Akreditasi Kini Jadi Penentu Daya Saing Ekspor RI, Bukan Cuma Mutu & Harga
Main Agenda – NUSA DUA – Perdagangan internasional kini semakin dinamis dan kompleks. Para pelaku usaha tidak hanya menghadapi persaingan ketat, tetapi juga wajib memenuhi standar baru yang mencakup keamanan produk, kualitas, transparansi dalam rantai pasok, hingga keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks ini, akreditasi muncul sebagai alat strategis untuk membangun kepercayaan global. Institusi yang mengakreditasi memastikan hasil pengujian, inspeksi, sertifikasi, dan verifikasi dari suatu negara dapat diterima secara luas di pasar internasional tanpa hambatan.
APAC Annual Meeting 2026 di Bali Jadi Momentum Diskusi Penting
Isu krusial tentang peran akreditasi dalam meningkatkan daya saing ekspor Indonesia menjadi fokus utama dalam Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC) Annual Meeting 2026. Acara yang diadakan di Nusa Dua, Bali, Senin (22/6) menampung partisipasi delegasi dari berbagai badan akreditasi, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan se-Asia Pasifik. Kehadiran peserta dari berbagai negara menunjukkan pentingnya topik ini dalam menghadapi tantangan perdagangan global yang terus berubah.
Konferensi tahunan ini bukan hanya sekadar pertemuan rutin, tetapi menjadi platform untuk mengupas strategi akreditasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemakai layanan ekspor Indonesia, baik perusahaan besar maupun usaha kecil, mulai menyadari bahwa akreditasi tidak lagi bersifat opsional. Kini, keberadaan sertifikasi internasional menjadi penentu utama dalam membangun kredibilitas produk di luar negeri.
Peran Akreditasi Mulai Mengalami Perubahan
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN) Donny Purnomo Januardhi memberikan penekanan pada pergeseran fungsi akreditasi. Menurutnya, akreditasi kini adalah bagian integral dari infrastruktur ekonomi yang mempengaruhi kemampuan sebuah bangsa untuk bersaing di panggung global. “Dalam era yang terus berkembang, akreditasi tidak hanya menjadi dasar untuk memastikan mutu, tetapi juga alat untuk menunjukkan komitmen terhadap standar internasional,” ujar Donny dalam pidato pembukaan acara.
“Kini, akreditasi adalah bagian vital dari infrastruktur ekonomi yang menentukan daya saing sebuah bangsa,” kata Donny Purnomo Januardhi, Kepala BSN dan Ketua KAN.
Menurut Donny, perubahan ini terjadi karena kebutuhan pasar global yang semakin ketat. Konsumen di luar negeri kini tidak hanya memperhatikan harga produk, tetapi juga menjunjung tinggi keberlanjutan lingkungan, keamanan pangan, serta transparansi dalam produksi. “Ekspor Indonesia harus bisa menunjukkan bahwa produknya memenuhi standar yang selaras dengan keinginan pasar internasional,” imbuhnya.
Persaingan ekspor juga didorong oleh inovasi dalam teknologi dan kebijakan pemerintah. Pemerintah Indonesia, melalui BSN dan KAN, terus berupaya meningkatkan kualitas sertifikasi agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. “Kami fokus pada harmonisasi standar antar negara, sehingga memudahkan akses ke pasar ekspor,” jelas Donny. Ini menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan global yang memaksa Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan persyaratan yang lebih ketat.
Transparansi Rantai Pasok dan Keberlanjutan Lingkungan Jadi Fokus Utama
Dalam diskusi APAC, transparansi rantai pasok (traceability) dan keberlanjutan lingkungan (sustainability) menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan. Para delegasi sepakat bahwa kedua aspek ini tidak hanya memengaruhi kepercayaan pelanggan, tetapi juga memastikan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Di sektor pertanian, misalnya, keberlanjutan lingkungan menjadi kunci untuk memenuhi regulasi pasar ekspor yang semakin ketat, terutama di negara-negara Eropa.
Traceability, atau kemampuan melacak asal-usul produk dari bahan baku hingga konsumen akhir, juga diperlukan untuk memastikan produk tidak hanya berkualitas, tetapi juga aman dari kontaminasi dan praktik produksi yang tidak etis. Dalam konteks ini, akreditasi membantu menggarantir bahwa sistem verifikasi yang digunakan oleh Indonesia memenuhi standar global. “Tanpa akreditasi, sertifikasi yang dikeluarkan bisa dipertanyakan kredibilitasnya di luar negeri,” tambah Donny.
Sementara itu, keberlanjutan lingkungan menjadi faktor penentu bagi perusahaan yang ingin mendapatkan akses ke pasar ekspor. Banyak negara, terutama di Eropa dan Asia Tenggara, mewajibkan produk ekspor untuk memenuhi standar lingkungan. “Akreditasi membantu kita menunjukkan bahwa produk kita tidak hanya kompetitif secara harga, tetapi juga ramah lingkungan,” papar Donny. Ini merupakan tantangan baru bagi sektor industri yang selama ini berfokus pada produksi massal.
Indonesia Perlu Perbaikan Konsisten untuk Meningkatkan Daya Saing
Donny menegaskan bahwa Indonesia harus terus melakukan peningkatan konsisten dalam sistem akreditasi. Hal ini dianggap sebagai kunci untuk menjaga posisi ekspor di tengah persaingan global yang semakin ketat. “Kami melihat bahwa kompetensi akreditasi sangat berpengaruh terhadap kinerja ekspor. Karena itu, kita harus memastikan sistem ini dirancang secara terpadu,” jelasnya.
Pada acara APAC 2026, beberapa rekomendasi diusulkan untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga. Termasuk upaya untuk mempercepat proses sertifikasi serta menyelaraskan standar antar negara. “Koordinasi ini sangat penting agar Indonesia bisa menjawab tantangan ekspor secara efektif,” kata Donny. Ia juga menyebut bahwa keberhasilan akreditasi akan berdampak langsung pada ketersediaan pasar untuk produk Indonesia.
Dengan peningkatan ini, Indonesia diharapkan bisa memperkuat daya saingnya di tingkat internasional. Ekspor tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga alat untuk menunjukkan kemajuan industri nasional. Akreditasi menjadi jembatan antara standar lokal dan kebutuhan pasar global. “Kita harus berani mengubah pola pikir tentang akreditasi, agar tidak hanya menjadi formalitas, tetapi menjadi bagian dari strategi ekspor jangka panjang,” pungkas Donny.
Kehadiran APAC Annual Meeting 2026 di Bali menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam mengarahkan pertumbuhan ekspor melalui akreditasi. Dengan memperkuat sistem sertifikasi, negara ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas, baik dalam hal kualitas, harga, maupun keberlanjutan. Masa depan ek
