Program Terbaru: Iran Masih Berpengaruh Kuat di Selat Hormuz, Trump Ditekan untuk Hentikan Perang

Iran Tetap Menunjukkan Pengaruh Signifikan di Selat Hormuz, Trump Tekan untuk Berhenti Perang

Dalam tengah ketegangan antara Iran dan koalisi AS-Israel, analis Al Jazeera, Osama bin Javaid, mengatakan bahwa Iran masih memegang pengaruh kuat di Selat Hormuz. Meskipun ancaman dari Presiden AS Donald Trump dan anggota kabinetnya terus menghiasi percakapan, negara ini belum kehilangan kemampuannya untuk memengaruhi jalur vital minyak tersebut.

Kekuatan Iran di Selat Hormuz

Bin Javaid menjelaskan bahwa Iran tidak perlu mengambil tindakan langsung seperti memblokir jalur laut untuk menunjukkan kehadirannya. Cukup dengan melepaskan rudal dan drone secara rutin, pihaknya bisa membuat perusahaan asuransi kapal enggan memastikan keamanan pengiriman melalui wilayah tersebut.

“Iran tetap menunjukkan pengaruh signifikan di Selat Hormuz,” kata bin Javaid. “Tidak perlu melakukan blokade fisik; cukup memastikan gangguan terus terjadi agar efeknya terasa.”

Di sisi lain, CEO Aramco, Amin H Nasser, menyerukan pembukaan Selat Hormuz sebagai upaya mendukung kelancaran perdagangan energi. Ia mengingatkan bahwa permusuhan di Timur Tengah mulai mengganggu produksi minyak dan jalur distribusi kritis, yang berpotensi menimbulkan dampak serius.

Ekonomi Global Terancam oleh Konflik

Nasser mengungkapkan bahwa kelanjutan gangguan di Selat Hormuz akan menimbulkan konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia. Dampaknya tidak hanya terbatas pada harga bahan bakar, tetapi juga menjangkau sektor industri di Eropa dan perekonomian Asia.

“Pengiriman barang harus kembali beroperasi di Selat Hormuz,” imbuh Nasser. “Karena serangan terus-menerus, risiko gangguan pasokan energi semakin mengancam stabilitas global.”

Konflik antara AS-Israel dan Iran telah menciptakan guncangan pasokan minyak terbesar dalam beberapa dekade. Selat Hormuz, yang merupakan pintu masuk utama minyak ke pasar internasional, kini seringkali dalam kondisi tertutup akibat serangan terhadap infrastruktur energi.

READ  Strategi Penting: Donald Trump: Timnas Iran Tak Pantas Tampil di Piala Dunia 2026

Pengaruh konflik ini terasa hingga ke level individu, seperti warga AS yang mengisi bahan bakar di pom bensin, hingga ke perusahaan besar yang mengandalkan pasokan minyak. Trump sendiri mengklaim kenaikan harga bahan bakar sebagai “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi keamanan dan perdamaian. Namun, investor mulai waspada terhadap risiko stagflasi jika perang berlanjut.

Perbandingan Gaya Elite di Tengah Ketegangan

Di tengah perang, terdapat kontras menarik dalam gaya hidup elite. Jenderal-jenderal Barat mengenakan Rolex, sementara pemimpin Iran memilih Casio sebagai pilihan jam tangan mereka. Fenomena ini mencerminkan perbedaan postur politik dan ekonomi yang muncul dalam persaingan global.