Pemeriksaan Suspek TBC di Surabaya Capai 71,54 Persen
Pemeriksaan Suspek TBC di Surabaya Capai 71 – Kota Surabaya terus berupaya meningkatkan deteksi dini penyakit tuberkulosis (TBC) melalui program tracing dan screening yang dilakukan secara rutin di berbagai area. Dikutip dari laman jatim.jpnn.com, upaya ini telah mencapai progres signifikan hingga Mei 2026, dengan capaian pemeriksaan suspek TBC mencapai 71,54 persen dari target yang ditetapkan. Angka ini menunjukkan intensifikasi pemerintah kota dalam memutus penyebaran TBC melalui kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kebijakan Tracing dan Screening untuk Penanganan TBC
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa tracing dan screening menjadi strategi utama dalam mengendalikan TBC. “Kami melakukan tracing dan screening secara berkala di lima area prioritas,” ujarnya dalam wawancara pada Rabu (10/6). Tracing fokus pada individu yang berpotensi terpapar TBC, seperti keluarga atau teman dekat pasien. Sementara screening bertujuan mengidentifikasi masyarakat umum yang belum menunjukkan gejala atau memiliki riwayat kontak dengan penderita.
“Kami punya kegiatan untuk tracing dan screening. Di Surabaya ini ada lima area yang setiap minggu dilakukan kegiatan tersebut,” kata dr Billy.
Dinkes Surabaya mencatat bahwa selama Januari hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 dari 61.624 target suspek TBC telah menjalani pemeriksaan. Capaian ini mencerminkan kemajuan dalam pelaksanaan program, meski masih ada 17.536 orang yang belum diperiksa. Selain itu, screening juga berhasil menjangkau 644.201 penduduk, yang mencakup 45,78 persen dari target 50 persen populasi kota. Angka ini menggambarkan cakupan yang cukup luas, tetapi masih perlu ditingkatkan untuk mencapai ambang 100 persen.
Dari total 11.412 kasus TBC yang diperkirakan ada di Surabaya tahun 2026, 4.191 kasus telah ditemukan melalui upaya tersebut. Perluasan pemeriksaan ini memungkinkan identifikasi lebih dini, sehingga masyarakat dapat segera mendapatkan pengobatan. Dari jumlah yang ditemukan, sebanyak 4.078 kasus tergolong sensitif obat (SO), sementara 113 kasus terdiagnosis resisten obat (RO). Perbedaan jenis kasus ini menunjukkan variasi dalam tingkat keparahan penyakit di kalangan masyarakat.
Menurut dr Billy, kegiatan tracing dan screening tidak hanya mengurangi risiko penyebaran TBC, tetapi juga membantu memahami pola penyebaran penyakit di berbagai wilayah. “Tracing memastikan kita mengenal kontak erat, sementara screening menjangkau orang yang mungkin tidak sadar diri memiliki risiko,” terangnya. Program ini diharapkan mampu mempercepat proses deteksi, terutama di tengah tantangan pandemi yang masih menghiasi sektor kesehatan.
Perspektif Kesehatan Masyarakat dan Target Ke depan
Mengingat TBC masih menjadi penyakit menular yang mengancam, pemerintah Surabaya memandang bahwa kegiatan ini perlu terus ditingkatkan. “Selain cakupan, kita juga perlu memastikan akurasi hasil pemeriksaan,” tambah dr Billy. Dengan memperkuat kemitraan dengan pusat layanan kesehatan dan memperluas area pemeriksaan, Dinkes Surabaya berupaya menekan angka kasus baru dan meningkatkan kualitas data.
Data dari Dinkes Surabaya menunjukkan bahwa kegiatan screening telah mencapai 45,78 persen dari target, meski angka ini bisa ditingkatkan jika semua wilayah diikutsertakan. Menurut dr Billy, peningkatan cakupan akan membantu mengidentifikasi lebih banyak individu yang mungkin terinfeksi tanpa gejala. “Populasi yang belum terjangkau masih banyak, jadi kita perlu meningkatkan koordinasi dan sosialisasi ke masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks ini, keberhasilan 71,54 persen pemeriksaan suspek TBC menunjukkan bahwa Surabaya sedang berada di jalur yang tepat. Namun, angka ini juga mengingatkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. “Kami terus evaluasi dan sesuaikan strategi berdasarkan data yang diperoleh,” katanya.
Keterlibatan Masyarakat dalam Pengendalian TBC
Pemkot Surabaya juga berharap masyarakat aktif dalam mendorong keberhasilan program ini. “Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting agar kegiatan bisa berjalan optimal,” tambah dr Billy. Selain itu, Dinkes Surabaya berencana memperluas metode pemeriksaan, termasuk penggunaan alat seperti rapid test dan tes痰 (sputum) untuk meningkatkan efisiensi.
Program tracing dan screening ini telah menjadi bagian dari upaya nasional menangani TBC, yang ditetapkan sebagai prioritas kesehatan. Dengan menggenjot cakupan pemeriksaan, Surabaya berharap bisa mencapai target nasional sebelum akhir tahun. “Setiap keberhasilan kecil adalah langkah penting untuk keberhasilan besar di masa depan,” pungkas dr Billy.
Kepala Dinkes Surabaya menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjangkau kelompok risiko tinggi, tetapi juga masyarakat luas. “Tujuan kami adalah memastikan setiap individu mendapat kesempatan untuk diperiksa, terlepas dari kondisi mereka saat ini,” tuturnya. Pemkot Surabaya akan terus memantau progres dan menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan setiap wilayah.
Selain angka pemeriksaan, Dinkes Surabaya juga memberikan perhatian khusus pada pengobatan dan penanganan pasien yang telah terdiagnosis. “Setelah ditemukan, pasien harus segera diobati agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain,” tambah dr Billy. Dengan menjamin akses layanan kesehatan, kota ini berupaya memutus siklus penyebaran TBC secara bertahap.
Menurut data terkini, 71,54 persen capaian pemeriksaan suspek TBC menjadi bukti bahwa Surabaya telah melangkah signifikan dalam menghadapi tantangan kesehatan ini. Namun, capaian tersebut harus diiringi dengan komitmen terus-menerus dari seluruh pihak, baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat. “Kami yakin dengan
