Polisi Sebut Kericuhan di Grahadi Ulah Perusuh, Bukan Pendemo

1 bulan ago  ·  3 min read
By Nancy Garcia - pesonatropis.com
a1b91c9f-eb79-4a3d-bb5e-1d9e8495ecc9-0

Polisi Pastikan Kericuhan di Grahadi Disebabkan oleh Perusuh, Bukan Peserta Demonstrasi

Pesonatropis.com – Jatim.jpnn.com, Surabaya – Kombes Luthfie Sulistiyawan, Kapolrestabes Surabaya, menyatakan bahwa aksi kericuhan di depan Gedung Negara Grahadi pada Jumat, 26 Juni, berasal dari kelompok perusuh, bukan dari peserta unjuk rasa. Menurut laporan yang diberikan oleh Luthfie, seluruh tersangka dalam kejadian tersebut merupakan individu yang bekerja di sektor swasta, dan tidak tergolong dalam kelompok yang mengikuti aksi demonstrasi. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak mencerminkan tujuan utama dari unjuk rasa, yakni menyampaikan aspirasi secara terorganisir.

Peran Media Sosial dalam Memicu Kericuhan

Dalam wawancara dengan media, Luthfie mengungkapkan bahwa media sosial menjadi salah satu faktor penyebab peningkatan keterlibatan masyarakat di lokasi. Ia menyoroti adanya ajakan yang disebarkan melalui platform digital, seperti Facebook dan Instagram, untuk berkumpul di Grahadi sambil bermain bola. “Ada ajakan,

‘Ayo main bola, sekalian lihat demo.’

Nah, ini tersangka tertarik lalu kemudian datang ke lokasi,” kata Luthfie. Dengan kata lain, aksi tersebut tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan pesan politik, tetapi juga dipicu oleh ajakan yang memadukan kegiatan olahraga dengan aktivitas demonstrasi.

Kondisi Saat Aksi Berlangsung

Menurut Luthfie, kejadian kericuhan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, yaitu di luar jam kerja yang biasanya digunakan untuk aksi demonstrasi. Karena waktu tersebut tidak sesuai dengan rencana kegiatan yang teratur, petugas kepolisian mengalami kesulitan menemui pejabat pemerintah untuk mendengarkan aspirasi. “Maka dari itu, tidak ada lagi pejabat yang dapat ditemui untuk menyampaikan tuntutan,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa aksi yang terjadi tidak memenuhi syarat kegiatan demonstrasi yang biasanya dilakukan secara terstruktur.

Peristiwa tersebut memicu reaksi cepat dari pihak kepolisian. Luthfie menjelaskan bahwa petugas sudah memberikan imbauan persuasif kepada massa sejak awal aksi. Namun, situasi semakin memburuk ketika sebagian orang memulai tindakan provokasi, termasuk melempari batu ke arah petugas dan memblayer sepeda motor. Tindakan-tindakan tersebut memicu perkelahian yang lebih intens, sehingga memperumit proses penanganan oleh pihak berwenang.

Identifikasi Pelaku dari Bukti CCTV

Untuk memperjelas sumber kejadian, polisi menampilkan bukti dari rekaman kamera pengintai (CCTV) dan video yang telah dikumpulkan penyidik. Dari hasil analisis, terlihat adanya kelompok yang mengenakan pakaian seragam berupa hoodie, penutup kepala, dan masker. “Para tersangka memakai pakaian tertutup, sehingga sulit mengenali wajah mereka secara langsung,” ujar Luthfie. Hal ini menunjukkan bahwa para perusuh sengaja menutupi identitas diri agar tidak terdeteksi sejak awal.

Luthfie menambahkan bahwa kejadian kericuhan berlangsung tanpa koordinasi atau kesepakatan sebelumnya antara peserta aksi. “Para perusuh datang dengan tujuan langsung memicu ketegangan,” kata Luthfie. Dalam peristiwa tersebut, kepolisian tidak menemukan bukti bahwa peserta aksi tersebut memiliki agenda politik tertentu. Justru, mereka terlihat hanya ingin memperumit suasana di Grahadi untuk memicu reaksi masyarakat.

Upaya Pihak Kepolisian untuk Membubarkan Massa

Menurut Luthfie, petugas kepolisian sudah memperhatikan tindakan massa sejak awal. Mereka sempat memberikan peringatan agar demonstran dapat membubarkan diri setelah mencapai batas waktu yang telah disepakati. Namun, aksi kericuhan terjadi ketika sekelompok orang mengambil inisiatif untuk mengganggu ketertiban. “Massa terlihat tidak memperhatikan himbauan, sehingga langsung memulai provokasi,” ujarnya.

Kombes Luthfie Sulistiyawan juga menyatakan bahwa situasi menjadi lebih kritis setelah para perusuh mulai menyerang petugas. Tindakan melempari batu dan memblayer sepeda motor menunjukkan intensitas konflik yang meningkat. “Penggunaan senjata tajam dan alat transportasi untuk mengganggu keamanan menunjukkan bahwa para pelaku tidak hanya ingin mengikuti aksi, tetapi juga menciptakan kekacauan,” imbuhnya. Pihak kepolisian pun terpaksa menangani kejadian tersebut dengan tindakan tegas, karena situasi tidak bisa dikendalikan dengan cara persuasif saja.

Penjelasan Tentang Identitas Pelaku

Luthfie menegaskan bahwa seluruh tersangka dalam kejadian tersebut tidak tergolong sebagai peserta aksi unjuk rasa. “Semua orang yang terlibat adalah swasta dan tidak terkait dengan organisasi demonstrasi,” katanya. Ini berarti, para perusuh tidak memiliki hubungan formal dengan kelompok-kelompok yang biasanya melakukan aksi demonstrasi. Mereka datang secara spontan, kemungkinan dengan insinyur dari luar.

Menurut informasi yang diperoleh, para pelaku kejadian tersebut sudah direkrut sebelumnya oleh pihak tertentu untuk memicu kericuhan. Mereka memiliki rencana untuk menyerang petugas dan memanfaatkan situasi di Grahadi untuk menciptakan kekacauan. “Kita menemukan indikasi bahwa kejadian tersebut merupakan hasil dari kerja sama antara kelompok yang terorganisir dan individu-individu yang ingin membuat

MORE FROM THIS CATEGORY