Kunjungi AFT Ngurah Rai, Komut Pertamina Cek Pasokan Avtur Jelang Penerbangan Meningkat
Latest Program – Denpasar, JPNN.com – Komisaris Utama Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan melakukan inspeksi ke Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai, Bali, pada hari Sabtu (13/6). Tujuan dari kunjungan tersebut adalah memastikan pasokan dan kualitas bahan bakar pesawat tetap stabil, terutama menjelang meningkatnya aktivitas penerbangan di Pulau Dewata selama masa liburan sekolah serta peningkatan jumlah wisatawan. Dalam pernyataannya, Minggu (14/6), Iriawan menjelaskan bahwa ia sengaja mengunjungi AFT untuk mengecek efektivitas prosedur operasional dan memastikan sistem distribusi avtur berjalan optimal.
Peningkatan Mobilitas dan Konektivitas Udara
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mengamankan kebutuhan bahan bakar udara di Bali, yang semakin bertambah seiring permintaan transportasi masyarakat meningkat. Iriawan menekankan bahwa AFT Ngurah Rai memiliki peran kritis dalam menjaga kelancaran operasional bandara, baik untuk kegiatan domestik maupun internasional. “Penyediaan avtur yang andal menjadi fondasi utama bagi kelancaran penerbangan, sehingga warga Bali dapat tetap aktif dalam beraktivitas sehari-hari,” ujarnya.
“Selain itu, ketersediaan bahan bakar yang cukup juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, terutama di sektor pariwisata dan transportasi,” tambah Iriawan.
Menurut laporan, AFT Ngurah Rai merupakan salah satu infrastruktur strategis yang dikelola oleh PT Pertamina Patra Niaga. Fasilitas ini bertugas menyuplai avtur ke seluruh maskapai penerbangan yang melayani Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dengan kapasitas total tangki penyimpanan mencapai 24.300 kiloliter (KL), AFT menjadi penyangga utama pasokan bahan bakar udara di wilayah tersebut.
Analisis Konsumsi Avtur dan Proyeksi Permintaan
Dalam rangka mempersiapkan pasokan avtur, Pertamina melakukan evaluasi terhadap volume konsumsi harian di AFT Ngurah Rai. Saat ini, rata-rata penggunaan avtur mencapai sekitar 1.495 KL per hari. Angka ini diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan menjelang masa liburan sekolah, karena keberadaan AFT berperan sebagai penyedia bahan bakar untuk sekitar 70% kebutuhan penerbangan domestik dan internasional di Bali.
“Peningkatan konsumsi ini perlu diantisipasi dengan perencanaan yang matang, agar tidak terjadi gangguan atau penundaan penerbangan,” kata Iriawan.
Menurut Iriawan, keandalan AFT Ngurah Rai tidak hanya memengaruhi operasional maskapai, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kelancaran pariwisata dan ekonomi daerah. “AFT menjadi penyangga vital untuk memastikan ketersediaan bahan bakar di tiap musim, termasuk saat liburan sekolah dan arus liburan nasional,” ujarnya. Dengan adanya fasilitas ini, Pertamina dapat memenuhi permintaan avtur sekaligus menjaga kualitas bahan bakar yang sesuai standar internasional.
Kunjungan kerja tersebut juga menyoroti pentingnya kordinasi antara Pertamina dan instansi terkait untuk mengoptimalkan distribusi bahan bakar. Iriawan menekankan bahwa tim operasional AFT bergerak dengan sistem yang terstruktur, termasuk pengawasan ketat terhadap proses penyimpanan, pengiriman, dan pengisian avtur. “Kami melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan semua prosedur tetap terjaga, termasuk pengendalian suhu dan tekanan tangki agar tidak ada risiko kebocoran atau penurunan kualitas bahan bakar,” imbuhnya.
Sebagai informasi tambahan, AFT Ngurah Rai dilengkapi dengan teknologi modern yang memungkinkan pengisian bahan bakar pesawat dengan efisiensi tinggi. Fasilitas ini juga terintegrasi dengan sistem tracking digital untuk memantau ketersediaan avtur secara real-time. Dengan demikian, Pertamina dapat merespons kebutuhan penerbangan secara cepat dan akurat, terutama dalam kondisi darurat atau peningkatan volume penerbangan mendadak.
Peran Pertamina dalam Konektivitas Nasional
Pertamina sebagai pelaku utama pemasok avtur di Indonesia, berkomitmen untuk menjaga ketersediaan bahan bakar udara di seluruh wilayah. AFT Ngurah Rai menjadi bagian dari strategi nasional Pertamina untuk memastikan kelancaran transportasi udara, terutama di wilayah yang menjadi pusat pariwisata seperti Bali. “Kami percaya bahwa fasilitas seperti ini memperkuat jaringan penerbangan nasional dan internasional, serta memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga,” kata Iriawan.
Komut Pertamina juga menyoroti peran AFT dalam mendukung keberlanjutan operasional bandara. Dengan adanya persediaan avtur yang memadai, bandara dapat tetap beroperasi maksimal bahkan pada situasi seperti cuaca buruk atau keadaan darurat. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah memperluas kapasitas penyimpanan di AFT Ngurah Rai, sebagai respons terhadap pertumbuhan jumlah penerbangan dan permintaan bahan bakar yang terus meningkat,” jelasnya.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk meninjau kembali perencanaan pasokan avtur di masa depan. Iriawan menyampaikan bahwa Pertamina sedang menggencarkan kerja sama dengan maskapai penerbangan untuk menyesuaikan volume pengisian bahan bakar dengan kebutuhan aktual. “Kami juga memperhatikan penggunaan bahan bakar secara efisien, agar tidak ada pemborosan dan semua sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal,” tuturnya.
Menurut data terbaru, rata-rata jumlah penerbangan di Bandara Ngurah Rai meningkat 15% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Penambahan ini didorong oleh permintaan wisatawan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia serta peningkatan frekuensi penerbangan internasional. Dengan persediaan avtur yang mencapai 24.300 KL, AFT Ngurah Rai diharapkan dapat menampung permintaan tersebut tanpa ada kekisruhan.
Selain itu, Pertamina juga sedang melakukan evaluasi terhadap keberlanjutan pasokan avtur, termasuk pengembangan sistem pengisian yang lebih modern. Fasilitas ini dikenal memiliki standar operasional yang ketat, dengan pemeriksaan berkala terhadap kualitas avtur dan sistem distribusi. “Kami tidak hanya fokus pada volume, tetapi juga kualitas bahan bakar, karena keselamatan penerbangan sangat bergantung pada hal tersebut,” ujar Iriawan.
Kunjungan kerja ke AFT Ngurah Rai juga menjadi ajang untuk menyampaikan rencana strategis Pertamina dalam meningkatkan kapasitas penyimpanan bahan bakar udara. Dengan menambah jumlah tangki penyimpanan atau memperluas infrastruktur, Pertamina berupaya memastikan kebutuhan bahan bakar tidak terganggu meski dalam kondisi ekstrem. “Fasilitas
