Kepsek Bersaksi di MK: Gaji PNS, PPPK, dan Honorer Tetap Lancar meski Ada Program MBG

1 bulan ago  ·  3 min read
By Jennifer Miller - pesonatropis.com
f95bd648-c3fa-4d0f-b860-1970ba725cf5-0

MAHKAMAH KONSTITUSI SIDANG UJI MATERIIL UU APBN 2026 MENGENAI PEMASUKAN PROGRAM MBG KE ANGGARAN PENDIDIKAN

Pesonatropis.com – Sejumlah hari terakhir, Mahkamah Konstitusi (MK) melangsungkan sidang pengujian materiil terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Isu yang menjadi perdebatan utama adalah pengalihan dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam anggaran pendidikan. Pemerintah menunjukkan seorang saksi kunci dalam persidangan, yakni Kepala Sekolah SMP Negeri 34 Bekasi, Jawa Barat, Ari Purnama, untuk menjelaskan dampak nyata program tersebut terhadap proses belajar mengajar di sekolah.

PERSIAPAN PROGRAM MBG DITINJAU ULANG

Sidang yang digelar di Jakarta, Rabu (1/7), menjadi momen penting bagi pihak pemerintah dalam mempertahankan kebijakan MBG. Ari Purnama, yang hadir sebagai saksi, menyampaikan bahwa program ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas pembelajaran di sekolahnya. Meski dianggap sebagai bagian dari anggaran pendidikan, MBG tetap dianggap sebagai inisiatif yang menguntungkan siswa, terutama di tengah dinamika pengelolaan keuangan negara.

“Yang Mulia, izinkan saya menyampaikan bahwa program MBG memberikan manfaat nyata bagi peserta didik di sekolah kami,” ujar Ari Purnama dalam kesempatan tersebut.

Ari menjelaskan bahwa setelah program MBG diterapkan, siswa terlihat lebih sehat secara fisik dan mental. Ia mengamati perubahan positif dalam pola belajar siswa, khususnya setelah mereka menerima makan siang yang lengkap. “Para siswa terlihat lebih fokus dan aktif mengikuti pembelajaran setelah makan siang bersama, serta berkurangnya jumlah siswa yang mengantuk dan lemas pada siang hari,” lanjutnya dalam kesaksian yang mendalam.

PERUBAHAN PERILAKU SISWA DENGAN MBG

Berdasarkan pengamatan Ari, MBG tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan siswa, tetapi juga meningkatkan partisipasi mereka di kelas. Program ini berdampak pada konsentrasi belajar, karena siswa tidak lagi merasa lapar atau lemah di tengah sesi pembelajaran. Kepala sekolah tersebut juga menyebutkan bahwa MBG membantu mengurangi ketergantungan siswa pada camilan yang kurang sehat, sehingga mereka lebih mampu fokus pada tugas-tugas akademik.

“Program MBG mendorong siswa untuk menjaga kesehatan tubuh, yang berujung pada peningkatan produktivitas belajar,” tambah Ari.

Ari Purnama menekankan bahwa pengelolaan program MBG di sekolahnya berjalan lancar, meski ada perubahan struktur anggaran. Ia mengungkapkan bahwa sistem distribusi makanan dirancang agar tidak mengganggu jadwal belajar. “Sekolah kami terus berupaya memastikan program ini tidak menyisakan siswa yang kelaparan, sekaligus meningkatkan kualitas hidangan,” jelasnya. Pengelolaan MBG dilakukan secara terstruktur, mulai dari pembelian bahan baku hingga distribusi di setiap sesi belajar.

KEHADIRAN SISWA MENINGKAT DENGAN MBG

Dalam persidangan, Ari juga menyebutkan bahwa program MBG berkontribusi pada peningkatan jumlah siswa yang hadir. Sejak Agustus 2025, sekolah tersebut secara resmi menerima manfaat dari MBG, yang segera terasa dalam data kehadiran. “Kehadiran siswa menjadi lebih stabil karena mereka merasa lebih berenergi setelah makan siang,” paparnya. Selain itu, Ari mengungkapkan bahwa tingkat keterlambatan siswa juga berkurang, terutama di sesi pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

“Saya melihat kehadiran siswa meningkat secara signifikan. Mereka lebih siap dan antusias mengikuti kegiatan belajar-mengajar,” kata Ari.

Persidangan MK menjadi platform untuk menguji kelayakan program MBG dalam kerangka anggaran pendidikan. Ari Purnama memberikan contoh nyata bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan di SMP Negeri 34 Bekasi. Ia menjelaskan bahwa dana MBG digunakan untuk memastikan setiap siswa menerima makanan bergizi, yang dianggap sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan mereka. “Program ini bukan hanya solusi sementara, tapi bagian dari upaya menyeluruh untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.

DATA PENERIMA MANFAAT MBG

Sebagai bukti, Ari menyebutkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 1.069 siswa di SMP Negeri 34 Bekasi menjadi penerima manfaat dari MBG. Angka tersebut menunjukkan program ini mencakup sekitar 90 persen dari total siswa yang ada di sekolah tersebut. “Saya yakin program ini akan berdampak positif pada perkembangan siswa, terutama di bidang kognitif dan fisik,” pungkas Ari.

Ari juga menyoroti peran sekolah dalam memastikan program MBG berjalan efektif. “Koordinasi antara pihak pemerintah dan sekolah menjadi kunci keberhasilan,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang mendapat makanan, tetapi juga dari perubahan pola hidup dan kebiasaan belajar mereka. “Selama ini, siswa sering kali terlambat makan, sehingga kurang fokus selama proses belajar. MBG mengatasi masalah ini dengan cara yang sederhana namun efektif,” jelas Ari.

Persidangan MK diharapkan memberikan kejelasan terkait alokasi dana MBG dalam APBN 2026. Dengan persaksian Ari Purnama, pihak pemerintah berupaya menunjukkan bahwa program ini tidak merugikan keuangan pendidikan, justru memberikan manfaat yang berkelanjutan. Pengujian materiil UU ini menjadi momentum penting untuk menilai apakah MBG layak terus dipertahankan sebagai bagian dari pendidikan nasional.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

MORE FROM THIS CATEGORY