Wisatawan Diimbau Jauhi Areal Kawah Gunung Kelimutu

1 bulan ago  ·  4 min read
By Nancy Garcia - pesonatropis.com
c488c7d5-993e-4dbe-805e-229d5c612389-0

Pengunjung Diminta Jauhi Kawah Gunung Kelimutu Setelah Penurunan Suhu Danau

Pesonatropis.com – JPNN.com, Jakarta – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan peringatan khusus kepada para wisatawan agar menjaga jarak dari wilayah kawah Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Meskipun suhu air danau di Kawah II, yang juga dikenal sebagai Tiwu Ko’ofai Nuwamuri, mengalami penurunan, pihak Badan Geologi tetap mengimbau untuk memperhatikan keamanan di area tersebut.

Perubahan Suhu Tidak Menyebabkan Peringatan Darurat

Dalam sebuah pernyataan resmi di Jakarta, pada hari Minggu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa suhu air danau Kawah II turun dari 35 derajat Celsius menjadi 33,2 derajat Celsius. Penurunan ini tercatat berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang dilakukan oleh tim teknis Badan Geologi pada 4 Juli 2026. Data tersebut dibandingkan dengan pengamatan sebelumnya pada 30 Juni 2026.

“Penurunan suhu tersebut diperoleh dari hasil pengukuran lapangan dan pengamatan tim Badan yang dilakukan oleh tim teknis Badan Geologi pada 4 Juli 2026, setelah dibandingkan dengan data pengukuran sebelumnya pada 30 Juni 2026,” kata Lana Saria.

Sejumlah ahli geologi menilai perubahan suhu danau kawah yang relatif kecil ini tidak langsung mengindikasikan adanya risiko kegempaan atau aktivitas vulkanik yang berpotensi berbahaya. Namun, mereka tetap mengingatkan bahwa pengamatan terus dilakukan untuk memantau kondisi secara dinamis. Meski suhu turun, warna air danau di Kawah II tetap stabil sebagai indikator konsistensi aktivitas geologis.

Pengamatan Terhadap Tiga Danau Kawah

Berdasarkan laporan visual berkala, Badan Geologi mencatat bahwa warna air di tiga danau kawah Gunung Kelimutu menunjukkan variasi yang khas. Danau Kawah I berwarna hijau toska, Kawah II mempertahankan warna hijau muda, sedangkan Kawah III menampilkan warna hijau tua. Konsistensi warna ini menjadi parameter penting dalam mengevaluasi perubahan kondisi internal gunung berapi.

Gunung Kelimutu, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata vulkanik paling menarik di Indonesia, memiliki keunikan dalam menghasilkan tiga warna danau yang berbeda. Warna hijau muda di Kawah II, misalnya, disebabkan oleh konsentrasi mineral tertentu dalam air, sementara warna hijau tua di Kawah III mencerminkan adanya proses geokimia yang berbeda. Keberadaan tiga warna ini menjadikan Gunung Kelimutu sebagai objek studi utama bagi para ahli seismologi dan vulkanologi.

Stabilitas Aktivitas Vulkanik Pada Level I

Menurut Lana Saria, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu saat ini masih dipertahankan pada Level I, yang menandakan status Normal. Meskipun suhu danau di Kawah II turun, tidak ada indikasi penurunan signifikan dalam frekuensi kegempaan atau ketinggian asap yang terpantau di atas permukaan danau. Hal ini memberikan gambaran bahwa perubahan suhu air tidak berdampak langsung pada intensitas aktivitas vulkanik.

Dalam penjelasannya, Lana Saria menekankan bahwa keteraturan dalam suhu dan warna air danau menjadi faktor kunci dalam memutuskan langkah-langkah pencegahan. Pemantauan berkelanjutan dilakukan untuk menghindari kejutan geologis yang mungkin terjadi, terutama mengingat jumlah pengunjung ke Gunung Kelimutu yang cukup tinggi setiap tahun. Selain itu, tim teknis terus mengumpulkan data untuk membandingkan tren suhu danau dengan kondisi historis.

Rekomendasi untuk Pengunjung dan Pemangku Kepentingan

Karena potensi perubahan kondisi geologis di Gunung Kelimutu, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk menjaga keselamatan publik. Para wisatawan diimbau untuk mengikuti arahan petugas di lapangan, menghindari pendekatan terlalu dekat ke tepi kawah, dan memperhatikan kondisi cuaca serta aktivitas vulkanik yang tercatat. Selain itu, pengelola destinasi wisata diminta untuk memperketat pengawasan terhadap keberadaan pengunjung, terutama di area yang rawan.

Wisatawan juga dianjurkan untuk memperhatikan pemberitahuan terkini melalui media sosial atau pusat informasi Gunung Kelimutu. Selama ini, Gunung Kelimutu menjadi tempat favorit bagi pecinta alam dan penggemar geografi, namun perubahan suhu danau menjadi pertanda bahwa kondisi internal gunung berapi perlu dipantau lebih intensif. “Kami ingin menghindari risiko potensial dengan cara memberikan kejelasan sejak dini,” ujar Lana Saria.

Dalam konteks keamanan, Badan Geologi menekankan bahwa penurunan suhu air di Kawah II adalah indikator pertama yang perlu diambil sebagai peringatan. Meskipun tidak ada kegempaan besar yang tercatat, kondisi suhu dan warna air bisa menjadi pertanda awal dari perubahan aktivitas vulkanik. Dengan demikian, rekomendasi ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan yang mungkin terjadi akibat kurangnya kesadaran pengunjung akan potensi bahaya.

Sejarah dan Populeritas Gunung Kelimutu

Gunung Kelimutu dikenal sebagai salah satu gunung berapi yang paling spektakuler di Indonesia. Namanya berasal dari bahasa lokal, yang berarti “tempat tiga warna”. Tiga danau dengan warna hijau muda, hijau toska, dan hijau tua menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Namun, selama beberapa bulan terakhir, penurunan suhu di Kawah II menjadi perhatian khusus, karena mengubah pola yang sebelumnya dianggap stabil.

Sejak awal tahun 2026, Gunung Kelimutu mengalami beberapa perubahan dalam aktivitasnya, meski masih dalam kategori aman. Penurunan suhu air di Kawah II terjadi secara perlahan, sedangkan tingkat kegempaan tetap terjaga pada angka yang wajar. Fenomena ini menarik minat ilmuwan untuk meneliti lebih lanjut tentang hubungan antara suhu danau serta emisi gas vulkanik di area tersebut.

Karena keterlibatan masyarakat yang signifikan, Badan Geologi mengambil langkah proaktif untuk memastikan bahwa informasi tentang kondisi Gunung Kelimutu disampaikan secara transparan. Selain mengimbau wisatawan untuk tetap waspada, pihak Badan juga bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengoptimalkan sistem pengawasan. Hal ini mencakup pemasangan perangkat pemantau suhu, pengumpulan data dari satelit, serta pengamatan langsung oleh

MORE FROM THIS CATEGORY