Bismillah, WNI Muslim di Australia Bangun Masjid Hajjah Yuliana di Bekas Kantor Polisi

1 bulan ago  ·  4 min read
By Jennifer Miller - pesonatropis.com
ee3c6f1f-40b4-4b47-ae63-978a55d8a404-0

Bismillah, WNI Muslim di Australia Bangun Masjid Hajjah Yuliana di Bekas Kantor Polisi

Pesonatropis.com – Melbourne, Australia, menjadi tempat kejadian penting bagi komunitas Muslim Indonesia yang ingin membangun Masjid Hajjah Yuliana. Pembangunan masjid ini dilakukan setelah sejumlah donatur dan wakif masyarakat Indonesia berhasil mengumpulkan dana untuk membeli properti bekas kantor polisi. Pada Sabtu (27/6/2026), acara peletakan batu pertama diadakan, diikuti oleh pengajian akbar yang menandai langkah awal pembangunan. Lokasi masjid ini berada di wilayah Victoria, khususnya di area yang sebelumnya digunakan sebagai tempat kerja lembaga kepolisian.

Kontribusi WNI Muslim dalam Memperkuat Keberagaman

Kehadiran Masjid Hajjah Yuliana menunjukkan komitmen komunitas Indonesia di luar negeri terhadap pengembangan keagamaan dan kebudayaan. Masyarakat Indonesia yang tinggal di Melbourne berusaha gotong royong untuk mengubah bekas kantor polisi menjadi tempat ibadah yang berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial. Proses pembelian properti melibatkan kerja sama intensif dari berbagai pihak, termasuk organisasi keagamaan, pengusaha, dan warga yang peduli pada keberlanjutan komunitas Muslim di sana.

Properti yang digunakan sebagai lokasi masjid sebelumnya dihiasi sejarah kepolisian. Namun, dengan pengorbanan kolektif, tempat tersebut kini bertransformasi menjadi simbol keberagaman dan kebersamaan. Pembangunan ini menunjukkan bahwa warga Indonesia di Australia tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga berkontribusi pada penguatan jaringan sosial dan spiritual. Masjid ini diharapkan menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan yang memperkaya kehidupan komunitas Muslim di sana.

Nama Hajjah Yuliana sebagai Penghargaan

Penamaan Masjid Hajjah Yuliana diambil sebagai penghargaan atas peran penting seorang perempuan Minang bernama Yuliana. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam perjalanan spiritual dan sosial komunitas Indonesia di Australia. Putra Yuliana, H. Yendra Fahmi, dikenal sebagai pengusaha sukses serta tokoh filantropi yang aktif dalam mendukung berbagai proyek sosial dan keagamaan. Kehadirannya memberikan dampak besar dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan masjid.

Masjid ini juga menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antara warga Indonesia di Melbourne dan pihak lokal. Sejumlah donatur yang tergabung dalam program bantuan keagamaan berperan aktif dalam mendanai proyek ini. Proses pembelian properti memakan waktu lama, dengan berbagai diskusi dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang memenuhi kebutuhan komunitas. Pembangunan yang dijalankan secara bertahap ini juga menunjukkan kehati-hatian dalam pengelolaan dana dan kepastian penggunaan lahan.

JK sebagai Simbol Keterlibatan Nasional

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, M. Jusuf Kalla, hadir dalam acara peletakan batu pertama. Ia menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya masjid dalam memperkuat kebersamaan dan kemitraan antarumat beragama. Dalam

“Fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan pengembangan masyarakat. Di Australia, masjid menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan antara komunitas Indonesia dan negara-negara lain.”

Pidato tersebut menggambarkan visi Jusuf Kalla dalam mendukung keberadaan rumah ibadah di luar negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial.

Kehadiran JK juga menunjukkan peran aktif tokoh nasional dalam mendukung kegiatan komunitas. Ia memberikan apresiasi atas semangat gotong royong masyarakat Indonesia di perantauan yang berhasil mengubah bekas kantor polisi menjadi tempat ibadah. Menurutnya, masjid seperti ini mampu menjadi pengingat akan keberagaman budaya dan agama yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat global.

Harapan untuk Pemberdayaan Umat Muslim

Masjid Hajjah Yuliana diharapkan menjadi pusat kegiatan yang lebih luas, selain sebagai tempat shalat. Fungsi ini mencakup pendidikan agama, kegiatan sosial, dan ruang untuk pertukaran budaya antara komunitas Indonesia dan warga Australia. Dengan dukungan dari berbagai pihak, pembangunan ini dianggap sebagai bentuk penguatan identitas Muslim di tengah lingkungan yang beragam.

Pembinaan umat dan pemberdayaan masyarakat juga menjadi fokus utama dari proyek ini. Jusuf Kalla menekankan bahwa masjid bukan sekadar bangunan, tetapi juga menjadi alat untuk membangun kesadaran akan pentingnya kerja sama dan kebersamaan. Ia menilai bahwa Masjid Hajjah Yuliana bisa menjadi contoh baik dalam memperkuat komunitas Muslim di Melbourne dan seluruh Victoria.

Proses Gotong Royong dan Keterlibatan Filantropi

Kehadiran H. Yendra Fahmi sebagai pengusaha dan filantropi menambah daya tarik proyek ini. Ia berperan dalam menyediakan dana dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memulai pembangunan. Proses ini juga melibatkan peran aktif dari sejumlah lembaga dan individu yang ingin memberikan kontribusi bagi pengembangan keagamaan. Dengan kerja sama yang saling menguntungkan, masjid ini bisa menjadi pusat kegiatan yang berdampak jangka panjang.

Proyek pembangunan Masjid Hajjah Yuliana juga menjadi simbol harapan bahwa keberagaman budaya di Australia bisa terus berkembang. Keberadaan masjid ini di bekas kantor polisi menunjukkan bagaimana tempat yang sebelumnya terlihat berbeda bisa menjadi bagian dari kehidupan sosial yang lebih harmonis. Ia diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual umat Muslim, tetapi juga menjadi pusat kreativitas dan inisiatif lokal yang mendukung keberlanjutan komunitas.

Konten Lain dari JPNN.com

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News untuk mengetahui lebih banyak tentang perkembangan keagamaan dan budaya masyarakat Indonesia di luar negeri. Proyek ini menunjukkan bahwa warga Indonesia di Australia mampu menciptakan ruang yang nyaman dan bermakna bagi perayaan keimanan mereka. Masjid Hajjah Yuliana menjadi bukti bahwa komunitas Muslim bisa berkontribusi secara aktif dalam pembangunan sosial dan keagamaan di wilayah yang mereka huni.

Dengan pembangunan ini, diharapkan masyarakat Muslim di Melbourne bisa memiliki tempat yang lebih lengkap untuk melaksanakan ibadah dan berbagai kegiatan keagamaan. Selain itu, masjid ini diharapkan menjadi ajang untuk memperkaya interaksi antarumat beragama, serta memperkuat persaudaraan dan kerja sama dalam lingkungan yang beragam. Proses gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di Australia juga menjadi contoh bagaimana peran individu dan kelompok bisa menyatu dalam satu tujuan.

Kehadiran Masjid Hajjah Yuliana juga menandai langkah awal dalam pengembangan infrastruktur keagamaan yang lebih luas. Pembangunan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk kegiatan berkelanjutan di masa depan. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, masjid ini bisa menjadi bagian penting dari peradaban keagamaan di Australia.

MORE FROM THIS CATEGORY