menjadi sosok yang terkenal karena dedikasinya yang tidak pernah berhenti. Meski tidak memiliki kemewahan, Jumariah mampu menjadi simbol keagungan spiritul yang terukir dalam jiwa manusia.