Kemenkum Kepri bidik potensi IG karya miniatur kapal dari tulang ikan

Kemenkum Kepri bidik potensi IG karya miniatur kapal dari tulang ikan dan sotong batu

Kemenkum Kepri bidik potensi IG karya – Dari Tanjungpinang, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Riau (Kanwil Kemenkum Kepri) sedang menggali potensi Indikasi Geografis (IG) pada karya seni miniatur kapal yang terbuat dari bahan daur ulang tulang ikan dan tulang sotong batu di Bintan Regency. Upaya ini bertujuan untuk mengakui nilai budaya serta ekonomi dari seni yang dihasilkan oleh masyarakat pesisir setempat. Menurut Kepala Kanwil Kemenkum Kepri, Edison Manik, produk ini menunjukkan ciri khas yang kental dan merefleksikan kearifan lokal masyarakat pesisir Bintan.

Karya Miniatur Kapal dari Tulang Ikan dan Sotong Batu

Edison menyatakan bahwa karakteristik unik miniatur kapal tersebut tidak hanya terletak pada bahan baku yang dipakai, tetapi juga pada teknik pembuatan yang dipertahankan secara turun-temurun. “Penggunaan tulang sotong batu sebagai struktur bawah kapal memiliki dua manfaat utama. Selain memperkuat bentuk fisik, bahan ini juga memberikan identitas khas yang tidak ditemukan di daerah lain,” tuturnya dalam wawancara di Tanjungpinang, Kamis.

“Kerajinan ini merupakan warisan budaya yang terus berkembang, sekaligus membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi pengrajin lokal,” ujar Edison. Ia menekankan bahwa produk ini tidak hanya menarik perhatian kolektor pribadi, tetapi juga menjadi objek yang diminati oleh berbagai institusi pemerintah sebagai suvenir eksklusif.

Edison menambahkan, keunikan karya tersebut membuat Kanwil Kemenkum Kepri tertarik untuk memperkuat perlindungan hukum terhadap Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) wilayah Bintan. “Kami melihat peluang besar untuk menjadikan miniatur kapal ini sebagai merek geografis yang bisa mendukung peningkatan daya saing produk kreatif lokal,” jelasnya. Ini merupakan langkah awal dalam upaya mengakui identitas khas dan menjamin keaslian karya seni yang terus berkembang.

READ  What Happened During: Saksi tak hadir, sidang kasus pemerasan eks Wamenaker Noel ditunda

Pengrajin Saini dan Proses Pembuatan

Dalam rangka mengkaji lebih lanjut, tim dari Kanwil Kemenkum Kepri telah melakukan kunjungan langsung ke kediaman Saini, seorang pengrajin paruh baya yang terkenal dengan karya miniatur kapal uniknya. Selama kunjungan tersebut, tim melihat cara kerja Saini yang masih mempertahankan metode tradisional. Proses pembuatan miniatur kapal ini memakan waktu yang cukup lama, di mana bahan baku dikerjakan secara manual dengan ketelitian tinggi.

“Pembuatan miniatur kapal ini menggunakan proses pengawetan alami, yaitu penjemuran tanpa campuran bahan kimia. Teknik ini mempertahankan tekstur dan warna alami tulang ikan serta sotong batu,” kata Edison. Menurutnya, metode tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli yang menghargai aspek budaya dan seni di dalam produk.

Saini, yang telah menekuni seni ini selama bertahun-tahun, menjadi pusat perhatian karena karyanya memiliki nilai jual yang tinggi. Setiap unit miniatur kapal yang dihasilkannya bisa mencapai harga Rp3 juta, tergantung tingkat kesulitan dan detail yang dihiasi. Meski awalnya diawali sebagai hobi, karya Saini kini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bintan.

Langkah Awal dalam Perlindungan Hukum

Edison menjelaskan bahwa inventarisasi Indikasi Geografis (IG) yang dilakukan Kanwil Kemenkum Kepri adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk melindungi Kekayaan Intelektual Komunal. “Dengan menetapkan IG, kita bisa mencegah penjiplakan dan memastikan produk khas Bintan tidak hilang dari pasar nasional maupun internasional,” tambahnya.

Proses pengrajinannya memerlukan keahlian khusus, mulai dari pemilahan tulang yang layak digunakan hingga pengukuran dan pemolesan yang teliti. Sotong batu, yang merupakan bahan baku utama, diolah menjadi bagian struktur kapal yang menonjolkan keunikan seni tersebut. “Teknik ini menunjukkan kecanggihan lokal yang tidak bisa dijumpai di tempat lain,” ujarnya.

READ  Lanal serahkan barang bukti rokok ilegal hasil operasi ke Bea Cukai

Potensi Ekonomi dan Daya Saing

Menurut Edison, keberadaan IG akan memberikan manfaat besar bagi ekonomi masyarakat Bintan. “Ini bukan hanya meningkatkan pendapatan pengrajin, tetapi juga menarik minat wisatawan dan kolektor dari luar daerah untuk membeli produk yang berasal dari Bintan,” jelasnya. Pemesanan miniatur kapal ini terus meningkat, baik dari konsumen pribadi maupun institusi pemerintah.

Edison juga menyoroti bahwa keunikan produk ini memberikan nilai tambah dalam konteks pasar global. “Karya ini bisa menjadi andalan dalam pameran seni atau pameran produk kreatif, karena memiliki identitas yang kuat,” tegasnya. Dengan IG, produk ini tidak hanya diakui secara lokal, tetapi juga diharapkan bisa bersaing dalam tingkat nasional.

Warisan Budaya yang Terus Berkembang

Menurut data yang dihimpun, miniatur kapal dari tulang ikan dan sotong batu telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bintan. Teknik pembuatan ini diwariskan secara turun-temurun, dan para pengrajin lokal terus mengembangkan inovasi tanpa mengorbankan tradisi. “Kami percaya bahwa karya ini bisa menjadi ikon kecil yang mewakili kearifan lokal Bintan,” imbuh Edison.

Pengrajin seperti Saini menjadi contoh nyata bagaimana seni bisa berubah menjadi usaha yang menguntungkan. “Setiap karya yang dihasilkannya tidak hanya menjadi koleksi, tetapi juga membawa keuntungan fin