Massa Aksi di Grahadi Bubar Seusai Ruas Jalan Dibuka Kembali
Latest Program – Sebuah aksi demonstrasi yang berlangsung di Gedung Negara Grahadi di Surabaya akhirnya berakhir pada siang hari setelah Jalan Gubernur Suryo kembali dibuka untuk lalu lintas. Ruas jalan tersebut sempat ditutup sejak pagi hari sebagai bentuk penghalang bagi kendaraan yang melewati area yang menjadi fokus aksi. Pada pukul 17.00 WIB, pengemudi bisa kembali melintasi jalan tersebut setelah polisi memberikan izin. Sebelum masa aksi sepenuhnya menghambur, sejumlah peserta dari mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) lebih dulu meninggalkan barisan sekitar pukul 16.30 WIB.
Masa Aksi Memilih Berpindah ke Tempat Lain
Banyak peserta aksi yang memutuskan untuk membubarkan diri setelah ruas jalan dibuka. Namun, ada sebagian yang memilih tetap berada di tempat hingga 30 menit lamanya. Mereka tidak lagi berorasi, tetapi tetap menunggu kepastian terkait tuntutan yang disampaikan. Aparatur kepolisian terpaksa membuka jalan setelah memastikan kondisi terkini massa aksi. Kehadiran polisi dianggap sebagai sinyal untuk mengakhiri keterlibatan mereka.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa Unair menjadi bagian utama peserta. Mereka meminta tiga hal utama: penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), penutupan Koperasi Desa Merah Putih, serta pencabutan Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI. Selain itu, massa aksi juga menolak praktik militerisme yang diterapkan di ranah sipil. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden BEM Unair, Rizqi Senja, yang menjadi wajah utama aksi demonstrasi.
“Kami menuntut pencabutan Undang-Undang Polri serta Undang-Undang TNI. Selain itu, kami menolak praktik militerisme di sektor sipil,” kata Rizqi Senja.
Rizqi mengungkapkan, tuntutan mereka muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap melanggar hak masyarakat. Ia menambahkan, kehadiran massa aksi tidak ingin bertemu langsung dengan pejabat karena mereka merasa upaya tersebut tidak efektif. “Mereka lebih memilih menunggu respons dari pihak yang berwenang daripada terus-menerus berdemo,” jelas Rizqi.
Proses Bubar Aksi Tidak Sempurna
Meski ruas jalan sudah dibuka, sebagian kecil massa aksi tetap bersikeras untuk mengawasi proses penutupan. Mereka berjalan kaki di sepanjang jalan sebagai bentuk penekanan keinginan untuk diperhatikan. Pemerintah setempat menyatakan bahwa keputusan pembukaan jalan adalah langkah kecil untuk menenangkan situasi. Namun, kritik dari peserta aksi masih terdengar.
Dalam aksi yang berlangsung sejak pagi hari, massa menggerakkan kecaman terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpijak pada aspirasi masyarakat. Selain MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, isu lain yang diperdebatkan adalah masalah kebebasan berbicara dan keterlibatan militer dalam kehidupan politik. “Kami ingin perubahan yang lebih menyentuh kebutuhan rakyat,” tambah Rizqi.
Sejarah dan Konteks Aksi
Aksi demonstrasi di Grahadi ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, massa aksi sudah beberapa kali melakukan seruan serupa sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan tertentu. Kebijakan MBG, misalnya, dianggap memberatkan bagi masyarakat karena memaksa masyarakat menunggu antrian yang lama untuk mengakses bantuan pangan. Sementara Koperasi Desa Merah Putih dikritik karena dianggap tidak efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Rizqi Senja menjelaskan, tujuan utama aksi adalah untuk mendapatkan perhatian publik terhadap kebijakan yang dinilai tidak adil. “Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya diam menunggu, tetapi aktif menolak hal-hal yang dianggap merugikan,” katanya. Ia menekankan bahwa tuntutan mereka didasari oleh analisis yang matang, bukan sekadar emosi semata.
Kondisi Setelah Aksi Berakhir
Saat aksi berakhir, kondisi di sekitar Grahadi kembali normal. Jalan yang sempat ditutup sudah dibuka, dan pengemudi bisa kembali menggunakan jalan tersebut tanpa hambatan. Sejumlah peserta aksi yang tidak membubarkan diri segera mengakhiri kehadiran mereka setelah melihat tanda-tanda kepolisian bergerak untuk menenangkan massa. “Situasinya sudah mulai stabil, dan kami bersedia mengakhiri aksi ini dengan suasana yang lebih tenang,” ujar Rizqi.
Meski begitu, ada yang mengkritik bahwa keputusan pembukaan jalan terlalu cepat. Sejumlah warga setempat menyatakan bahwa aksi ini perlu waktu lebih lama untuk menekan pihak berwenang. “Kalau jalan langsung dibuka, mungkin saja peserta aksi tidak puas,” komentar salah satu warga yang hadir di lokasi. Namun, pihak kepolisian mengklaim bahwa pembukaan jalan dilakukan setelah semua tuntutan dianggap sudah terpenuhi.
Dalam wawancara terpisah, Rizqi juga menyebutkan bahwa aksi ini memiliki dampak sosial yang signifikan. Banyak orang dari berbagai latar belakang ikut serta, termasuk sejumlah aktivis muda dan komunitas lokal. “Kami harap aksi ini menjadi awal dari perubahan yang lebih besar,” tuturnya. Kehadiran massa aksi yang cukup besar menunjukkan bahwa isu yang dibawa tidak hanya mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas.
Aksi ini menjadi contoh bagaimana demonstrasi bisa menjadi alat komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. Meski tidak semua tuntutan terpenuhi, perwakilan dari massa aksi tetap menilai bahwa upaya mereka telah memberikan dampak positif. “Kami tidak menuntut semuanya, tetapi setidaknya ada respons dari pihak yang berwenang,” jelas Rizqi. Ia berharap dialog terus berlanjut agar kebijakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam rangkaian aksi ini, terdapat ke
