Special Plan: RI dan Filipina jalin kerja sama perkuat rantai pasok mineral kritis

RI dan Filipina jalin kerja sama perkuat rantai pasok mineral kritis

Special Plan – Jakarta – Pertemuan tingkat tinggi antara Indonesia dan Filipina di Cebu, Kamis, menjadi momentum penting dalam memperkuat kemitraan bilateral. Acara ini dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan serta Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque. Pada kesempatan tersebut, kedua negara menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation, yang menjadi tanda kolaborasi strategis antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Langkah strategis untuk rantai pasok nikel global

Menteri Airlangga menggarisbawani pentingnya kerja sama ini dalam menjaga ketersediaan bahan baku penting bagi sektor industri nasional. “Ini bukan sekadar upaya biasa, tetapi merupakan fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor,” kata dia dalam pernyataan resmi yang dibacakan di Jakarta, Jumat. Platform tersebut dirancang untuk menghubungkan proses pengolahan nikel di Indonesia dengan sumber daya bijih mentah dari Filipina, menciptakan jaringan pasokan yang stabil dan berkelanjutan.

“Kolaborasi ini akan menjadi poros utama dalam cadangan dan produksi nikel global, mendukung transisi energi dan kebutuhan industri di kawasan ASEAN,” ujar Airlangga, menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat ketersediaan mineral kritis.

Detail MoU: Tiga fokus utama

MoU yang ditandatangani menitikberatkan pada tiga bidang utama. Pertama, pertukaran informasi untuk memastikan kestabilan perdagangan nikel di tingkat regional maupun internasional. Kedua, pengembangan teknologi hilirisasi nikel secara bersama, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dari produk sampingan (side product) industri pertambangan. Ketiga, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang terpadu, yang mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.

READ  Latest Program: Menteri PKP tinjau lokasi calon penerima BSPS di Surabaya

Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia telah membentuk ekosistem hilirisasi nikel yang masif, dengan proyeksi ekspor produk olahan mencapai 9,73 miliar dolar AS pada 2025. Selain itu, investasi sebesar 47,36 miliar dolar AS dan penyerapan tenaga kerja hingga 180.600 orang diharapkan tercapai hingga 2030. Proses blending bijih nikel Filipina diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan smelter Indonesia dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) yang ideal, menjaga ketersediaan bahan baku industri baterai dan baja tahan karat.

Nikel sebagai bagian dari transisi energi

Kemitraan ini memiliki dampak signifikan dalam mendukung transisi energi global. Airlangga menegaskan bahwa nikel adalah mineral kritis yang memainkan peran sentral dalam pembangunan energi bersih. “Produk nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional dan kawasan, terutama melalui penguatan penyimpanan energi (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun panel surya,” tambahnya.

Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat sektor manufaktur, tetapi juga mendorong inovasi teknologi dan ekosistem produksi yang ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK diharapkan menjadi pusat inovasi, menghubungkan smelter, industri baterai, serta pengembangan teknologi hilirisasi yang kompetitif secara global.

Persentase produksi dan cadangan nikel

Menurut data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama memegang 73,6 persen dari produksi nikel global pada 2025. Indonesia sendiri menyumbang 66,7 persen atau sekitar 2,6 juta ton, sementara Filipina mencapai 6,9 persen atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia menempati posisi pertama dengan 44,5 persen dari total cadangan nikel dunia, yaitu 62 juta ton, dibandingkan Filipina yang memiliki 3,4 persen atau 4,8 juta ton.

READ  Special Plan: Surveyor Indonesia: Dunia usaha perlu mitigasi risiko perubahan iklim

Kerja sama ini juga meningkatkan hubungan dagang antara kedua negara. Pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai 10,22 miliar dolar AS, yang merupakan 8,4 persen dari total impor Filipina. Hal ini membuat Indonesia menjadi mitra dagang utama ketiga Filipina setelah Tiongkok dan Jepang. Airlangga menambahkan bahwa Filipina merupakan mitra strategis yang krusial bagi Indonesia, terutama dalam komoditas energi dan produk otomotif.

Strategi jangka panjang untuk keberlanjutan

Kerja sama antara APNI dan PNIA dirancang untuk menciptakan model kerja yang berkelanjutan. Fokus utamanya adalah memastikan pasokan bijih nikel yang konsisten, sekaligus meningkatkan kemampuan hilirisasi Indonesia. Dengan mengintegrasikan kekuatan smelter lokal dengan sumber daya dari Filipina, kedua negara mencoba menjaga keamanan pasokan (feedstock security) bagi industri baterai dan baja tahan karat.

Airlangga menjelaskan bahwa keberhasilan ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. “Filipina tidak hanya menjadi penyuplai bijih mentah, tetapi juga akan terlibat langsung dalam rantai nilai yang lebih tinggi,” kata dia. Inisiatif ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada negara lain dan mendorong ekonomi kawasan ASEAN menjadi lebih mandiri.

Peran kritis dalam industri baterai

Nikel yang diproduksi oleh kedua negara menjadi komoditas vital untuk industri baterai, yang berkembang pesat di era transisi energi. Airlangga menekankan bahwa nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia berpotensi meningkat drastis, terutama dengan dukungan pemerintah dalam mempercepat hilirisasi. “Dengan adanya Nickel Corridor, Indonesia bisa menjaga pasokan bahan baku untuk kebutuhan nasional dan kebutuhan ekspor,” ujarnya.

Kerja sama ini juga mengembangkan potensi ekonomi kedua negara secara sinergis. Di sisi Filipina, inisiatif ini membuka peluang integrasi ke dalam rantai pasok internasional, sementara Indonesia mendapatkan jaminan pasokan bijih yang stabil. Airlangga menyebutkan bahwa pengembangan kebijakan ini akan menguntungkan kawasan Asia Tenggara, terutama dalam memenuhi permintaan global untuk material yang mendukung inovasi energi.

READ  Jasa Marga lanjutkan pemeliharaan berkala Tol Cipularang-Padaleunyi

Dengan semangat kolaborasi ini, Indonesia dan Filipina berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya, kapasitas industri, serta daya saing kawasan. Fokus pada pemanfaatan teknologi dan SDM akan menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan mineral kritis yang berkelanjutan, sejalan dengan visi pengurangan emisi dan penguatan ekonomi hijau.