Hasil Pertemuan: Terungkap, Negara-negara Arab Frustrasi Tak Ditolong AS saat Diserang Iran

Laporan AP Mengungkap Kecemasan Negara-Negara Arab

Kantor berita AP merilis laporan yang menyebutkan sejumlah negara Arab di Teluk mengalami kekecewaan karena tidak mendapat bantuan dari Amerika Serikat (AS) saat wilayah mereka menjadi sasaran serangan Iran. Mereka menyoroti bahwa AS tidak memberi kesempatan cukup bagi negara-negara tersebut untuk bersiap menghadapi serangan drone dan rudal dari Teheran. Kebijakan AS dan Israel yang menyerang Iran pada 28 Februari dinilai memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Reaksi Pentagon dan Komentar Gedung Putih

Para pejabat dari dua negara Teluk menyatakan kekecewaan mereka terhadap tindakan AS dalam perang ini, terutama dalam serangan awal terhadap Iran. Mereka menekankan bahwa AS tidak memberi peringatan sebelumnya dan mengabaikan upaya mereka untuk menghindari kerusakan besar. Seorang sumber mengungkapkan negara-negara Teluk merasa bingung dan marah karena militer AS dianggap tidak cukup melindungi wilayah tersebut.

“Operasi Epic Fury berhasil mereduksi kemampuan Iran menembak rudal balistik sebesar 90%,” kata Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly. “Presiden Trump sangat terlibat dalam memperkuat hubungan dengan mitra-mitra regional, dan serangan Iran terhadap negara-negara tetangganya menunjukkan betapa pentingnya menghilangkan ancaman ini.”

Operasi Drone yang Menghancurkan

Sumber dari Pentagon mengungkapkan bahwa mereka kesulitan menghentikan gelombang serangan drone Iran, sehingga beberapa target AS di wilayah Teluk menjadi rentan. Negara-negara Teluk, yang menjadi sasaran utama, disebutkan berada dalam jangkauan rudal pendek Iran dan dipenuhi dengan target seperti pasukan AS, fasilitas energi, serta tempat bisnis dan wisata.

READ  Rencana Khusus: TNI Siaga 1! Ini 7 Perintah Panglima TNI Antisipasi Dampak Konflik Global

Dalam pengarahan untuk anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine mengatakan bahwa AS tidak mampu menghalau banyak UAV Iran, khususnya Shahed. Mereka tidak memberi penjelasan spesifik saat ditanya mengapa AS tampaknya tidak siap menghadapi ancaman tersebut.

Korban dan Penyebab Ketegangan

Sejak dimulai, Iran telah meluncurkan minimal 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone, menargetkan lima negara Teluk Arab. Menurut laporan, setidaknya 13 orang tewas di wilayah tersebut. Serangan drone pada hari Minggu di Kuwait menewaskan enam tentara AS, dengan korban meninggal berasal dari unit logistik berbasis di Iowa. Pusat operasi tersebut berupa bangunan container yang tidak dilengkapi pertahanan.

“Ini adalah perang Netanyahu,” ujar Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Arab Saudi, kepada CNN. “Dia berhasil meyakinkan presiden untuk mendukung pandangan pribadinya.”

Kontroversi dan Penyesuaian

Negara-negara Arab seperti Saudi, Kuwait, dan Bahrain belum memberi tanggapan resmi terkait serangan ini. Meski reaksi mereka dianggap tenang, tokoh-tokoh publik dekat pemerintah mengkritik AS secara terbuka. Beberapa pejabat Teluk menggunakan nama anonim karena sedang membahas isu diplomatik rahasia. Pentagon, sementara itu, masih belum memberikan respons terhadap permintaan komentar.