Tokoh Adat Lampung Jelaskan Makna Ritual Injak Kepala Kerbau, Bukan Penghinaan
Pesonatropis.com – JAKARTA – Sebuah kontroversi terjadi terkait prosesi yang dilakukan Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, saat menghadiri acara adat di Lampung. Dalam prosesi tersebut, Jokowi dianggap menginjak kepala kerbau, sebuah tindakan yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk penghinaan terhadap hewan. Namun, tokoh adat Lampung, Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Drs. H. Mawardi Harirama, memberikan penjelasan bahwa ritual ini memiliki makna filosofis dan simbolik yang mendalam, serta tidak dimaksudkan untuk merendahkan.
Ritual Adat Lampung Pepadun: Tradisi yang Berakar Budaya
Mawardi Harirama menjelaskan bahwa prosesi menginjak kepala kerbau adalah bagian dari tradisi adat Lampung Pepadun yang telah berlangsung sejak dulu. Ritual ini merupakan bagian dari kepercayaan lokal yang diwariskan turun-temurun, dengan tujuan untuk memurnikan energi atau menyucikan diri sebelum mengikuti upacara adat. “Injak kepala kerbau adalah simbol penyucian, bukan tindakan merendahkan,” katanya dalam wawancara terkini.
“Injak kepala kerbau dilakukan sebagai cara memurnikan diri sebelum mengikuti berbagai acara adat. Ini bukan sekadar ritual, tapi juga perwujudan hubungan harmonis antara manusia dan alam,” ujar Mawardi.
Dalam budaya Lampung, kerbau tidak hanya dianggap sebagai hewan yang bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki peran penting dalam aspek spiritual dan sosial. Sebagai salah satu simbol kesejahteraan, kerbau menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terlibat dalam berbagai kegiatan penting. Menurut Mawardi, hewan ini juga bertindak sebagai “tabungan” yang bisa digunakan untuk berbagai urusan adat.
Mawardi menyebutkan bahwa dalam masa lalu, kerbau adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat Lampung. “Dulunya, kerbau adalah makhluk yang dihormati masyarakat Lampung, berfungsi sebagai bentuk tabungan yang digunakan dalam berbagai acara ekonomi maupun upacara adat,” imbuhnya. Selain itu, hewan ini juga digunakan sebagai simbol keberanian dan kekuatan, serta menjadi alat untuk menyambut keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari.
Simbol Sosial: Penyembelihan Kerbau dan Kehormatan dalam Masyarakat
Ritual menginjak kepala kerbau terkait erat dengan prosesi penyembelihan hewan tersebut. Mawardi menjelaskan bahwa penyembelihan kerbau dianggap sebagai tanda tingginya status sosial dalam masyarakat adat. “Kerbau yang disembelih biasanya dilakukan oleh keluarga yang memiliki kekayaan dan kedudukan tinggi, terutama dalam acara adat penting seperti selamatan kelahiran, pernikahan, atau upacara besar,” katanya.
“Penyembelihan kerbau menunjukkan kepercayaan masyarakat Lampung bahwa hewan ini memiliki peran sakral. Ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, tapi juga bentuk penghargaan terhadap kehidupan dan keberkahan,” ujar Mawardi.
Menurut Mawardi, ritual ini memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam masyarakat. Prosesi yang melibatkan hewan peliharaan ini dianggap sebagai cara menyatukan antara aspek duniawi dan spiritual. “Kerbau dianggap sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, sehingga dihormati dan dibawa dalam berbagai tahapan penting,” katanya.
Beberapa acara adat yang melibatkan kerbau meliputi selamatan kelahiran anak, upacara perkawinan melalui Turun Mandi dan Temu Dilunjuk, serta Munggah Bumi atau Cakak Pepadun. Dalam setiap tahapan, kerbau dianggap sebagai makhluk yang membawa keberkahan dan harus dihormati. “Ritual ini juga mengandung makna bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari alam dan hewan,” terangnya.
Budaya Lokal vs. Persepsi Luar: Upaya Memahami Konteks Adat
Mawardi menekankan pentingnya memahami konteks budaya lokal sebelum menilai sebuah praktik sebagai penghinaan. Ia menilai bahwa banyak orang di luar Lampung masih kurang memahami makna simbolik dan filosofis dari ritual ini. “Kita harus melihat bahwa ritual ini adalah bagian dari budaya, bukan sekadar tindakan kebiasaan,” katanya.
“Kerbau dalam budaya Lampung memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya sebagai sumber daging atau susu, tetapi juga sebagai perwujudan kepercayaan masyarakat terhadap kehidupan, keberkahan, dan keharmonisan dengan alam,” ujar Mawardi.
Menurutnya, ritual ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Lampung menjunjung nilai-nilai gotong royong dan menghormati kebudayaan. “Kebiasaan seperti ini sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat, jadi perlu dijelaskan agar tidak dilihat sebagai hal yang menyimpang,” kata Mawardi. Ia juga menambahkan bahwa ritual ini bisa menjadi media untuk menunjukkan kekayaan budaya Indonesia.
Kebudayaan adat Lampung Pepadun, kata Mawardi, tidak bisa dipahami secara superficial. Setiap tahapan prosesi memiliki makna yang spesifik, dan peran kerbau dalam ritual ini sangat penting. “Kerbau tidak dihina, tapi justru dianggap sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang dihormati,” jelasnya. Prosesi menginjak kepala kerbau, misalnya, dilakukan dengan hati-hati dan penuh makna, bukan sekadar tindakan yang seenaknya.
Dalam konteks ini, Mawardi berharap masyarakat luar lebih memahami makna dari ritual tersebut. Ia juga mengapresiasi bagaimana Jokowi menunjukkan kepeduliannya terhadap budaya lokal dengan turut serta dalam acara adat. “Ini adalah langkah yang baik untuk menjaga keberlanjutan budaya Lampung dan memperkenalkannya kepada dunia,” katanya. Ia menambahkan bahwa masyarakat Lampung secara aktif mempertahankan tradisi ini, sehingga tetap relevan dalam kehidupan modern.
Kerbau dalam budaya Lampung juga menjadi representasi dari keberlanjutan nilai-nilai tradisional. Prosesi seperti ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia terikat erat dengan alam, serta bahwa setiap tindakan harus memiliki makna yang lebih dari sekadar kebutuhan material. Dengan mempertahankan ritual-ritual seperti ini, masyarakat Lampung Pepadun berusaha menjaga warisan budaya mereka sebagai bagian dari identitas nasional Indonesia.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News untuk mengetahui lebih lanjut tentang perayaan adat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung.

