Jamin Pasokan Indonesia Timur, Komut Pertamina Sidak Terminal Juanda dan Surabaya
Pesonatropis.com – SURABAYA – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, melakukan serangkaian kunjungan kerja di wilayah Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatim Balinus) untuk menjamin ketersediaan pasokan energi nasional secara stabil. Aktivitas ini berlangsung selama lima hari, mulai dari Senin (29/6) hingga Jumat (3/7), dan bertujuan untuk mengevaluasi kinerja operasional serta mengawasi pelaksanaan program transisi energi bersih yang menjadi prioritas pemerintah. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Iriawan mengunjungi dua fasilitas energi kritis nasional, yakni Terminal Bahan Bakar Pesawat (AFT) Juanda dan Terminal Terpadu (IT) Surabaya, sebagai bagian dari upaya memastikan kelancaran distribusi energi di daerah-daerah strategis.
Kunjungan ke Terminal Bahan Bakar Pesawat Juanda
Pada hari pertama kunjungan, Iriawan melakukan Management Walkthrough (MWT) ke AFT Juanda, yang merupakan salah satu pusat distribusi bahan bakar avtur terbesar di Indonesia. Aktivitas ini bertujuan mengawasi pelaksanaan transisi energi hijau dan memastikan efisiensi pengelolaan anggaran di lingkungan Pertamina. Dalam peninjauannya, Iriawan menekankan pentingnya peran AFT Juanda sebagai simbol keberhasilan transisi energi berbasis sumber daya lokal. Ia menyoroti bahwa terminal ini tidak hanya menjadi sentral distribusi, tetapi juga wadah inovasi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar yang ramah lingkungan.
“Tugas menjaga pasokan avtur menuntut toleransi nol terhadap kekurangan stok dan jeda pelayanan. Langkah nyata dari Juanda ini diharapkan mampu membuktikan kepemimpinan Pertamina dalam mewujudkan target Net Zero Emission,” ujar Komisaris Utama dalam arahannya kepada para Perwira Pertamina di AFT Juanda, Senin (29/6/2026).
Kunjungan ke AFT Juanda juga menekankan komitmen Pertamina dalam mendukung kebijakan energi nasional, terutama dalam mendorong penggunaan bahan bakar avtur hijau (SAF) yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Iriawan menekankan bahwa penyiapan infrastruktur dan sumber daya manusia di terminal ini menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan program tersebut. Pada kesempatan ini, ia juga mengingatkan para petugas tentang pentingnya koordinasi antardepartemen guna menghindari kebocoran anggaran dan meningkatkan transparansi operasional.
Pengawasan di Terminal Terpadu Surabaya
Setelah meninjau AFT Juanda, Iriawan melanjutkan perjalanan kerjanya ke Terminal Terpadu (IT) Surabaya, salah satu pusat logistik terbesar di Indonesia. Terminal ini menjadi fokus evaluasi terkait efisiensi pengelolaan sumber daya dan keandalan pasokan bahan bakar di kawasan Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau sejumlah titik kritis seperti sistem penyimpanan, distribusi, dan distribusi bahan bakar ke pelaku usaha serta masyarakat sekitar.
Iriawan menegaskan bahwa Pertamina harus menjadi pionir dalam menerapkan solusi energi yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian energi nasional. Ia menambahkan bahwa penerapan SAF bukan hanya tugas teknis, tetapi juga tantangan besar dalam menyesuaikan kebutuhan industri dengan target keberlanjutan. Di IT Surabaya, Iriawan meminta para petugas untuk mempercepat implementasi teknologi dan infrastruktur baru yang mendukung transisi ini.
Di samping itu, kunjungan ke Surabaya juga bertujuan memastikan bahwa pengelolaan anggaran Pertamina tetap terjaga secara ketat. Iriawan mengatakan bahwa keberhasilan transisi energi hijau bergantung pada akuntabilitas dan efisiensi dalam penggunaan dana. “Kami harus menghindari penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran, karena setiap rupiah yang dialokasikan memiliki dampak besar terhadap keberlanjutan energi nasional,” tegasnya.
Kunjungan ke dua terminal tersebut menunjukkan perhatian serius Pertamina terhadap kawasan timur Indonesia, yang menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan pasokan energi lebih stabil. Iriawan menekankan bahwa Pertamina tidak hanya fokus pada penyediaan bahan bakar, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi jejak karbon. Dalam perjalanan kerjanya, ia juga berdiskusi dengan sejumlah stakeholder terkait rencana penguatan jaringan distribusi dan penerapan standar internasional di lingkungan perusahaan pelat merah ini.
Pada hari kedua, Iriawan berencana mengunjungi beberapa proyek infrastruktur yang sedang berjalan, termasuk pembangunan terminal penyimpanan dan pengolahan bahan bakar baru. Ia juga akan melakukan rapat evaluasi dengan tim operasional untuk memastikan bahwa semua target kinerja telah tercapai. Selain itu, kunjungan ini menjadi momentum untuk merevisi rencana anggaran tahunan 2026, khususnya bagian yang terkait dengan pengembangan energi terbarukan.
Perjalanan kerja ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Pertamina dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Iriawan mengatakan bahwa sinergi tersebut adalah kunci untuk menjaga ketersediaan pasokan energi yang mencukupi, terutama di wilayah-wilayah yang terpencil. “Kami tidak hanya menyuplai bahan bakar, tetapi juga harus menjadi mitra yang mampu mendorong inovasi dan keberlanjutan dalam setiap aspek operasional,” jelasnya.
Sebagai bagian dari komitmen menjaga kualitas layanan, Pertamina berencana memperkenalkan sistem pengawasan digital yang lebih canggih untuk meminimalkan risiko kesalahan distribusi. Proyek ini akan diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah operasional perusahaan, termasuk Jatim Balinus. Iriawan menegaskan bahwa transisi energi hijau tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan paradigma dalam cara pengelolaan sumber daya energi di Indonesia.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

