Latest Program: Peraturan perkawinan yang baru berhasil tingkatkan angka pernikahan

Peraturan Perkawinan Baru Mendorong Peningkatan Angka Pernikahan

Latest Program – Di tengah perkembangan demografi yang pesat, Pemerintah Tiongkok kini menerapkan perubahan signifikan dalam prosedur pendaftaran perkawinan. Revisi besar pertama dalam lebih dari dua dekade ini bertujuan mempermudah pengajuan akta pernikahan bagi pasangan yang tinggal di berbagai daerah. Seiring dengan hal tersebut, angka pernikahan di seluruh negeri meningkat, membuktikan kebijakan baru ini berhasil menghadirkan dampak positif.

Pasangan Pengantin Membawa Pengalaman Baru

Lu Wei, seorang pria lahir di tahun 2000-an dari Provinsi Guangdong, menceritakan bahwa pendaftaran pernikahannya di tepi Danau Erhai, Provinsi Yunnan, berlangsung dengan beberapa tantangan. “Kami menelepon 45 kali sebelum akhirnya berhasil mendapatkan jadwal,” ujarnya dalam kenangan. Pasangan yang menikah pada Maret 2025 ini memilih kawasan wisata sebagai lokasi resmi untuk mengikat pernikahan, dengan bantuan fotografer yang telah dipesan sebelumnya. Bagi mereka, momen tersebut tidak hanya menjadi formalitas administratif, tetapi juga kenangan berharga yang akan mereka pertahankan dalam waktu lama.

Revisi Kebijakan untuk Menyesuaikan Mobilitas Penduduk

Kebijakan pendaftaran pernikahan yang baru ini mencerminkan upaya Pemerintah Tiongkok untuk menyesuaikan sistem dengan kehidupan sosial yang dinamis. Dengan keberadaan sekitar 376 juta penduduk migran, proses registrasi sebelumnya sering kali menyulitkan pasangan yang ingin menikah di lokasi baru. Sebelum revisi, mereka diwajibkan kembali ke tempat asal salah satu pihak untuk mengurus akta pernikahan, sehingga memakan waktu dan biaya tambahan. Kini, pasangan bisa mendaftarkan pernikahan di kantor urusan sipil mana pun, asalkan memiliki kelayakan.

READ  Main Agenda: Palestina kecam dana Israel untuk jalan permukiman

Dengan penghapusan buku registrasi rumah tangga sebagai dokumen wajib, kebijakan ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar. Yuan Xin, wakil presiden Asosiasi Kependudukan Tiongkok sekaligus profesor di Universitas Nankai, menilai bahwa reformasi ini mengurangi hambatan administratif dan mendorong peningkatan jumlah pernikahan di berbagai wilayah. “Peningkatan kecepatan pendaftaran membuka peluang bagi pasangan yang ingin mengadakan pernikahan di tempat yang lebih sesuai dengan keinginan mereka,” jelas Yuan Xin.

“Pola migrasi penduduk semakin memengaruhi cara orang memilih lokasi pernikahan. Kebijakan baru ini memastikan mereka bisa menikah di mana pun, tanpa terbatas oleh asal-usul,” tambah Yang Fan, associate dean Fakultas Kependudukan dan Kesehatan di Universitas Renmin Tiongkok.

Perbaikan Praktis dalam Proses Pendaftaran

Untuk mendukung kebijakan ini, berbagai perbaikan praktis juga dilakukan. Sistem reservasi daring dan pemberian jam layanan yang lebih fleksibel, misalnya, semakin memudahkan masyarakat. Dengan adanya fitur tersebut, rata-rata waktu pendaftaran pernikahan di banyak daerah turun menjadi sekitar 15 menit. Selain itu, lokasi pendaftaran pun tidak lagi terbatas pada kantor perkawinan. Kini, proses ini bisa dilakukan di taman atau kawasan wisata, yang sekaligus menggabungkan tradisi dengan pengalaman hiburan.

Integrasi Pernikahan dengan Pariwisata

Pasangan muda dari Provinsi Hunan, Chen, menjadi contoh nyata bagaimana perubahan ini berdampak pada praktik sosial. Mereka merencanakan perjalanan darat selama 20 hari, melintasi Lanzhou, Dunhuang, dan Xinjiang, sebelum menikah di tepi Danau Sayram pada 7 Mei 2025. Pengalaman Chen mencerminkan tren semakin populer menggabungkan pendaftaran pernikahan dengan kegiatan pariwisata. Hal ini juga didukung oleh pemerintah daerah yang aktif menyediakan layanan terkait.

Di Yiwu, Provinsi Zhejiang, misalnya, pemerintah membangun rantai bisnis yang mencakup fotografi pernikahan, perencanaan acara, hingga konsumsi cendera mata. Sementara di Taishun, wilayah Zhejiang, pasangan bisa menikah di samping jembatan beratap kuno, mencoba busana etnis, dan menginap di penginapan butik sekitar lokasi. Inisiatif ini tidak hanya mempercepat proses pendaftaran, tetapi juga mengubahnya menjadi pengalaman bulan madu yang singkat. Hasilnya, pendapatan dari sektor pariwisata pernikahan mencapai lebih dari 20 juta yuan (1 yuan = Rp2.553) dalam setahun.

READ  New Policy: Media resmi sebut Iran luncurkan sistem baru atur pelayaran di Hormuz

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Dengan adanya kebijakan ini, permintaan konsumsi terkait pernikahan juga meluas. Kini, layanan seperti rias wajah, penataan gaya, dan fotografi di lokasi tidak hanya diperlukan untuk acara pernikahan, tetapi juga diintegrasikan dengan akomodasi dan katering. Di platform media sosial Xiaohongshu, topik pendaftaran pernikahan seremonial menarik perhatian hampir 700 juta views, menunjukkan minat masyarakat terhadap pengalaman ini. Tren ini memberikan dorongan besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam sektor jasa dan pariwisata.

Dari perspektif kebijakan yang lebih luas, Tiongkok terus menyempurnakan aturan pendukung pernikahan dan kehamilan guna menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Selain menyingkat prosedur administratif, pemerintah juga menawarkan berbagai insentif bagi pasangan yang ingin menikah, seperti bantuan finansial dan fasilitas kesehatan. Penyederhanaan prosedur, kata Yuan Xin, menjadi faktor utama dalam peningkatan jumlah pernikahan tahunan sebesar 657.000, yang membuat total pernikahan di tahun 2025 mencapai 6,76 juta.

Revisi ini tidak hanya mengubah cara orang memperoleh akta pernikahan,