Key Discussion: Sutradara James Gray ingin film Ad Astra rilis versi asli sutradaranya

Sutradara James Gray Ingin Film Ad Astra Rilis Versi Asli Sutradaranya

Key Discussion – Dalam Festival Film Cannes, sutradara James Gray mengungkapkan keinginan untuk menayangkan ulang versi asli dari film fiksi ilmiah “Ad Astra” di bioskop. Ia mengatakan, versi tersebut akan lebih singkat sekitar 12 menit dibandingkan tayangan resmi yang telah dirilis. “Saya ingin suatu hari nanti bisa memperkenalkannya. Ini bukan berada di tangan saya sendiri, tetapi saya akan sangat senang jika terwujud—saya yakin akan sangat menarik,” ujarnya, seperti dilaporkan Variety, yang dikutip dari Jakarta, Senin lalu.

Studio Tambahkan Adegan yang Dibuat Ulang

Gray menjelaskan bahwa versi film yang ditayangkan saat ini telah dimodifikasi oleh pihak studio, termasuk penambahan beberapa adegan yang dibuat ulang. Perubahan ini terjadi setelah proses uji pemutaran, di mana dinamika di balik layar memengaruhi keputusan akhir. Menurut Gray, kontrol atas isi cerita film “Ad Astra” yang ditampilkan di bioskop pada 2019 sudah berpindah dari tangannya sebagai sutradara. “Saya tidak lagi memiliki kendali atas film tersebut. Versi yang diperlihatkan di layar adalah hasil dari studio,” katanya.

“Aku tidak memiliki kendali di ‘Ad Astra’. Film itu diambil dariku. Itu bukan potongan filmku,” ujar Gray, menegaskan bahwa versi resmi film tersebut tidak mencerminkan visi awalnya.

Gray menyebutkan bahwa versi director’s cut akan diperkirakan berkurang sekitar 12 menit dibandingkan tayangan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa penayangan versi ini bergantung pada kesepakatan dengan 20th Century Fox, studio yang mengakuisisi film tersebut. Namun, ia merasa prosesnya akan rumit karena adanya perubahan kepemilikan perusahaan oleh Disney, yang membeli 20th Century Fox beberapa tahun silam.

READ  Netflix ekspansi paket beriklan ke 15 negara - Indonesia masuk daftar

Kontrol Studio dan Perbedaan dengan Paper Tiger

Dalam wawancara yang sama, Gray menyebutkan bahwa keputusan tentang versi film sering kali tergantung pada dinamika internal studio. Ia menjelaskan bahwa film “Ad Astra” berbeda dengan karyanya yang terbaru, “Paper Tiger”, yang ditayangkan di Festival Film Cannes. “Kau akan dibawa masuk ke serangkaian diskusi dan perdebatan. Ada studio, lalu studio [20th Century Fox] dijual ke Disney, kau terjebak dengan hal itu. Film itu bernilai 80 juta dolar, ‘Paper Tiger’ bernilai 15 juta dolar,” katanya.

Gray mengungkapkan bahwa pengalaman dalam membuat “Paper Tiger” jauh lebih mudah dibandingkan “Ad Astra”. Ia menyebutkan bahwa film fiksi ilmiah tersebut mengalami banyak perubahan selama produksi, sementara karyanya yang terbaru mengalami pengurangan lebih sedikit. “Dalam film ‘Paper Tiger’, saya bisa menjaga kontrol lebih besar,” jelasnya. Meski demikian, Gray tetap mengakui bahwa kerja sama dengan studio tetap penting, terutama dalam hal distribusi dan promosi.

Kisah Film Paper Tiger dan Penerimaannya di Cannes

“Paper Tiger” adalah film drama kriminal tahun 1980-an yang dibintangi oleh Adam Driver, Scarlett Johansson, dan Miles Teller. Gray menjelaskan bahwa film ini memperoleh tanggapan positif dari para penonton dan kritikus di Festival Film Cannes, meski tidak tercatat sebagai pemenang penghargaan. “Ulasan yang diberikan sangat solid, tapi tidak ada yang menyebutkan film itu sebagai pemenang,” tambahnya.

Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun Gray merasa tidak sepenuhnya puas dengan versi “Ad Astra” yang akhirnya ditayangkan, ia tetap bersyukur atas kesempatan untuk menampilkan karyanya. “Saya menikmati proses pembuatan film, bahkan jika hasil akhir tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan awal saya,” ujarnya. Gray juga menyebutkan bahwa perbedaan antara “Ad Astra” dan “Paper Tiger” terletak pada tingkat intervensi studio. “Dalam film ‘Paper Tiger’, saya bisa mengambil keputusan lebih cepat,” tambah sutradara berusia 54 tahun itu.

READ  What Happened During: Festival Film Cannes ke-79 resmi dibuka di Prancis

Kepemilikan Disney dan Dampaknya terhadap Produksi

Pernyataan Gray mengenai Disney memicu diskusi tentang peran akuisisi perusahaan dalam pengambilan keputusan kreatif. Ia mengatakan bahwa perubahan kepemilikan 20th Century Fox oleh Disney mengakibatkan persaingan antara visi sutradara dan keinginan studio. “Disney membuat proses itu lebih kompleks, terutama karena mereka memiliki kepentingan finansial yang berbeda,” kata Gray, menyoroti bahwa keputusan untuk menambahkan adegan tambahan di “Ad Astra” dipengaruhi oleh faktor ini.

Dalam konteks ini, Gray menekankan bahwa pengambilan ulang adegan bukanlah keputusan spontan, tetapi hasil dari konsultasi internal studio. Ia menambahkan bahwa selama produksi “Ad Astra”, studio memutuskan untuk memperpanjang cerita dengan menambahkan adegan yang dirasa bisa meningkatkan kesan dramatis. “Tujuannya adalah membuat film lebih menarik bagi penonton, meski saya berpikir itu mengurangi alur cerita,” ujarnya.

Perjalanan Produksi dan Harapan untuk Director’s Cut

Komentar Gray tentang director’s cut mencerminkan ketidaktertiban dalam proses produksi film. Ia mengatakan bahwa versi asli sutradara akan memberikan pengalaman yang lebih mendekati visinya, tetapi keberhasilannya bergantung pada diskusi dengan studio. “Jika Disney memperbolehkan, saya akan senang menghadirkan versi yang lebih lengkap,” kata Gray. Ia juga menyebutkan bahwa 20th Century Fox memang memperlihatkan dukungan terhadap proyeknya, tetapi masih ada tindakan yang terkesan mengganggu.

Gray memperkirakan bahwa versi director’s cut akan memakan waktu lebih lama untuk diproses, terutama karena pengambilan ulang adegan memerlukan kerja sama dari seluruh tim produksi. Namun, ia tetap optimis bahwa versi ini akan dirilis, karena ia melihat potensi penonton yang ingin melihat karya sutradara secara utuh. “Ada banyak orang yang ingin melihat film dengan versi asli sutradara, jadi saya yakin akan ada permintaan untuk itu,” ujarnya.

READ  Solving Problems: Baim Wong cerita adu akting dengan Acha Septriasa di "Suamiku Lukaku"

Analisis dan Perspektif dalam Industri Film

Komentar Gray menimbulkan pertanyaan tentang peran studio dalam menentukan bentuk akhir sebuah film. Banyak sutradara mengalami tantangan serupa, terutama dalam genre fiksi ilmiah yang membutuhkan banyak keterlibatan teknis. “Ini adalah bagian dari proses film, tapi saya merasa itu bisa lebih fleksibel jika ada kesepakatan antara semua pihak,” katanya. Gray juga mengakui bahwa keputusan untuk memperpendek durasi film bisa menjadi solusi, meski tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi visinya.

Terlepas dari itu, Gray tetap berharap bahwa versi director’s cut akan menjadi bagian dari perjalanan karyanya. Ia menyatakan bahwa proses ini bisa menjadi pengalaman yang berharga, karena memungkinkan penonton melihat perubahan yang terjadi selama produksi. “Saya ingin menunjukkan kekuatan kreativitas saya, meski harus melalui beberapa perdebatan dengan tim produksi,” katanya. Dengan harapan ini, Gray menegaskan bahwa keinginan untuk menayangkan versi asli sutradara tetap menjadi prioritasnya, meski harus menunggu waktu yang tepat.