Jateng Terkini

Latest Program: IKIBUNTU FEST II Hidupkan Kampung Patemasan, PekaKota Gelar Workshop Stensil Bersama Warga

IKIBUNTU FEST II Memperkaya Budaya Kampung Patemasan dengan Workshop Stensil Latest Program - Kota Semarang, Jawa Tengah – PekaKota Institute mengadakan

Desk Jateng Terkini
Published Juni 22, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

IKIBUNTU FEST II Memperkaya Budaya Kampung Patemasan dengan Workshop Stensil

Latest Program – Kota Semarang, Jawa Tengah – PekaKota Institute mengadakan rangkaian kegiatan Having Fun Artlab sebagai bagian dari IKIBUNTU FEST II di Kampung Patemasan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Jumat (13/6/2026). Acara ini mengusung konsep ‘Kampung sebagai Ruang Hidup Kebudayaan Kota’, dengan tujuan menghadirkan kesadaran masyarakat tentang keunikan dan dinamika sosial yang terjadi di wilayah perkotaan. Workshop stensil menjadi salah satu aktivitas utama yang digelar, bersama dengan perupa muda dari Demak, Sirril Wafa. Kolaborasi ini melibatkan Ikatan Remaja Patemasan dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.

Kampung Patemasan: Jantung Budaya Kota yang Beragam

IKIBUNTU FEST II merupakan inisiatif yang menekankan pentingnya menjelajahi kehidupan kampung buntu melalui pendekatan kreatif. Dalam penyelenggaraan tahun kedua, PekaKota memilih Kampung Patemasan sebagai lokasi utama, dengan harapan menjadikannya sebagai wadah ekspresi budaya dan interaksi sosial. Project Director IKIBUNTU FEST II, Anita, menegaskan bahwa kampung ini memiliki nilai historis serta keberagaman sosial yang luar biasa. “Patemasan memiliki keragaman agama dengan adanya gereja, masjid, dan musala. Warganya hidup berdampingan secara harmonis dan penuh toleransi,” jelas Anita melalui siaran pers yang diterima JPNN, Senin (22/6).

“Patemasan memiliki keragaman agama dengan adanya gereja, masjid, dan musala. Warganya hidup berdampingan secara harmonis dan penuh toleransi,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima JPNN, Senin (22/6).

Menurut Anita, kehidupan sosial di Kampung Patemasan menjadi contoh nyata bagaimana budaya perkotaan dapat tumbuh dari lingkungan kampung. Kehadiran berbagai kelompok agama dan budaya dalam satu ruang yang sama menciptakan dinamika yang menarik untuk dikaji. Ia menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya menyajikan seni, tetapi juga berusaha mengaktifkan komunitas lokal melalui kolaborasi yang lebih luas. “Kami ingin menunjukkan bahwa kampung bukan sekadar area hunian, tetapi juga ruang untuk menciptakan kreativitas dan membangun kesadaran budaya bersama,” tambahnya.

Workshop Stensil: Metode Kreatif yang Sederhana dan Menyenangkan

Acara workshop stensil diselenggarakan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan teknik seni kepada masyarakat. Sirril Wafa, sebagai pemateri utama, menyampaikan panduan dasar pembuatan desain, pemotongan pola, serta penerapan stensil pada berbagai media. Proses ini dirancang agar peserta dapat belajar dengan mudah sambil menikmati kegiatan yang interaktif. Stensil, sebagai teknik seni yang memiliki sejarah panjang, dianggap relevan untuk menggali potensi kreatif warga kota.

Workshop tersebut menarik perhatian banyak peserta yang terdiri dari warga sekitar dan pengunjung. Sirril Wafa, yang seorang perupa dan ilustrator muda dari Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, menjelaskan bahwa teknik ini bisa diakses oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang seni mereka. “Stensil adalah metode yang bisa dipelajari oleh semua kalangan, karena cukup sederhana dan bisa digunakan untuk berbagai tujuan,” katanya dalam sesi diskusi yang berlangsung di lokasi acara.

