Pompong Tenggelam di Pelabuhan Tanjung Buton – 3 Orang Hilang, 1 Ditemukan Tewas

4 minggu ago  ·  4 min read
By John Hernandez - pesonatropis.com
7873e6d9-bd48-4dae-aaf4-3a6145727b7d-0

Pompong Tenggelam di Pelabuhan Tanjung Buton, 3 Orang Hilang, 1 Ditemukan Tewas

Detik-detik Kecelakaan di Laut

Pesonatropis.com – Pada dini hari Selasa, 7 Juli 2026, sebuah kapal pompong tergelincir di kawasan pelabuhan Tanjung Buton, Desa Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 00.00 WIB, saat kapal tersebut sedang beroperasi. Menurut laporan dari Perusahaan Pelayaran Tujuh Samudra, kapal pompong tersebut tengah melakukan pemeriksaan draft survei di kapal MV HIMALA. Namun, saat berada di lokasi, kapal itu diduga terseret arus yang cukup kuat, hingga masuk ke bawah kapal tongkang yang sedang bersandar di sisi MV HIMALA.

“Akibat arus yang cukup kuat, kapal pompong terseret ke bawah kapal tongkang hingga menyebabkan kapal tenggelam,” kata Budi Cahyadi, Kepala Kantor Basarnas Pekanbaru.

Kecelakaan ini mengakibatkan tiga orang hilang dan masih dalam pencarian tim SAR. Satu korban ditemukan tewas, sementara dua orang lainnya belum ditemukan. Tim penyelamatan langsung bergerak setelah menerima laporan dari perusahaan pelayaran. Budi Cahyadi menjelaskan bahwa Basarnas Pekanbaru telah mengirimkan 10 personel ke lokasi kejadian untuk melakukan operasi penyelaman dan pencarian.

Kondisi di Lokasi Kecelakaan

Lokasi kecelakaan berjarak sekitar 103 kilometer dari Kantor SAR Pekanbaru. Cuaca saat itu berangin kencang, dengan ombak yang cukup besar, memperburuk situasi. Menurut informasi awal, kapal pompong yang tenggelam merupakan bagian dari operasi pemeriksaan untuk survei laut, yang sering dilakukan oleh pihak pelayaran untuk mengevaluasi kondisi laut sebelum melakukan aktivitas lain. Namun, arus yang tak terduga menghambat rencana tersebut.

Kapal tongkang yang berada di sisi MV HIMALA tampak menjadi penyebab utama kecelakaan. Kapal tersebut sedang berlabuh, sehingga membuatnya menjadi “sasaran” bagi pompong yang terseret. Budi Cahyadi menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan risiko yang mungkin terjadi di area pelabuhan yang sering dipakai oleh kapal-kapal besar dan kecil. “Kita perlu memastikan bahwa arus dan kondisi laut dipantau secara ketat sebelum kapal berlayar,” tambahnya.

Proses Pencarian dan Penyelamatan

Setelah kejadian, tim SAR langsung melakukan operasi penyelaman. Mereka menggunakan perahu karet dan alat bantu seperti sonar untuk mencari korban yang terseret ke dasar laut. Dalam beberapa jam, satu korban berhasil ditemukan dan dinyatakan tewas. Namun, dua orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Budi Cahyadi menyampaikan bahwa pencarian terus dilakukan dengan dukungan dari nelayan setempat yang turut serta membantu.

Kapal pompong yang tenggelam memiliki ukuran kecil, dengan daya tampung sekitar 20 penumpang. Meski demikian, kecelakaan ini mengakibatkan tiga orang hilang karena kondisi laut yang tidak menentu. Informasi lebih lanjut menyebutkan bahwa kapal tersebut berangkat dari lokasi pemeriksaan survei menuju titik pendaratan di pelabuhan Tanjung Buton. Namun, perjalanan singkatnya berakhir dengan tragis.

Dampak dan Peringatan

Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran di daerah tersebut. Pihak Basarnas mengimbau para nelayan dan pengemudi kapal kecil untuk memperhatikan kondisi cuaca sebelum berangkat. “Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko arus dan ombak yang kuat, terutama di area pelabuhan,” ujar Budi Cahyadi. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan alat pelampung dan pengawasan selama operasi pelayaran.

Menurut sumber di lokasi, kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, tetapi tidak seberat ini. Dalam dua bulan terakhir, telah ada dua kecelakaan serupa di wilayah Siak, yang menyebabkan korban jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada faktor-faktor tertentu yang memicu kejadian tersebut, seperti alur laut yang kompleks atau kurangnya pemeriksaan terhadap kekuatan arus.

Penyebab Potensial dan Langkah Selanjutnya

Sementara itu, penyebab pasti kecelakaan ini masih dalam penyelidikan. Tim Basarnas bekerja sama dengan pihak pelayaran Tujuh Samudra untuk mengecek rekaman operasi kapal pompong tersebut. “Kita akan melihat apakah ada kesalahan operasi atau faktor alam yang menjadi penyebab utamanya,” jelas Budi Cahyadi. Ia juga menyarankan pihak pelayaran untuk memperbaiki rute dan menjadwalkan operasi lebih hati-hati.

Di sisi lain, masyarakat setempat mengecam kejadian ini karena menimbulkan kerugian besar. Beberapa nelayan menyatakan bahwa pelabuhan Tanjung Buton sering menjadi jalur lintas kapal, termasuk yang berukuran kecil. Meski kapal pompong memiliki kemampuan navigasi yang baik, arus yang tiba-tiba bisa mengubah kondisi menjadi kritis. “Kita berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak,” ujar salah satu warga, yang meminta peningkatan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca.

Sebagai langkah pencegahan, Basarnas Pekanbaru telah mengadakan rapat evaluasi bersama para pelaku pelayaran dan pihak terkait. Mereka berencana memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di wilayah tersebut, termasuk melakukan inspeksi rutin untuk mencegah kejadian serupa. “Kita juga akan menambahkan titik pengawasan di area pelabuhan untuk memantau kondisi laut secara real-time,” kata Budi Cahyadi.

Kecelakaan ini mengingatkan kembali tentang pentingnya kesadaran keselamatan di laut. Meski belum ada angka pasti korban, tiga orang yang hilang bisa menjadi indikasi bahwa masih ada titik lemah dalam operasi pelayaran. Pihak Basarnas berharap, dengan langkah-langkah yang diambil, kecelakaan serupa bisa diminimalkan di masa depan.

Selain itu, para pelaku pelayaran juga dianjurkan untuk mengadakan pelatihan keselamatan bagi awak kapal dan penumpang. “Jika semua pihak bekerja sama, kecelakaan seperti ini bisa dicegah,” ujar Budi Cahyadi. Ia juga meminta masyarakat untuk melaporkan kondisi cuaca atau arus yang tidak biasa, agar bisa diantisipasi lebih awal.

Dengan kejadian ini, pelabuhan Tanjung Buton menjadi sorotan. Lokasi tersebut sering menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari berbagai daerah, sehingga perlu dipastikan bahwa sistem keselamatan di tempat tersebut cukup memadai. Para ahli pelayaran menilai bahwa peningkatan kualitas pelatihan dan peralatan bagi nelayan lokal sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kecelakaan di masa depan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

MORE FROM THIS CATEGORY