Kenaikan Harga Minyak Tambah Defisit Rp 6,8 Triliun per Dollar AS

Kenaikan Harga Minyak Tambah Defisit Rp 6,8 Triliun per Dollar AS

Pemerintah mengakui bahwa setiap kenaikan 1 dolar AS akan meningkatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 6,8 triliun. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam paparan uji ketahanan fiskal terhadap berbagai skenario ekonomi global. Menurut Juda, kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price menjadi salah satu variabel yang dipantau secara rutin oleh Kementerian Keuangan.

Stress Test Fiskal

“Stress test yang dilakukan pada skenario yang realistis menunjukkan defisit APBN tetap terjaga di bawah tiga persen,” jelas Juda dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Dalam rangka menjamin stabilitas keuangan, pihaknya juga melakukan evaluasi terhadap berbagai kemungkinan, seperti pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan imbal hasil obligasi. Meski ada tekanan dari beberapa faktor, hasil simulasi menunjukkan bahwa defisit masih bisa dijaga di bawah ambang tiga persen dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pembiayaan Investasi

Untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu mata uang, Kementerian Keuangan memperkuat sisi pembiayaan dengan menerbitkan surat utang internasional dalam dua mata uang, yaitu euro dan renminbi. Total nilai obligasi yang dikeluarkan mencapai 4,5 miliar dolar AS. Tingkat imbal hasil surat utang renminbi berkisar antara 2 hingga 3 persen, sementara untuk euro berkisar 4 hingga 5 persen.

Terlepas dari tekanan harga minyak, kenaikan 100 poin rupiah terhadap dolar AS memberi dampak tambahan sebesar Rp 0,8 triliun. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi sebesar 0,1 persen berpotensi meningkatkan beban negara hingga Rp 1,9 triliun.

READ  Hukum Bayar Zakat Fitrah untuk Ibu Hamil dan Janinnya - Simak Penjelasannya di Sini!

Harga Minyak Dunia Naik 6 Persen

Naiknya harga minyak global mencapai 6 persen terkait konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja APBN. Pemerintah terus memantau dinamika ini guna memastikan rasio utang dan defisit tetap stabil. Diversifikasi investor dan mata uang juga dilakukan sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko volatilitas.

Belanja pemerintah difokuskan pada peningkatan konsumsi dan perlindungan kelompok menengah ke bawah. Selain itu, pembiayaan investasi diperluas melalui entitas seperti Danantara serta dukungan modal asing. Upaya ini bertujuan menjaga keseimbangan defisit di tengah ketidakpastian pasar global.