News

What Happened During: Semoga Hanya di Mimpi, Bernadya Membawa Nuansa 2000an

What Happened During -

Desk News
Published Juni 18, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Semoga Hanya di Mimpi, Bernadya Membawa Nuansa 2000an

Album Kedua Artis Muda Ini Hadir dengan Gaya Musik yang Mengusung Eksplorasi Era Lama

What Happened During – Di tengah persaingan yang semakin ketat di dunia musik Indonesia, Bernadya, seorang penyanyi dan penulis lagu muda yang mulai dikenal sejak debutnya beberapa tahun lalu, kembali mengejutkan publik dengan pengumuman rilis album terbarunya. Album kedua bernama Semoga Hanya di Mimpi akan diluncurkan pada 24 Juni 2026, melalui label rekaman JUNI Records. Ini menandai perjalanan kreatif yang berbeda dari sebelumnya, terutama dalam penggunaan genre dan nuansa musik yang mengusung keindahan era 2000an.

Bernadya, yang lahir pada tahun 2004, memang dikenal sebagai sosok yang tertarik pada musik pop Indonesia yang berakar pada dekade 2000an. Dalam wawancara di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, pada Rabu (17/6), dia menjelaskan bahwa inspirasi ini berasal dari keinginan untuk memperkenalkan karya yang lebih menyentuh dan penuh emosi. “Musik dari era 2000-an memiliki keunikan yang membuatnya terasa seperti nostalgia,” ujarnya. Meski ia termasuk generasi muda, rasa penasaran terhadap aliran musik yang popular pada masa kecilnya justru menjadi fondasi untuk album ini.

“Menurut aku, musik 2000-an lebih playful,” kata Bernadya, yang juga memiliki nama lengkap Bernadya Ribka Jayakusuma. Ia menambahkan bahwa kehadiran musik era tersebut memicu imajinasi dan memungkinkan ekspresi yang lebih leluasa dibandingkan gaya pop kontemporer yang sering terkesan terstruktur.

Album pertama Bernadya, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, sukses membangun identitasnya sebagai penyanyi yang mampu menggabungkan narasi personal dengan musik modern. Namun, dalam album kedua ini, ia memilih untuk menyisipkan elemen yang lebih berakar pada masa lalu. Nada-nada yang khas dari 2000an, seperti penggunaan instrumen sederhana dan lirik yang lebih cerita, menjadi penekanan utama. “Saya ingin menghadirkan sesuatu yang bisa mengingatkan orang-orang pada masa kecil mereka, seperti lagu-lagu yang dulu mereka dengar di radio,” tuturnya.

Menurut Bernadya, pengalaman bekerja dengan tim JUNI Records memberikan banyak masukan yang membantu ia merancang album ini. Produser dan staf label berperan aktif dalam memandu pemilihan genre dan aransemen yang akhirnya dianggap tepat untuk menggambarkan nuansa nostalgia. “Mereka membantu saya menggabungkan keinginan pribadi dengan kebutuhan pasar,” katanya. Proses ini memakan waktu dua tahun sejak peluncuran album pertamanya, yang berarti ia menyisihkan waktu untuk mengeksplorasi kembali makna musik yang ia cintai.

Tematik album Semoga Hanya di Mimpi mengusung perasaan nostalgia yang dalam. Bernadya mengatakan bahwa setiap lagu dirancang untuk mengusik kenangan tentang masa kecil, sekaligus menghadirkan pesan yang relevan di masa kini. “Ada beberapa track yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, tetapi dengan kesan yang khas dari dekade 2000-an,” tambahnya. Misalnya, ia memasukkan gaya vokal yang lebih sederhana dan melodi yang mengalir seperti yang sering ditemukan di musik pop abad ke-21.

Dalam sebuah wawancara sebelumnya, Bernadya menyebutkan bahwa ia kerap mendengarkan lagu-lagu dari era 2000-an, terutama dari artis seperti Raisa, Tulus, dan grup musik seperti TIKI. “Saya suka bagaimana lagu-lagu itu menggabungkan keindahan musik dengan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya. Tidak hanya itu, ia juga mengakui bahwa kehadiran genre seperti ballad dan pop rock dalam album ini merujuk pada penelusuran estetika musik yang ia percaya bisa membangkitkan emosi lebih tulus.

Menurut rencana, album ini akan meluncur seiring berkembangnya tren musik yang menggabungkan genre tradisional dan modern. Bernadya menilai bahwa musik 2000-an memiliki kekuatan untuk mengingatkan manusia pada masa lalu, tetapi tetap relevan dalam konteks kontemporer. “Tidak ada yang membatasi musik, selama ada pesan yang mampu menyentuh hati,” ujarnya. Ia juga berharap album ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda yang ingin merasakan makna kreativitas dalam bentuk yang lebih sederhana.

Bernadya menjelaskan bahwa dalam mengembangkan Semoga Hanya di Mimpi, ia menggabungkan dua elemen: keindahan nostalgia dan kejernihan komposisi yang alami. “Saya ingin musik ini bisa terdengar seperti nostalgia, tapi tetap memiliki daya tahan di masa depan,” katanya. Untuk mencapai hal tersebut, ia bekerja keras dalam memastikan bahwa setiap bagian album, baik dari lirik maupun aransemen, mampu memperkuat kesan yang ingin disampaikan.

Di samping itu, Bernadya juga menyebutkan bahwa album ini menjadi wujud dari keinginan untuk mengembangkan karya yang lebih personal. “Saya merasa album pertama lebih tentang pengalaman umum, sedangkan ini menggambarkan sesuatu yang lebih spesifik tentang hidup saya,” katanya. Dengan mengusung nuansa era 2000-an, ia berharap bisa menunjukkan bahwa musik yang lebih tradisional tetap bisa menciptakan karya yang kontemporer dan menarik.

Penyanyi muda ini juga berharap bahwa Semoga Hanya di Mimpi bisa menjadi bagian dari kebangkitan musik Indonesia yang menggabungkan genre lama dan baru. “Tidak perlu ada batasan antara musik modern dan lama, selama ada harapan untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan pendengar,” ujarnya. Dengan peluncuran album pada 24 Juni 2026, Bernadya mengharapkan bisa memperlihatkan kekuatan dari musik yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna.

Konten ini bisa dibaca lebih lanjut di Google News. Dengan style yang unik dan pengalaman kreatif yang konsisten, Bernadya terus menghadirkan karya-karya yang mengejutkan, sekaligus memperkuat peran sebagai artis yang bisa menggabungkan masa lalu dan masa kini dalam satu kesatuan yang harmonis.

Leave a Comment