PekaKota: Menjadi Jembatan Antara Seni dan Komunitas

Sebagai lembaga yang fokus pada isu perkotaan, PekaKota Institute memandang penting untuk membawa kegiatan seni ke tengah masyarakat. Melalui IKIBUNTU FEST II, mereka mencoba menggambarkan bagaimana kebudayaan perkotaan dapat dihidupkan dengan memanfaatkan lingkungan kampung sebagai sumber inspirasi. Selain workshop, acara ini juga menyediakan ruang bagi warga untuk berinteraksi langsung dengan seniman, serta memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari.

IKIBUNTU FEST II juga bertujuan mengangkat kampung sebagai bagian dari identitas kota. Anita menekankan bahwa kampung-kampung di perkotaan seringkali dianggap sebagai ruang yang tidak terlalu menarik, padahal mereka memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kreativitas dan pertukaran budaya. “Kami ingin masyarakat melihat kampung bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang yang hidup dan dinamis,” kata Anita. Dalam konteks ini, Stensil Workshop dianggap sebagai bentuk penerapan konsep tersebut.

Sementara itu, Sirril Wafa menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar peserta bisa merasakan seni secara langsung. Ia berharap workshop ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga dalam membangun ekosistem seni lokal. “Melalui stensil, kami ingin memperkenalkan cara menciptakan seni yang sederhana dan bisa diakses oleh siapa pun. Ini adalah langkah awal untuk mengembangkan keterlibatan masyarakat lebih luas,” ujarnya.

Konteks dan Tujuan IKIBUNTU FEST II

Kampung Patemasan dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki keunikan dalam perpaduan antara berbagai elemen budaya dan sosial. Dalam festival ini, PekaKota berusaha menggambarkan bahwa kampung-kampung perkotaan bisa menjadi medium yang hidup untuk menyampaikan pesan kebudayaan. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang seni, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan bagaimana kehidupan di kota bisa terus berkembang melalui interaksi yang lebih erat.

IKIBUNTU FEST II dirancang sebagai program tahunan yang menggabungkan seni, budaya, dan sosial. Melalui acara ini, PekaKota ingin menciptakan ruang dialog antara seniman dan warga kota, serta mendorong pengembangan kebudayaan yang lebih inklusif. Workshop stensil menjadi bagian dari upaya tersebut, dengan harapan masyarakat bisa mengakses dan memanfaatkan seni sebagai sarana ekspresi serta penguatan identitas lokal.

Dalam sejarah perkembangan kota Semarang, Kampung Patemasan memiliki peran penting sebagai pusat aktivitas dan kehidupan sosial. Meski terletak di tengah kota, kampung ini tetap mempertahankan keharmonisan antar komunitas yang beragam. Keberagaman ini menjadi keunikan yang diangkat dalam IKIBUNTU FEST II, sebagai bentuk apresiasi terhadap dinamika kota yang hidup dan beragam. Proses kreativitas yang diinisiasi oleh PekaKota Institute menunjukkan komitmen untuk membangun kesadaran kebudayaan di tengah urbanisasi yang terus berlangsung.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, peserta tidak hanya belajar teknik stensil, tetapi juga terlibat dalam pembuatan karya seni yang mencerminkan identitas kampung mereka. Stensil, yang tergolong teknik seni tradisional, dianggap sebagai alat untuk menyampaikan pesan sosial dan budaya secara kreatif. Dalam konteks modern, teknik ini diberikan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan menyenangkan, agar semua kalangan bisa terlibat aktif.

Kegiatan IKIBUNTU FEST II juga bertujuan mendorong kolaborasi antara seniman dengan masyarakat sekitar. Dengan melibatkan warga lokal sebagai peserta dan pelaku, PekaKota Institute berharap dapat menciptakan lingkungan seni yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Selain workshop, acara ini juga menyediakan ruang bagi warga untuk berbagi pengalaman dan k

Leave a Comment