Key Discussion: FIS oCFO dan Antara Bahas Masa Depan Keuangan dalam Forum Eksekutif di Jakarta
FIS oCFO dan Antara Bahas Masa Depan Keuangan dalam Forum Eksekutif di Jakarta
Key Discussion – Jakarta – Forum eksekutif bertema “Future-Ready Finance” diadakan oleh FIS oCFO bersama Perum LKBN Antara di Jakarta, dengan tujuan mengupas tajam perkembangan sektor keuangan dan strategi adaptasi di tengah perubahan ekonomi digital. Acara ini menarik perhatian sejumlah pemangku kebijakan serta praktisi finansial dari berbagai lembaga, yang berdiskusi tentang transformasi treasury, ketahanan finansial, serta penerapan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengelolaan keuangan modern.
Transformasi Treasury dan Tantangan Baru
Forum ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi peran treasury yang semakin strategis dalam organisasi. Peserta menyampaikan bahwa fungsi ini tidak hanya berfokus pada operasional sehari-hari, tetapi juga bertanggung jawab mengelola risiko secara lebih terpadu dan meningkatkan efisiensi dalam penggunaan dana. Dalam diskusi, para peserta menekankan pentingnya visibilitas kas yang dapat diakses secara real-time, serta kemampuan untuk memprediksi fluktuasi pasar secara akurat.
Dalam konteks modern, perusahaan dituntut mengadopsi platform treasury yang skalabel untuk menangani kompleksitas bisnis yang semakin rumit. Selain itu, peningkatan kapasitas dalam pengambilan keputusan strategis menjadi fokus utama, dengan pendekatan berbasis data sebagai penentu utama. Direktur Utama Perum LKBN Antara, Benny Siga Butarbutar, menyoroti bahwa kolaborasi antara institusi keuangan dan teknologi menjadi kunci dalam mempercepat inovasi di sektor ini.
“Dengan menggandeng penyedia teknologi, kita dapat menghasilkan solusi yang lebih kreatif dan menghadapi tantangan dengan tanggung jawab lebih besar,” kata Benny Siga. Ia menambahkan bahwa ekosistem keuangan Indonesia yang berkembang pesat memerlukan dialog antar-pihak untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan.
AI sebagai Pendorong Perubahan
Salah satu topik yang menarik dalam forum adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data untuk mengoptimalkan operasional keuangan. Para peserta menyampaikan bahwa teknologi ini tidak hanya meningkatkan akurasi proyeksi keuangan, tetapi juga mempercepat proses transaksi serta membantu mengurangi kesalahan manusia. Vice President FIS oCFO, Ian Chan, menegaskan bahwa AI menjadi alat penting dalam memperoleh wawasan yang lebih cepat.
“Kemajuan keuangan modern bergantung pada kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam sistem operasional, sehingga organisasi bisa merespons perubahan dengan lebih responsif dan efektif,” ujarnya. Ian Chan menambahkan bahwa transformasi ini membutuhkan adopsi teknologi yang tepat untuk mendukung visi jangka panjang sektor keuangan.
Perspektif Global dan Pengalaman Lokal
Pembicara dari Deloitte memberikan wawasan internasional tentang tren modernisasi keuangan, termasuk penerapan sistem otomatisasi dan interoperabilitas data. Di sisi lain, Pegadaian dan Bank Negara Indonesia (BNI) membagikan pengalaman nyata dalam implementasi transformasi digital. Dari sisi Pegadaian, perusahaan menyoroti kemajuan dalam menyederhanakan proses bisnis serta meningkatkan transparansi operasional.
BNI, di sisi lain, memaparkan langkah-langkah strategis dalam mengotomatisasi manajemen dana dan mengurangi risiko keuangan. Para peserta menilai bahwa kolaborasi antar-lembaga menjadi jembatan utama untuk mempercepat progres di bidang ini. MIND ID, salah satu peserta, juga menyatakan bahwa AI tidak hanya mengubah cara kerja, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam pengambilan keputusan.
“Fungsi treasury kini lebih dari sekadar pengelolaan uang, melainkan menjadi motor penggerak kreativitas dan efisiensi bisnis,” kata Tri Thania Lastri, perwakilan MIND ID. Ia menekankan bahwa perusahaan harus siap menyusun strategi yang mencakup keberlanjutan dan inovasi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kemitraan Strategis untuk Masa Depan
Forum ini juga menjadi bagian dari komitmen kemitraan antara FIS oCFO dan Perum LKBN Antara dalam mendukung pertumbuhan sektor keuangan Indonesia. Kedua lembaga sepakat bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Peserta forum menyatakan bahwa diskusi ini membuka peluang untuk mengembangkan kerangka kerja nasional yang lebih terpadu dalam manajemen keuangan. Transformasi treasury, menurut mereka, harus didasari oleh strategi jangka panjang serta adaptasi terhadap kebutuhan bisnis yang terus berubah. Selain itu, integrasi AI dalam operasional keuangan diharapkan mampu meningkatkan akurasi prediksi dan mengurangi biaya administrasi.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Di era digital, para pemangku kebijakan mengakui bahwa perusahaan dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti meningkatkan kapasitas riset keuangan, menjaga kualitas data, dan membangun sistem yang bisa beradaptasi dengan cepat. Diskusi terbuka ini membantu mengidentifikasi kebutuhan utama, serta mengarahkan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan.
FIS oCFO dan Antara menyatakan bahwa forum seperti ini menjadi bentuk kolaborasi yang menghasilkan solusi inovatif. Kedua lembaga berkomitmen untuk terus mendorong diskusi strategis di sektor keuangan, khususnya dalam mempersiapkan ekosistem yang lebih responsif dan berkelanjutan. Beberapa ide yang diusulkan mencakup penggunaan platform digital untuk menyelaraskan kebijakan keuangan lintas sektor, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam sistem ekonomi.
Dalam penutup, peserta forum sepakat bahwa transformasi keuangan tidak bisa dipisahkan dari kolaborasi dan penggunaan teknologi. Mereka menyoroti bahwa ketahanan finansial dan keunggulan operasional akan menjadi tolok ukur keberhasilan dalam menghadapi tantangan global. Sebagai bagian dari perjalanan ini, FIS oCFO dan Antara berharap forum bisa menjadi inspirasi bagi lembaga lain untuk melakukan inovasi serupa.
Perspektif Masa Depan dan Tindak Lanjut
Kemitraan antara FIS oCFO dan Perum LKBN Antara diharapkan mendorong dialog yang lebih intensif di bidang keuangan, khususnya dalam menghadapi dinamika pasar yang semakin cepat. Diskusi ini juga membuka peluang untuk mengembangkan standar keuangan nasional, serta mengajak lembaga keuangan dan teknologi berpartisipasi dalam pembangunan ekosistem yang lebih inklusif.
Menurut Benny Siga, langkah-langkah yang diambil dalam forum ini bisa menjadi referensi untuk perusahaan-perusahaan lain dalam meningkatkan kapasitas keuangan. “Transformasi harus selalu dilakukan dengan kehati-hatian, tetapi juga dengan semangat inovasi yang tinggi,” ujarnya. Dalam jangka panjang, pemanfaatan AI dan data besar diharapkan
