Pembahasan Penting: Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan
Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan
Panggilan Langsung dari Gubernur
Kepala Daerah Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau disebut KDM, berkomunikasi secara langsung dengan Vina, seorang perempuan asal Cirebon yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Komunikasi ini terjadi melalui panggilan video di WhatsApp pada Sabtu (28/2). Dalam sesi yang berlangsung selama 25 menit, Vina menjelaskan secara rinci perjalanan keberangkatannya hingga terperangkap dalam situasi yang membahayakan di luar negeri.
“Dia (KDM) sempat marahin Vina, katanya kenapa mau ya. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga,”
Vina mengungkapkan, sebagaimana dilaporkan pada hari yang sama. Ia menegaskan bahwa keinginannya saat ini hanya satu, yaitu pulang ke Indonesia. Menurut penuturannya, Vina terpaksa tinggal di Tiongkok karena seluruh dokumen identitasnya dipegang oleh kelompok yang diduga sebagai agen sindikat.
Kronologi Pembunuhan Janji Pernikahan
Keluarga Vina, melalui perwakilan Hengki Maulana, menceritakan perjalanan mengerikan yang dialami saudaranya. Segala sesuatu dimulai pada Mei 2024, ketika Vina bekerja di kawasan PIK, Jakarta Utara. Awalnya, ia bekerja sebagai karyawan biasa, lalu mengenal seorang warga negara Tiongkok bernama Zhang Haibo, yang merupakan teman dari kerabat bosnya.
Zhang mulai mendekati Vina, memotretnya secara diam-diam, hingga menawarkan koneksi pernikahan dengan pria dari Tiongkok. “Awalnya Vina tidak menggubris. Tapi karena terus didesak dan merasa tidak enak karena pelaku adalah rekan kerja bosnya, Vina akhirnya mau diajak bertemu di sebuah mal di Jakarta Pusat,”
“Mereka berjanji akan menikahkan Vina secara syariat Islam di Jakarta. Tapi nyatanya, Vina langsung dibawa terbang ke Tiongkok pada 7 Agustus 2025,”
Vina kemudian dibawa ke sebuah rumah di Purwakarta untuk ditemui Wang Jun. Pelaku yang terdiri dari Zhang Haibo, Nisa (WNI), Susi, dan Herman diduga berperan sebagai agen perjodohan yang berpura-pura sebagai keluarga mempelai.
Untuk meyakinkan keluarga di Cirebon, para pelaku berkali-kali datang dan menjanjikan kehidupan layak serta penghasilan bulanan untuk keluarga. Pada 5 Agustus 2025, pihak pria memberikan mahar senilai Rp100 juta. Mereka juga menggandeng perangkat desa setempat dengan menunjukkan surat pernyataan bahwa Wang Jun telah mualaf.
Kekerasan di Tiongkok
Saat tiba di Tiongkok, Vina mulai merasakan trauma. Ia menyadari bahwa Wang Jun memiliki kondisi berkebutuhan khusus (autis). Ketika Vina meminta pulang dan bersedia mengembalikan mahar Rp100 juta, ayah mertuanya justru menuntut ganti rugi sebesar Rp500 juta. Vina dikunci di dalam ruangan, paspornya disita, dan dipaksa memenuhi kebutuhan seksual Wang Jun. Jika menolak, ia mengalami kekerasan fisik.
“Saya pernah berontak dan kabur ke kantor polisi Fuyang. Tapi di sana saya justru dijemput paksa, diseret, dan dipukuli oleh mertua di depan polisi. Pihak polisi di sana malah memalingkan wajah,”
Dalam pesan tertulis yang dikirim dari Beijing pada 8 Desember 2025, Vina menulis bahwa pihak polisi setempat tidak membantu menyelesaikan kasusnya. Dalam acara Safari Ramadan bertajuk ‘Tarling Neuleuman Poekna Peuting’ di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, KDM menyatakan bahwa komunikasi telah dilakukan dan rencana evakuasi akan segera dijalankan.
“Hari ini ada warga Cirebon yang menjadi korban penjualan orang di Tiongkok. Saya sudah berkomunikasi, insyaallah nanti ditangani dan akan dijemput seperti warga lainnya. Silakan sampaikan data-datanya ke Bupati,”
KDM juga mengkritik kerentanan perempuan Jawa Barat yang mudah tergoda oleh janji manis pernikahan dengan mahar besar. Dalam nada canda, ia membandingkan penipuan tersebut dengan janji politisi yang sering tidak terpenuhi.
“Pada akhirnya seluruh janji itu tidak ditepati seperti janjinya politisi. Tepuk tangan! Saya politisi,”
Kelakar itu disambut tawa dan tepuk tangan dari ribuan warga yang hadir. KDM berharap kejadian serupa tidak terulang, dan berkomitmen untuk memulihkan kondisi Vina serta mencegah perempuan lain terjebak dalam situasi serupa.
