Special Plan: Himpunan Alumni IPB kembangkan bisnis rantai pasok untuk MBG
Himpunan Alumni IPB kembangkan bisnis rantai pasok untuk MBG
Special Plan – Dari Jakarta – Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) berencana mengembangkan bisnis rantai pasok sebagai bagian dari upaya memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diharapkan bisa mendukung kebutuhan pangan nasional sekaligus membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Ketua Umum HA IPB, Fauzi Amro, mengatakan bahwa pengurus organisasi tersebut akan segera membuat contoh bisnis rantai pasok yang akan berlokasi di Kabupaten Bogor. “Kami akan membuat contoh bisnis rantai pasok di Kabupaten Bogor. Kita menjamin ketersediaan pasokan yang stabil bagi MBG, lahannya sudah ada 5 hektare. Setelah pelantikan pengurus HA IPB, kami langsung melakukan ground breaking,” jelas Fauzi dalam acara “Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa” di Jakarta, Sabtu.
Model bisnis yang bisa diadopsi daerah
Fauzi menambahkan bahwa model ini diharapkan bisa menjadi contoh yang bisa diikuti oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) HA IPB di berbagai wilayah. “Karena alumni IPB tidak hanya mengurus dapur (MBG), tapi juga mengurus supply-nya. Saya tahu banyak juga pemain-pemain dapur di sini, pemilik SPBG di sini,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa program ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang fokus pada ketahanan pangan. Dengan demikian, HA IPB akan berperan dalam mendorong penguatan rantai pasok agar bisa memenuhi kebutuhan program MBG.
Menjawab pertanyaan media tentang langkah-langkah kerja sama dengan petani dan pekebun, Fauzi mengungkapkan bahwa HA IPB akan menjadi offtaker yang bertugas menyerap hasil produksi dari para petani untuk disalurkan ke MBG. Ia menekankan bahwa keberadaan rantai pasok ini sangat penting, khususnya dalam memperkuat koperasi yang telah memiliki infrastruktur distribusi namun masih membutuhkan sumber pasokan yang terintegrasi. “Rantai pasok MBG ini mencakup komoditas seperti telur, ayam, jagung, beras, dan susu,” tutur Fauzi. Ia menambahkan bahwa HA IPB mempercayai contoh ini bisa menjadi referensi untuk provinsi maupun kabupaten/kota lain.
Terkait rencana pelaksanaan, Fauzi memastikan bahwa program akan dimulai segera setelah lahan dan lokasi siap. “Kami sudah menyiapkan perencanaan awal dan lahan yang dimiliki mencapai 5 hektare. Ini akan menjadi dasar untuk memulai kegiatan,” ungkapnya. Ia juga menyoroti bahwa tantangan utama dalam program MBG kini berpindah dari pembangunan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke ketersediaan pasokan yang harus terus meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah dapur. “Supply ini tidak mengganggu kebutuhan masyarakat yang sudah ada, tapi ada pasokan khusus untuk MBG. IPB dan Alumni IPB siap memfasilitasi hal tersebut,” jelas Fauzi.
Peran HA IPB dalam mendukung ketahanan pangan
Fauzi menegaskan bahwa HA IPB telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Rektor Institut Pertanian Bogor, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan). “Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa role model rantai pasok yang akan kita buat pilot project-nya di Kabupaten Bogor bisa berjalan dengan baik,” kata Fauzi. Ia menambahkan bahwa HA IPB berkomitmen untuk membangun model bisnis yang selaras dengan kebijakan nasional, terutama dalam meningkatkan akses makanan bergizi bagi masyarakat.
Menurut Fauzi, pembentukan rantai pasok yang solid akan memastikan bahwa kebutuhan makanan untuk MBG bisa terpenuhi secara berkelanjutan. “Dengan sistem ini, kita bisa mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan eksternal dan meningkatkan kemandirian daerah,” ujarnya. Ia juga memaparkan bahwa HA IPB akan berupaya mengintegrasikan pengelolaan rantai pasok dengan keberadaan koperasi-koperasi lokal, sehingga mampu menyerap produksi dari masyarakat sekitar. “Ini juga akan memberi peluang usaha bagi para petani dan pemilik kebun,” jelas Fauzi.
Proses pengembangan dan proyeksi masa depan
Fauzi menekankan bahwa HA IPB tidak hanya berfokus pada pembangunan dapur, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dalam proses distribusi. “Kami ingin memastikan bahwa setiap tahap rantai pasok dijalankan secara transparan dan efektif,” katanya. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan model ini akan menjadi fondasi untuk mendorong program serupa di tingkat provinsi maupun kabupaten. “Kami berharap pilot project di Kabupaten Bogor bisa menjadi penggerak dalam pengembangan rantai pasok nasional,” imbuh Fauzi.
Dalam menunjang keberhasilan program MBG, HA IPB juga berencana mengadakan pelatihan dan pendampingan bagi para petani dan pengelola koperasi. “Kami ingin memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam proses ini, baik dari sisi produksi maupun distribusi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa HA IPB akan terus memantau kinerja bisnis rantai pasok ini, serta menyesuaikan strategi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ini adalah langkah awal, tetapi kami yakin akan berkembang lebih luas lagi di masa depan,” tutup Fauzi.
