Program Terbaru: Perang AS-Israel Bangunkan “Macan Tidur”, Iran-Korut “Bersatu”

Iran dan Korut Perkuat Kemitraan Militer Pasca-Persaingan AS-Israel

Setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai mereda, beberapa ahli mengungkapkan kemungkinan meningkatnya kerja sama militer antara Iran dan Korea Utara. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pengembangan rudal serta teknologi nuklir, menurut laporan yang diterbitkan oleh South China Morning Post (SCMP) pada Senin, 16 Maret 2026.

Kerja Sama Militer yang Dinamis

Analisis menyebutkan bahwa selama perang berlangsung, Pyongyang diduga menyediakan teknologi rudal dan bantuan teknis untuk proyek pengayaan uranium Teheran. Dengan selesainya pertempuran, para ahli memperkirakan hubungan bilateral kedua negara akan semakin erat, terutama dalam pemulihan infrastruktur militer Iran yang rusak.

“Korea Utara dan Iran bisa kembali bekerja sama dalam pengembangan rudal serta pemulihan fasilitas pengayaan uranium, karena Iran membutuhkan kemampuan untuk menanggapi serangan dengan kekuatan besar,” ujar Cho Han-bum, ahli senior dari Korea Institute for National Security (KINU).

Latihan militer gabungan Korea Selatan dan AS, Freedom Shield, yang dijadwalkan dimulai 19 Maret, memicu peringatan dari Kim Yo-jong, adik perempuan Kim Jong-un. Ia mengatakan bahwa uji coba rudal strategis Korut baru-baru ini menunjukkan kemajuan signifikan, sekaligus mengingatkan risiko konflik global jika latihan tersebut dilanjutkan.

Dukungan Korut untuk Iran

Di tengah ketegangan, Korut juga menyatakan dukungan terhadap pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Pernyataan ini dilayangkan melalui Korean Central News Agency (KCNA), yang menegaskan penghormatan terhadap keputusan rakyat Iran.

“Kami menghormati hak rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka,” tulis Kementerian Luar Negeri Korut.

Sebelumnya, Korut mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran, menyebut tindakan tersebut merusak fondasi perdamaian dan keamanan kawasan. “Tindakan agresi Amerika Serikat dan Israel menghancurkan stabilitas global serta memperburuk ketidakstabilan wilayah,” tambah pihak berwenang Korut.

READ  Rencana Khusus: Krisis Energi Mulai Cekik Eropa, Putin Tawarkan Diri Jadi Juru Selamat

Peluncuran Rudal Korut dan Konteks Sejarah

Kim Jong-un baru-baru ini mengawasi uji coba rudal strategis dari kapal perusak milik Korut, yang dilakukan bersamaan dengan latihan militer gabungan AS-Korsel. Ia menyatakan kekuatan nuklir Korut telah memasuki tahap baru, terutama dalam kemampuan menangkal serangan.

Hubungan militer antara Iran dan Korut sebenarnya sudah terjalin sejak 1973, saat kedua negara membangun hubungan diplomatik. Di masa Perang Iran-Irak 1980-an, Korut memasok rudal Scud-B dan Scud-C kepada Iran. Pada dekade 1990-an, program rudal Iran seperti Shahab dianggap mengadopsi teknologi dari rudal Nodong Korut.

Kemitraan Terus Berjalan Meski Dihadapkan Sanksi

Menurut Oh Gyeong-seob, peneliti senior KINU, kerja sama ini mungkin masih berlangsung secara rahasia. “Karena sanksi internasional, Iran hampir tidak punya pilihan selain mengandalkan Korut dan Rusia untuk mendapatkan senjata,” katanya. “Bahkan dengan larangan menjual teknologi, Korut tetap menjadi mitra utama Iran dalam pengembangan rudal dan nuklir,” tambahnya.

Di sisi lain, Iran juga melakukan uji coba nuklir lagi setelah meluncurkan sekitar 10 rudal balistik. Uji coba kemarin melibatkan 12 peluncur roket multipel ultra-presisi kaliber 600mm dan dua kompi artileri, menurut AFP, Minggu.