Perjuangan Arbani Yasiz Demi 402 Rumah Sakit Angker Korea

4 minggu ago  ·  4 min read
By William Garcia - pesonatropis.com
037a4158-b29e-4173-ac49-c3ec2d5d6484-0

Perjuangan Arbani Yasiz Demi 402 Rumah Sakit Angker Korea

Pesonatropis.com – JAKARTA – Aktor kondang Arbani Yasiz kembali memperlihatkan bakat aktingnya dalam film horor terbaru yang berjudul 402 Rumah Sakit Angker Korea. Proyek ini menandai kolaborasi pertamanya dengan genre film yang berbeda dari biasanya, namun ia menilai tantangan ini justru memperkaya pengalaman kreatifnya. Film tersebut merupakan adaptasi dari karya horor Korea yang terkenal, Gonjiam: Haunted Asylum, yang memperlihatkan konflik antara dunia nyata dan dunia maya melalui perspektif seorang kreator konten.

Persiapan Mendalami Karakter Juna

Arbani Yasiz mengungkap bahwa untuk memainkan peran sebagai Juna, seorang kreator konten yang menjadi pusat cerita, ia melakukan berbagai penelitian intensif. Ia menyebutkan bahwa dialog dan tindakan Juna sangat terkait erat dengan realitas para pengusaha konten di media sosial. “Saya harus memahami bagaimana orang-orang di dunia nyata menghadapi tekanan dari jumlah views dan reaksi penonton,” jelasnya. Proses ini juga melibatkan konsultasi dengan dua rekan sejawat, Saputra Kori dan Jang Hansol, yang memang aktif sebagai content creator di industri kreatif.

“Kalau proses kreatifnya untungnya di sini saya punya teman baru Kori dan juga Jang Hansol yang memang dia berasal dari influencer dan YouTubers, konten kreator,” kata Arbani Yasiz di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (6/7). Ia mengatakan bahwa pertemuan dengan kedua sosok tersebut membantu memperkaya karakter Juna, terutama dalam menangkap dinamika persaingan di dunia digital.

Arbani juga menggali latar belakang kisah Juna, yang dikisahkan sebagai seorang yang mungkin terlalu tergantung pada popularitas online. “Saya ingin memastikan bahwa sifatnya sejalan dengan konflik yang ada dalam film, seperti bagaimana kebutuhan untuk mendapatkan likes dan subscriber bisa memengaruhi keputusan seseorang,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa karakter ini memperlihatkan sisi gelap dari profesi yang ia ketahui secara pribadi.

Penyesuaian Cerita dengan Nuansa Lokal

Konsep 402 Rumah Sakit Angker Korea dirancang dengan menambahkan elemen lokal yang relevan, meski tetap mempertahankan inti kisah horor dari adaptasi aslinya. Arbani Yasiz menyatakan bahwa film ini tidak hanya menggambarkan perang antara kehidupan nyata dan dunia digital, tetapi juga mengkritik sistem industri yang memprioritaskan data dan penonton. “Cerita ini sangat relevan karena banyak orang di Indonesia, termasuk saya, yang merasakan dampak langsung dari media sosial,” ujarnya.

Arbani menekankan bahwa pemerannya sebagai Juna menggambarkan ketegangan antara ambisi dan kehilangan. Ia mengatakan bahwa setiap adegan dalam film dibuat dengan mempertimbangkan pengalaman nyata kreator konten, seperti bagaimana kecanduan akan halaman penonton bisa mengubah cara seseorang memandang dunia. “Saya merasa kisah Juna sebenarnya adalah metafora tentang kehidupan kita, khususnya di era digital yang serba cepat dan instan,” tambahnya.

“Jadi, saya juga banyak nanya sama mereka bagaimana sih views tuh atau konten tuh seberpengaruh apa sih kenapa harus dikejar sebegitunya begitu lho. Kenapa enggak ada cara-cara lain atau kayak apa yang dilakukan Juna ini di real life tuh bisa terjadi enggak sih?,” beber Arbani Yasiz. Pertanyaan-pertanyaan ini membantu ia menemukan keseimbangan antara peran dan dunia nyata, serta memperkaya kemampuan aktingnya.

Menurut Arbani, peran Juna meminta perhatian khusus karena harus mencerminkan dua sisi yang berlawanan: seorang yang bekerja keras untuk kesuksesan, tetapi juga terjebak dalam kecemasan. “Saya merasa karakter ini seperti seseorang yang terus berusaha, tapi akhirnya kehilangan semangat karena terlalu mengejar hal-hal yang tidak penting,” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa proses pemerannya melibatkan keinginan untuk menunjukkan bahwa dunia kreator konten bisa menjadi sumber inspirasi maupun kekacauan.

Konflik dan Momen Menegangkan dalam Film

Menyusun film horor membutuhkan konsistensi dalam menampilkan atmosfer menegangkan, dan Arbani Yasiz merasa bahwa 402 Rumah Sakit Angker Korea berhasil mencapai hal tersebut. Ia mengatakan bahwa ada adegan-adegan yang ia lalui dengan banyak keringat, terutama saat menangkap ekspresi Juna yang mungkin mengalami perubahan emosi drastis. “Saya harus memastikan bahwa setiap detail dalam film bisa membuat penonton merasa nyaman, tetapi juga takut,” katanya.

Arbani juga menyoroti bagaimana film ini menggabungkan elemen horor tradisional dengan nuansa kontemporer. “Dunia rumah sakit yang menjadi setting film ini tidak hanya dihiasi oleh hantu, tetapi juga oleh konflik antara berbagai pihak, termasuk pembuat konten dan penonton,” ujarnya. Ia berharap penonton bisa merasakan bahwa film ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga memicu refleksi tentang dunia digital yang semakin dominan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya juga ingin menunjukkan bahwa kreator konten bukan hanya seorang yang menciptakan hiburan, tapi juga mungkin menjadi korban dari sistem yang mereka bantu membangun,” tambah Arbani. Ia menilai bahwa peran Juna menjadi cerminan dari tantangan yang dihadapi banyak orang dalam menjalani bisnis kreatif.

Dalam rangka memperkuat kisah ini, Arbani Yasiz menekankan bahwa ia dan tim produksi bekerja sama untuk menciptakan suasana yang konsisten. “Kami memastikan bahwa semua adegan, baik yang menegangkan maupun yang menenangkan, memiliki alur yang logis dan bisa membuat penonton terlibat,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa film ini akan menjadi proyek yang bisa diingat dalam karier aktornya, terutama karena menggabungkan genre horor dengan tema yang relevan.

Perjalanan Arbani Yasiz di Dunia Kreatif

Arbani Yasiz berbagi bahwa sebelum memerankan Juna, ia sudah lama mengenal dunia kreator konten melalui proyek-proyek sebelumnya. “Saya pernah menonton berbagai video creator di YouTube dan juga melibatkan diri dalam proyek kreatif bersama orang-orang di industri ini,” katanya. Pengalaman ini membuatnya lebih mudah memahami alur cerita yang dibuat untuk film ini.

Dalam percakapan dengan Saputra Kori dan Jang Hansol, Arbani menemukan banyak hal yang bisa diterapkan ke dalam perannya. “Mereka memberi saya wawasan tentang bagaimana mereka menghadapi tekan

MORE FROM THIS CATEGORY