Main Agenda: Kemenhut optimistis capai target penurunan deforestasi pada 2030

Kemenhut Yakin Mewujudkan Tujuan Pengurangan Deforestasi Tahun 2030

Main Agenda – Kuningan, Jawa Barat (ANTARA) – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tetap percaya diri bahwa tujuan pengurangan deforestasi sesuai dengan target Indonesia FOLU Net Sink 2030 dan dokumen kontribusi nasional sukarela (Second National Determined Contribution/NDC) dapat tercapai pada tahun 2030. Menurut Arga Paradita Sutiyono, Project Manager FOLU NC 2&3 di Kemenhut, seluruh sumber daya dan instrumen yang dimiliki akan dikeluarkan untuk memastikan rehabilitasi dan pengelolaan tutupan hutan berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun. “Kita masih optimis bahwa target Second NDC bisa terpenuhi tahun 2030. Pemangku kebijakan dan elemen lain dalam kementerian akan bekerja sama mempercepat proses pemulihan dan penguatan tutupan hutan,” ujarnya dalam forum diskusi yang berlangsung di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Senin malam.

Pembicaraan dalam Forum Diskusi

Forum tersebut berfokus pada peran perempuan Indonesia dalam menjalankan aksi nyata pengelolaan hutan serta mencapai target FOLU Net Sink 2030. Arga menjelaskan bahwa tantangan utama menuju tahun 2030 adalah mengendalikan deforestasi dan degradasi hutan. Visi misi Kemenhut adalah menurunkan angka deforestasi hingga di bawah tingkat baseline sebesar 0,31 juta hektare per tahun. “Kita menargetkan pada 2030 angka ini bisa ditekan hingga 0,3 atau bahkan 0,2 juta hektare,” katanya.

Peningkatan Deforestasi Tahun 2026

Pada triwulan pertama tahun 2026, angka deforestasi meningkat menjadi 0,37 juta hektare, naik dari 0,31 juta hektare pada periode 2024-2025. Namun, Arga menegaskan bahwa kenaikan ini tidak semata karena aktivitas penebangan besar-besaran, melainkan dipengaruhi oleh faktor kebakaran hutan dan dinamika alam lainnya. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pelajaran untuk meningkatkan upaya pengendalian deforestasi melalui pendekatan yang lebih holistik.

READ  Key Discussion: Program makan bergizi di Jambi sentuh 446.087 penerima manfaat

Konsep Net Deforestation

Menurut Arga, pemerintah juga menerapkan konsep net deforestation, di mana penebangan di hutan tanaman tidak dianggap sebagai deforestasi jika diimbangi dengan kegiatan penanaman kembali. “Dengan pendekatan ini, capaian target FOLU Net Sink tidak hanya menjadi program spesifik, tetapi sudah terintegrasi dalam berbagai kegiatan yang dibiayai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Kemenhut,” tambahnya. Konsep ini diharapkan memperkuat keberlanjutan pengelolaan hutan dan menunjukkan upaya aktif dalam mengurangi lahan terbuka.

Peran Perempuan dalam Pengelolaan Hutan

Forum yang berlangsung pada 11-13 Mei 2026 ini juga menjadi ajang diskusi untuk menyoroti kontribusi perempuan Indonesia dalam pembangunan hutan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut ini menekankan bahwa partisipasi wanita dalam bidang kehutanan tidak hanya menjadi keuntungan tambahan, tetapi menjadi komponen penting dalam mempercepat pencapaian tujuan FOLU Net Sink 2030. “Perempuan memiliki peran strategis dalam menggerakkan komunitas dan mengembangkan solusi berkelanjutan,” jelasnya.

Langkah Kolaboratif untuk Kesuksesan Target

Menurut Arga, kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 bertujuan membangun narasi positif terkait kebijakan kehutanan melalui komunikasi yang efektif. “Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga konservasi swadaya masyarakat dan pewarta nasional, kita dapat memastikan penyebaran informasi yang lebih luas dan merata,” ujarnya. Kegiatan ini juga menyediakan ruang bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi dan berkoordinasi dalam menciptakan strategi pengelolaan hutan yang lebih efisien.

Tantangan dan Harapan untuk 2030

Selain itu, Kemenhut berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar lembaga pemerintah, organisasi, serta masyarakat dalam mendukung implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. “Kolaborasi berkelanjutan dan komunikasi yang tepat sasaran akan mendorong masyarakat lebih aktif dalam melestarikan hutan,” pungkasnya. Arga menekankan bahwa keberhasilan target deforestasi memerlukan keterlibatan penuh semua pihak, termasuk kontribusi perempuan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya alam.

READ  Berita Penting: Tim SAR Banten cari warga China terseret arus Pantai Cibobos Lebak

Dalam rangka mewujudkan FOLU Net Sink 2030, Kemenhut menekankan pentingnya pendekatan berbasis data yang akurat dan transparan. Mereka juga menjelaskan bahwa penurunan deforestasi tidak hanya bergantung pada upaya langsung, tetapi juga pada peningkatan kesadaran publik melalui kampanye komunikasi. “Kami ingin masyarakat memahami bahwa hutan bukan hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi juga sebagai kekayaan alam yang perlu dijaga untuk keberlanjutan masa depan,” tambahnya.

Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari lembaga pemerintah, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta organisasi konservasi swadaya masyarakat. Selain itu, ada juga peserta dari sejumlah lembaga media dan peneliti yang terlibat dalam pendokumentasian dan pelaporan kebijakan kehutanan. “Kol